nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Membandingkan Anak dengan Orang Lain Bisa Buat Dia Jadi Tukang Bully Loh!

Agregasi Hellosehat.com, Jurnalis · Rabu 17 Juli 2019 10:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 17 196 2079940 membandingkan-anak-dengan-orang-lain-bisa-buat-dia-jadi-tukang-bully-loh-W0IprqsqpU.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

MARAKNYA berita soal kasus bullydi sekolah tentu membuat orangtua miris mendengarnya. Orangtua pasti tidak ingin buah hatinya menjadi korban ataupun pelaku dari tindakan buruk tersebut.

Tapi, yang banyak dilupakan orangtua adalah mengajarkan anak agar tidak melakukan bullying pada temannya namun, bagaimana cara agar anak tidak melakukan bully ke temannya?

Perilaku bullying terjadi saat anak mengintimidasi teman seusianya yang lebih lemah atau memiliki penampilan berbeda. Ini bisa terjadi karena anak tidak mampu belajar mengelola rasa marah, sakit hati, frustrasi, atau emosi lain yang muncul pada dirinya.

Perilaku bullying terjadi saat anak mengintimidasi teman seusianya yang lebih lemah atau memiliki penampilan berbeda. I

Selain itu, ada kemungkinan anak yang membully temannya dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya yang bersikap agresif.

Orangtua tentu ingin menjauhkan buah hatinya dari sifat membully. Mereka tidak ingin si kecil, baik secara verbal maupun fisik, menyakiti orang lain.

Sebab, jika perilaku ini tidak ditangani, anak akan menjadi sangat agresif dan mengganggu orang lain. Perilaku yang buruk ini, juga menghambat anak untuk menjalin persahabatan dengan teman seusianya.

Perilaku yang buruk ini, juga menghambat anak untuk menjalin persahabatan dengan teman seusianya.

Bila tidak ingin hal tersebut terjadi, berikut ada beberapa cara agar anak tidak membully temannya.


1. Beri tahu anak bahwa itu buruk

Sebagian anak melakukan tindakan bullying pada temannya karena ketidaktahuan. Peran orangtua sangatlah penting untuk memberi tahu anak bahwa tindakan ini adalah perilaku buruk yang berakibat negatif.

Selain dipandang buruk oleh sesama teman, beri tahu juga bahwa ada sanksi lain yang mungkin dia terima. Misalnya, jika bullying dilakukan di sekolah, pihak sekolah tentu tidak akan tinggal diam dengan hal ini. Anak bisa dikeluarkan dari sekolah atau hukuman lain yang tak kalah serius.

Ajarkan anak Anda sehingga tidak melakukan tindakan bully terhadap temannya di sekolah.

2. Ajari anak untuk menghargai perbedaan

Bullying kadang terjadi karena adanya perbedaan. Agar anak tidak membully temannya yang berbeda, ia harus memahami perbedaan dan belajar untuk menghargai orang lain.

Ajari si kecil bahwa mengejek seseorang, baik itu karena penampilan, kondisi fisik, atau status ekonomi, merupakan tindakan yang buruk.

Anda mungkin perlu mengajak anak mendatangi panti asuhan atau komunitas anak berkebutuhan khusus agar ia bisa berinteraksi secara langsung dengan anak-anak yang berbeda. Dengan begitu, ia bisa lebih berempati kepada mereka yang berbeda.

Jangan ragu untuk menanyakan bagaimana interaksi anak dengan temannya pada guru di sekolah. Dengan begitu, Anda bisa memantau perilaku anak ketika ia berada di luar jangkauan Anda.


3. Kembangkan empati

Mengasah empati bisa menjadi tameng pada anak agar tidak membully temannya. Empati merupakan kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami emosi dari perasaan orang tersebut. Jika memahaminya, tentu tentu anak tidak mau menyakiti orang lain.

Jika memahaminya, tentu tentu anak tidak mau menyakiti orang lain.

Anda bisa mengembangkan empati anak dengan berbagai cara, seperti mengajarinya untuk berdonasi kepada korban bencana atau memelihara hewan peliharaan.


4. Jadilah contoh

Anak menjadi cermin dari orangtuanya. Maksudnya, perilaku yang dilakukan orangtua biasanya akan diikuti oleh anak-anaknya. Untuk itu, Anda perlu menjadikan diri sendiri sebagai panutan.

Misalnya, jangan menanggapi suatu masalah dengan kekerasan atau sikap agresif. Saat anak berbuat salah, pilihlah langkah untuk tidak memberikannya hukuman fisik, seperti memukul, menampar, mengurungnya dalam waktu lama.

Jangan pula berteriak-teriak atau membandingkan anak dengan orang lain. Tindakan tersebut dapat membuat anak menjadi agresif karena kesulitan mengelola emosinya.

Sebaliknya, Anda perlu menghadapi anak dengan tenang dan tahu cara tepat untuk mendisiplinkannya agar anak bisa mengelola emosi dan tidak membully temannya. Contoh, menerapkan metode time out pada anak usia prasekolah.

5. Konsultasi pada dokter atau psikolog

Jika Anda kesulitan untuk mengajarkan hal ini pada anak. Melakukan konsultasi dengan dokter maupun psikolog anak bisa menjadi jalan terbaik. Terutama jika anak punya perilaku menentang dan agresif.

Dokter atau psikolog akan membantu si kecil untuk mengelola amarah, perasaan sakit hati, dan emosi kuat lainnya melalui konseling.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini