nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Pertama Sekolah, Cerita Haru dari Seorang Ayah yang Anaknya Selalu Ranking 23

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 15 Juli 2019 15:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 15 196 2079111 hari-pertama-sekolah-cerita-haru-dari-seorang-ayah-yang-anaknya-selalu-rangking-23-4MUx7kqzdr.jpg Cerita hari pertama sekolah (Foto: Instagram)

TAGAR hari pertama sekolah tengah ramai di media sosial. Hal ini tidak mengherankan karena memang sebagian besar sekolah memulai tahun ajaran baru 2019/2020 pada hari ini Senin, 15 Juli 2019.

Di awal hari pertama sekolah biasanya banyak anak yang bersemangat untuk pergi sekolah karena mereka akan duduk di tingkat kelas baru, bertemu teman-teman, dan para guru. 

Tak hanya anak-anak yang menyambut awal tahun ajaran baru dengan sukacita, para orangtuanya juga akan sangat senang dan bersemangat mengantar anak mereka ke sekolah. Terutama jika anaknya duduk di tingkat pendidikan baru.

Di balik rasa senang dan semangat itu, tentunya terselip harapan orangtua agar anak mereka bisa menuntut ilmu sebaik-baiknya dan memperoleh nilai yang bagus sebab itu bekal untuk masa depan mereka.

Bahkan tak sedikit orangtua yang berharap anaknya menjadi juara kelas sehingga memaksa mereka untuk belajar keras. Namun cara berbeda diambil oleh seorang ayah bernama Winardi Abu Faqih. Unggahan statusnya di Facebook beberapa waktu lalu sempat viral lantaran ia mengungkapkan prestasi sang anak.

 Viral

Dalam status berjudul “Anakku rangking ke-23…” itu, Winardi mengatakan bila sang anak dijuluki nomor 23. Hal ini dikarenakan dari 25 orang siswa, setiap kenaikan kelas anak perempuannya selalu mendapat rangking ke-23. Sebagai orangtua, Winardi merasa julukan tersebut kurang enak untuk didengar. Namun ia merasa aneh karena sang anak tidak merasa keberatan.

Dalam cerita yang diunggah ulang oleh akun Instagram @twitgram_id, Winardi melanjutkan jika sang anak melontarkan jawaban mengejutkan ketika ditanya tentang jagoan dan cita-citanya dalam sebuah acara kumpul keluarga.

“Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan. Tapi anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan,” tutur Winardi seperti yang Okezone kutip, Senin (15/7/2019).

Anggota keluarga besar pun mendesak anak perempuan Winardi untuk menjawab cita-citanya karena ia satu-satunya yang belum memberikan jawaban. “Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main,” jawab sang anak dalam cerita hari pertama sekolah tersebut.

Kemudian putri kecil itu mengutarakan cita-cita keduanya. “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang,” tambah sang anak.

Jawaban itu membuat semua sanak keluarga saling pandang dan tidak bisa berkata-kata. Sementara ibu sang anak alias istri Winardi hanya bisa mengeluarkan raut muka canggung. Winardi melanjutkan cerita tentang anak perempuannya.

“Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira,” tutur Winardi.

Dia menambahkan jika sang anak seringkali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan, merapikan kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar, atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Anak tersebut sibuk sekali layaknya seorang pengurus rumah tangga cilik.

Namun ketika makan ada sebuah kejadian yang tidak terduga. Dua orang anak laki-laki teman Winardi yang jago Matematika dan Bahasa Inggris bertengkar lantaran berebut kue. Kedua orangtua mereka tidak bisa melerainya. Winardi takjub saat anaknya lah yang berhasil meminta dua anak laki-laki tersebut untuk berdamai. Tak hanya itu, saat anak-anak lain mulai merasa gelisah karena lalu lintas padat, anak perempuannya berhasil membuat guyonan yang membuat semua orang tertawa. Bahkan ia membuat kreasi untuk dari kotak bekas tempat makanan.

“Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas berbentuk hewan masing-masing, dan mereka terlihat begitu gembira,” ujar Winardi.

Setelah kejadian itu, tepatnya sehabis ujian semester, Winardi menerima telepon dari wali kelas anak perempuannya yang kembali mengabarkan jika sang anak ranking 23. Tapi wali kelas itu menceritakan bila ada hal aneh yang terjadi. Sebab dalam sebuah ujian bahasa pada soal tambahan, siswa sekelas memilih anak perempuan Winardi sebagai sosok teman sekelas yang dikagumi.

“Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi. Si wali kelas memberi pujian, ‘Anak bapak ini kalau bertingkah laku terhadap orang benar-benar nomor satu,” kata Winardi.

Mendapat informasi seperti itu, Winardi menggoda anaknya bila kelak ia akan menjadi pahlawan. Namun lagi-lagi sang anak melontarkan jawaban yang tak terduga. Ia mengatakan tidak ingin menjadi pahlawan karena enggan ditepuki oleh orang di pinggir jalan. Dirinya malah mau menjadi orang yang bertepuk di pinggir jalan saja.

“Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, jadi orang-orang hebat, atau orang terkenal. Namun anakku memilih menjadi orang yang tidak ‘terlihat’. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi dialah yang mengokohkan, dialah yang memberi makan dan dialah yang memelihara kehidupan yang lain,” tutur Winardi panjang lebar. Tak lupa ia menyampaikan sebuah pesan.

“Sahabatku, Hidup itu bukan semata-mata untuk menunjukan siapa yang paling penting, siapa yang paling beperan, atau siapa yang paling hebat, tapi sederhana saja, siapa yang paling bermanfaat bagi yang lain..,” tandas Winardi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini