nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kolaborasi Filantropi Indonesia untuk Atasi Masalah Sampah hingga Isu Lingkungan Hidup

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 17 Juli 2019 23:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 17 196 2080316 kolaborasi-filantropi-indonesia-untuk-atasi-masalah-sampah-hingga-isu-lingkungan-hidup-jYyHI5fNmz.jpg Isu sampah dan lingkungan hidup (Foto: Engineers Journal

INDONESIA menjadi negara kedua penghasil sampah terbanyak di dunia, setelah Tiongkok. Pada tahun 2019 ini Indonesia diprediksi akan menghasilkan sampah sekitar 66 – 67 juta ton atau meningkat dari tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 64 juta ton. Sebagian besar sampah yang dihasilkan berasal dari sampah rumah tangga hingga kegiatan usaha.

Diperkirakan hanya 40 hingga 60 persen sampah yang dapat terangkut ke tempat pembuangan akhir, sisanya, terbuang sembarangan. Masyarakat yang tinggal di perkotaan dan daerah penyangganya telah menghasilkan sampah lebih besar daripada daerah lainnya.

Padahal jumlah kota hanya 3 persen dari keseluruhan wilayah di Bumi. Meski demikian 75 persen emisi karbondioksida dihasilkan oleh daerah perkotaan.

 Sampah

Selain itu sebagai negara maritim, mayoritas kota besar di Indonesia terletak di pesisir. Oleh karenanya sampah yang dihasilkan wilayah perkotaan juga turut mempengaruhi bagaimana kondisi laut Indonesia dan ekosistemnya masa sekarang ini.

Kepadatan penduduk, belum baiknya sistem pengelolaan sampah, pola konsumsi dan perilaku masyarakat, serta sosialisasi yang belum optimal terkait lingkungan yang sehat serta bersih, menjadi kendala dalam mengatasi persampahan di perkotaan.

Menyadari bahwa diperlukannya mempromosikan aktivitas pengelolaan sampah yang cerdas maka Filantropi Indonesia, Dompet Dhuafa serta klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi menyelenggarakan Philanthropy Learning Forum ke-24 dengan tema terkait langkah serta aksi untuk upaya mengatasi masalah sampah di wilayah perkotaan.

Kegiatan ini yang diselenggarakan di Accelerice Indonesia Lantai 2 Ariobimo Sentral, Jakarta Selatan itu dihadiri 4 pembicara yang berasal Dompet Dhuafa, Yayasan Tzu Chi, Badan Amil Zakat (Baznas), dan Yayasan Keanekargaman Hayati (Kehati).

Bambang Suherman, Direktur Program Dompet Dhuafa Filantropi menyatakan bahwa Dompet Dhuafa berkomitmen dalam hal pengentasan masalah sampah sebagai upaya perbaikan lingkungan sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi sirkuler di masyarakat, terutama kaum dhuafa.

"Dompet Dhuafa melalui program Semesta Hijau mendukung upaya perbaikan di sektor lingkungan yang mampu mengangkat kemandirian dhuafa”, ujarnya.

 Pemilahan sampah

Sementara itu Yayasan Tzu Chi sedang mempromosikan zero waste lifestyle bagi masyarakat perkotaan dengan menerapkan prinsip hidup penuh berkah. Program pelestarian lingkungan mereka dimulai dari menggalakkan pemilahan sampah, daur ulang dan pemanfaatan limbah, dan menghargai energi.

Terkait program pelestarian lingkungan di perkotaan, salah satu program yang dimiliki Kehati adalah Bird Watching (BW) di Pantai Indah Kapuk (PIK), yang dikhusukan untuk rentang usia 16 – 35 tahun. Ada tiga alasan mengapa Kehati melakukan BW, yaitu BW bisa dilakukan dengan naked eye, Indonesia menjadi jalur perlintasan bagi migrasi burung, dan tujuan untuk menyediakan sumber informasi dan inspirasi pusat data ada di daerah perkotaan.

Organisasi lain seperti BAZNAS juga memiliki program mengatasi sampah di perkotaan salah satunya di Kota Bengkulu yang telah dipilih menjadi Kota SDGs pertama di Indonesia. Di sana BAZNAS melakukan pemberdayaan masyarakat melalui program pengelolaan sampah menjadi biji plastik.

"Kami juga menjalankan program bank sampah di Tanjung Bira, Sulawesi Selatan. Tempat ini merupakan destinasi wisata kedua yang paling ramai dikunjungi wisatawan setelah Makassar," kata Randi Swandaru, Kepala Divisi Pendayagunaan BAZNAS.

Acara Philanthropy Learning Forum ke- 24 ini juga diisii dengan peluncuran klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi. Rizal Algamar, Country Director dari The Nature Conservacy (TNC) yang ditunjuk sebagai koordinator klaster tersebut menyatakan bahwa inisitif pembentukkan klaster tersebut untuk mendorong kolaborasi lintas sektor guna memfasilitasi program pelestarian lingkungan.

Melalui klaster ini, organisasi-organisasi filantropi yang concern pada isu lingkungan bisa saling belajar, berbagi informasi, melakukan sinergi serta advokasi secara bersama-sama. klaster yang difasilitasi Filantropi Indonesia beranggotakan beberapa organisasi, seperti The Nature Conservacy (TNC), Dompet Dhuafa, Greeneration Foundation, Badan Amil Zakat Nasional, Belantara Foundation, Yayasan Kehati, Yayasan Tzu Chi, dan Coca Cola Foundation Indonesia.

Selanjutnya, Rizal juga menjelaskan bahwa pada tahun 2019 ini telah disepakati bahwa fokus garapan klaster adalah mengatasi masalah-masalah lingkungan hidup yang di wilayah urban atau perkotaan, seperti masalah sampah, sumber air, dan sebagainya.

Sementara Hamid Abidin, Direktur Filantropi Indonesia, menyatakan bahwa pembentukan klaster klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan organisasi- organisasi filantropi anggota dan jaringan FI agar bisa bertemu dan berdiskusi dengan organisasi yang punya perhatian dan program yang sama.

Diharapkan mereka bisa lebih intens dalam berdiskusi dan memahami berbagai inisiatif yang dilakukan pihak lain. Dengan demikian, masing-masing organisasi akan mendapatkan penajaman dan inspirasi dari organisasi lain dalam menjawab beraga tantangan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Melalui klaster filantropi ini juga diharapkan tidak terjadi lagi tumpang tindih program dan justru bisa mendorong kolaborasi agar program yang dijalankan bisa lebih efektif dan berdampak.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini