nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Biaya Pengobatan Mahal, Kenali 10 Faktor Risiko Terkena Hipertensi

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 17 Juli 2019 21:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 17 481 2080265 biaya-pengobatan-mahal-kenali-10-faktor-risiko-terkena-hipertensi-DeTzFiWP9k.jpg Faktor risiko hipertensi yang perlu diwaspadai (Foto: Healthline)

HINGGA saat ini hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia setiap tahunnya termasuk di Indonesia. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia 18 tahun sebesar 34,1%. Angka tersebut tentunya cukup tinggi dan mengkhawatirkan.

Terlebih hipertensi merupakan faktor risiko penyakit berbahaya seperti jantung, gagal ginjal, diabetes, dan stroke. Oleh karenanya, tidak heran bila pengobatan penyakit yang disebabkan oleh hipertensi memakan biaya cukup besar.

Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menyebutkan biaya pelayanan hipertensi terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2016 biaya yang dibutuhkan sebesar Rp2,8 triliun. Kemudian pada tahun 2017 dan tahun 2018 biayanya mencapai Rp3 triliun.

Melansir Mayo Clinic, Rabu (17/7/2019), ada berbagai kondisi dan obat-obatan yang dapat menyebabkan hipertensi. Mulai dari gangguan tidur sleep apnea, masalah ginjal, masalah tiroid, kelainan bawaan di pembuluh darah, obat-obatan tertentu seperti pil KB, obat flu, dekongestan, dan penghilang rasa sakit, serta obat-obatan terlarang seperti kokain dan amfetamin. Namun di sisi lain ada pula faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena hipertensi. Berikut ulasannya seperti yang Okezone rangkum :

Usia

1. Usia

Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Sampai sekira usia 64 tahun, hipertensi lebih sering terjadi pada pria. Sedangkan wanita lebih mungkin mengalami tekanan darah tinggi setelah usia 65 tahun.

2. Ras

Hipertensi sangat umum di antara orang-orang keturunan Afrika. Selain itu, hipertensi biasanya terjadi di usia lebih awal.

3. Riwayat keluarga

Hipertensi cenderung terjadi karena faktor genetika. Jika ada keluarga yang menderita darah tinggi, sebaiknya segera terapkan pola hidup sehat.

4. Kelebihan berat badan atau obesitas

Semakin berat tubuh, maka semakin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan nutrisi ke jaringa. Ketika volume darah yang beredar melalui pembuluh darah meningkat, maka tekanan pada dinding pembuluh darah juga meningkat.

5. Kurang aktivitas fisik

Orang yang tidak aktif secara fisik cenderung memiliki detak jantung yang lebih tinggi. Semakin tinggi detak jantung, maka semakin keras jantung harus bekerja. Hal itu membuat semakin kuat kekuatan pada pembuluh darah yang menaikkan tekanan darah. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik juga meningkatkan risiko kelebihan berat badan.

 Kurang gerak

6. Merokok

Dalam jangka pendek, merokok dapat meningkatkan tekanan darah. Tapi dalam jangka panjang bahan kimia dalam tembakau yang ada pada rokok dapat merusak lapisan dinding pembuluh darah. Hal ini menyebabkan pembuluh darah menyempit dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Hal yang sama bisa terjadi pada perokok pasif.

7. Terlalu banyak menambahkan garam ke makanan

Konsumsi garam berlebih pada makanan dapat menyebabkan tubuh menahan cairan yang meningkatkan tekanan darah.

8. Konsumsi alkohol berlebih

Dalam jangka panjang, alkohol dapat merusak jantung. Minum alkohol lebih dari satu gelas sehari pada wanita dan lebih dari dua gelas sehari pada pria dapat memengaruhi tekanan darah.

9. Stres

Tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dalam jangka pendek. Masalah bisa bertambah parah jika cara menghilangkan stres adalah merokok atau minum alkohol.

10. Kondisi tertentu

Kondisi tertentu seperti penyakit ginjal, diabetes, dan sleep apnea juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Selain itu, terkadang kehamilan juga membuat wanita mengalami hipertensi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini