nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pentingnya Peran Orangtua untuk Cegah Meningkatnya Kasus Remaja Bunuh Diri

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 15 Juli 2019 13:58 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 15 196 2079051 pentingnya-peran-orangtua-untuk-cegah-meningkatnya-kasus-remaja-bunuh-diri-lvFT3dwOdN.jpg Pentingnya peran orangtua cegah remaja bunuh diri (Foto : Usnews)

 Kasus bunuh diri di kalangan remaja semakin banyak terjadi. Berdasarkan hasil penelitian Global School-Based Student Health Survey (GSHS) pada tahun 2015 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan ditemukan 5,2% remaja memiliki ide bunuh diri, 5,5% sudah memiliki rencana bunuh diri, dan 3,9% sudah melakukan percobaan bunuh diri.

Hasil ini didapat setelah pelajar SMP dan SMA dengan jumlah responden mencapai 10.837 siswa diberi pertanyaan seputar bunuh diri. Fakta tersebut tentunya sangat mengejutkan banyak pihak. Ide bunuh diri, ancaman, dan percobaan bunuh diri adalah hal serius yang harus segera ditangani oleh banyak pihak, entah itu sekolah maupun keluarga.

Salah satu caranya adalah melakukan langkah preventif seperti menemukan faktor risiko penyebab bunuh diri pada remaja dan pola pengasuhan. Menurut dokter spesialis kejiwaan, Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ yang baru saja menyelesaikan disertasi berjudul ‘Deteksi Dini Faktor Risiko Ide Bunuh Diri Remaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/ Sederajat di DKI Jakarta’, ada beberapa faktor yang harus diwaspadai.

remaja sedih

Pertama adalah pola pikir abstrak yang menimbulkan perilaku risk-taker. Kedua, transmisi genetik yang dapat menimbukan sifat agresif dan impulsif. Ketiga, memiliki riwayat gangguan jiwa lain. Keempat, lingkungan sosial yang tidak mendukung. Kelima, penyalahgunaan akses internet.

“Beberapa faktor risiko tersebut merupakan alasan remaja memiliki ide bunuh diri,” terang dokter yang akrab disapa Noriyu itu saat dijumpai Okezone dalam sebuah acara di kawasan Depok, Jawa Barat belum lama ini.

Perilaku risk-taker pada remaja membuat mereka lebih memiliki pola pikir abstrak yang membuatnya tertantang untuk mencoba segala hal, termasuk ke arah pola hidup yang tidak baik termasuk usaha bunuh diri.

Pola pikir itu bisa didapatkan remaja dari mana saja. Mulai dari tayangan yang ditonton, informasi di internet, hingga peristiwa yang dilihat secara langsung.

“Dari penelitian saya, saya kaget bahwa serial TV berjudul 13 Reasons Why ternyata bisa menyebabkan angka bunuh diri pada remaja meningkat. Ini artinya semua pihak harus membangun awareness tentang risiko bunuh diri atau menyakiti diri sendiri pada remaja,” ungkap dr Noriyu.

ibu dan anak

Ia menambahkan, remaja mudah sekali untuk tertular yang namanya contagain effect atau copy cat. Mereka bisa meniru tindakan-tindakan yang dianggapnya sebagai tren dan melihat itu sebagai pilihan.

Namun tidak menutup kemungkinan mereka menjadikan tindakan yang berbahaya seperti ide atau usaha bunuh diri untuk mencari perhatian orang lain. Di sinilah pentingnya peran orangtua untuk selalu mengawasi anak-anaknya di tahap tumbuh kembang.

“Orangtua sekarang harus mengikuti perkembangan zaman pola asuh, mereka enggak bisa membatasi pola asuhnya hanya sekadar dari yang diketahui dan itu pola asuh zaman dulu. Mau enggak mau, kalau mau punya anak, orangtua harus siap dengan konsekuensi mengikuti perkembangan zaman pada saat anak dilahirkan dan tumbuh kembang. Cara itu bisa membantu mencegah terjadinya bunuh diri pada remaja," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini