nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelajaran! Gara-Gara Bapak Merokok, Anak Kena Bully

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 16 Juli 2019 16:38 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 15 481 2079123 pelajaran-gara-gara-bapak-merokok-anak-kena-bully-DGew3bebcl.jpg ilustrasi bapak yang suka merokok (Foto: Kat Country)

Nasib seorang bocah Sekolah Dasar (SD) di Desa Buding, Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung mungkin tak seberuntung anak-anak lain pada umumnya.

Bocah SD yang tidak disebutkan namanya ini tidak mau sekolah karena sering diolok-olok oleh teman-temannya. Ia di-bully teman-temannya karena baju seragam yang ia kenakan bolong-bolong terkena percikan abu rokok.

 Mardiani merokok, anak kena bully

Kisah ini diceritakan oleh Mardini yang merupakan ayah dari anak SD tersebut. Cerita kelam anaknya ini ia sampaikan pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Gedung Kementerian Kesehatan, beberapa waktu lalu.

Saat ini Mardini sendiri telah menyadari perbuatannya dan memutuskan untuk berhenti merokok. Ia bercerita mulai merokok di usia 12 tahun. Sejak kejadian pedih menimpa anaknya, ia mulai berhenti merokok.

“Saya pada usia 12 tahun sudah merokok, usai 33 tahun saya mendeklarasikan tidak merokok. Sekarang usia saya 43 tahun. Motivasi saya berhenti merokok karena sudah mengganggu saya dan keluarga saya,” tutur Mardini.

Mardini yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Buding mengaku berhenti merokok bukanlah sebuah hal yang mudah dilakukan. Ia membutuhkan waktu selama 2 tahun untuk membiasakan dirinya lepas dari rokok.

Namun, usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Pada tahun ketiga, ia akhirnya berhasil berhenti merokok. Di saat itu juga ia selalu mensosialisikan stop merokok kepada warganya agar tidak merugikan orang lain yang ada di sekitarnya.

“Saya selaku kepala desa terus mensosalisasikan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sesuai Peraturan Daerah Belitung Timur nomor 16 tahun 2016 tentang KTR. Selain itu, setiap kegiatan saya mensosialisasikan tentang bahaya merokok,” lanjut Mardini.

Tekat Mardini untuk menyebarluaskan stop merokok membuatnya membentuk komunitas Generasi Sehat Tanpa Rokok melalui Bursa Inovasi Desa. Dan ternyata usahanya berhasil membuat orang berhenti merokok.

“Alhamdulilah sekarang berhasil dan sejak 2017 sampai sekarang sudah ada warga yang mendeklarasikan tidak merokok lebih dari 20 orang,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Mardini juga menegaskan tubuh manusia tidak membutuhkan rokok. Hal ini dibuktikan dengan dirinya yang bisa hidup normal tanpa merokok. Ia justru mendapatkan dirinya menjadi lebih sehat dan bisa memiliki usaha setelah berhenti merokok.

Keuntungan tidak merokok telah dirasakan Mardini dan keluarganya secara ekonomi. Ia menceritakan kalau istrinya sering menyisihkan uang perhari sejumlah pengeluaran Mardini untuk membeli rokok.

Ia mengaku setiap hari bisa menghabiskan 3 bungkus rokok, saat itu harga rokok yang sering dibelinya Rp 10 ribu perbungkus. Jadi total uang yang disisihkan oleh istrinya Rp3 0 ribu perhari. Setelah setahun, uang itu terkumpul banyak dan dibelikan bibit kelapa sawit dan karet.

“Alhamdulilah sekarang bibit itu telah menghasilkan uang, bisa nabung untuk anak saya untuk sekolah ke jenjang selanjutnya,” kata Mardini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini