nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketika Anak Muda Tergila-gila pada Jam Vintage

Risna Nur Rahayu, Jurnalis · Senin 15 Juli 2019 09:47 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 15 194 2078912 ketika-anak-muda-tergila-gila-pada-jam-vintage-MmozKmZYvF.jpg Para kolektor jam vintage hadiri launching koleksi terbaru Timex (Foto: Risna Nur Rahayu/Okezone)

BAGI mereka, jam tangan tak sekadar penunjuk waktu. Bukan pula perkara fitur maupun harga. Tapi kisah-kisah lama di balik benda tersebut, yang dianggap memiliki nilai seni tinggi.

Puluhan orang berkumpul di salah satu kafe modern di Jalan Senopati, Jakarta Selatan belum lama ini. Rata-rata anak muda. Ada yang mengenakan kaos oblong, bertopi, lengkap dengan sneaker masa kini. Ada pula yang berkemeja menggunakan pantopel. Tak cuma laki-laki, perempuan pun ada.

Mereka adalah peserta raffle Q-Timex 1979 Reissue yang hari itu di-launching. Jam vintage asal Amerika itu jumlahnya terbatas, hanya 8 unit. Di negara asalnya, jam tersebut sudah satu bulan lalu diperkenalkan.

Kolektor jam vintage memang sedang tumbuh di Indonesia. Bukan cuma orang berumur yang memburunya, anak muda juga "doyan". Ini dibuktikan dengan penjualan jam vintage yang laku keras. Dan kebanyakan pembelinya adalah anak muda.

"Anak muda sekarang lebih appriciate terhadap apa yang ada di jaman dulu. Setiap kali launching jam vintage, dalam hitungan menit, langsung habis," ujar Chief Retail Officer The Watch Co, Ezra Satria Kosasih.

Watch Co 

Dari sekian banyak brand jam tangan yang dipasarkan The Watch Co, Timex termasuk yang sering meluncurkan koleksi vintage. Setidaknya hampir 10 koleksi yang diluncurkan oleh perusahaan yang dikelola Ezra.

"Dari semua koleksi itu, paling jumlah seluruhnya 500 unit. Kami bener-bener jaga quantity-nya. Benar-benar dijual kepada kolektor dan watch enthusiast," aku Ezra.

Menyoal anak muda menyukai vintage, Ezra punya pandangan sendiri. Menurutnya, internet dan sosial media punya peran penting. Informasi mengenai jam tangan vintage kini mudah didapat, bahkan sangat detail. Seperti material, ukuran dial, serta cerita di balik jam tersebut. 

Di samping itu, jam vintage punya kisah, entah itu sejarah pemakainya atau sejarah jam itu sendiri. Untuk Q-Timex misalnya, merupakan jam tangan Amerika yang dikeluarkan di tengah Quartz Crisis. Saat itu jam tangan mekanik buatan Swiss tak lagi dilirik, karena jam menggunakan teknologi batrai menawarkan harga 100 kali lipat lebih murah. 

"Nah stori itu yang buat orang tertarik dan enggak bisa dibayar pakai uang. Ada juga jam vintage edisi perang Vietnam misalnya. Bener-bener bentuk jamnya seperti yang dipakai tentara Amerika pada jaman itu," aku Ezra.

Penyebab lainnya, harga jam vintage tak melulu mahal. Meski diakuinya, para kolektor biasanya mengabaikan harga demi bisa memiliki jam yang mereka buru. Untuk jam vintage, The Watch Co menawarkan harga di kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta per unit.

Watch Co 

Dia menegaskan, jam vintage tidak selalu berarti produk lawas. Ada juga yang diproduksi sekarang namun desain, ukuran dan materialnya terbuat dari bahan yang sama persis dengan pendahulunya.

Salah seorang kolektor jam vintage, Danny AW mengaku internet dan sosial media memang memengaruhi pasar jam vintage di Indonesia. Sebagian besar kolektor kini tidak khawatir membeli produk vintage, karena informasi yang didapat melalui internet sudah lengkap. Dengan begitu, calon pembeli bisa mengetahui jam vintage tersebut asli atau palsu.

"Lima tahun lalu rawan banget (jam vintage palsu). Bentuknya persis banget, tapi dalemannya ternyata palsu. Nah sekarang juga masih, tapi terminimalisir karena sudah banyak informasi. Makanya dulu vintage nggak begitu berkembang, karena orang takut itu," ujar Dany.

Danny mengaku memiliki koleksi 10 jam vintage. Alasan pertamanya menyukai vintage karena memang suka dengan barang-barang lama yang kaya nilai seni dan sejarah. Kemudian, dia selalu dibuat kagum dengan kualitas jam vintage.

"Saya itu sering kaget, misalnya jam dibuat tahun 1920an masih bisa hidup sampai sekarang. Jadi kita bertanya-tanya, apa sih yang bikin dia masih bisa hidup? Masih bikin keliatan keren? Dan ketika kita service masih bisa juga. Itu yang bikin wow," akunya.

Danny punya harapan para penyuka jam vintage bisa berkumpul menggelar gathering layaknya komunitas. Sebarannya pun tak cuma di Jakarta, tapi daerah lain di Indonesia. Harapan itu belum bisa teralisasi, karena menurutnya para penyuka jam vintage sebagian besar sungkan menampakkan diri.

"Pengen banget ada komunitas vintage di mana-mana, Jakarta dan kota manapun. Jadi ada gathering seperti komunitas mobil. Bisa kumpul bareng hari Minggu misalnya," harap Danny.

"Penyuka jam vintage itu besar, tapi orang-orangnya humble. Kurang mau memunculkan diri. Karena vintage itu identik mahal, mereka takut dicap sombong. Tapi sebenarnya para penyuka vintage itu, suka pengetahuan," pungkas pria berkacamata tersebut.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini