nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bambu Bisa Jadi Solusi Isu Sampah Plastik Sekali Pakai

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 17 Juli 2019 19:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 17 612 2080227 bambu-bisa-jadi-solusi-isu-sampah-plastik-sekali-pakai-LhnvooXmfS.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Gerakan anti plastik sekali pakai terus berkembang di Indonesia. Setelah penggunaan metal straw atau sedotan berbahan stainless steel viral di media sosial, belakangan mulai banyak bermunculan program-program baru untuk memerangi sampah plastik.

Salah satunya adalah program "Back to Besek" besutan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati). Menurut penuturan Basuki Rachmad, selaku Manager Program Kelautan Yayasan Kehati, program memerangi sampah plastik ini berawal dari sebuah ide bahwa Indonesia memiliki begitu banyak kekayaan alam yang belum dieksplorasi.

Pemilihan bambu sebagai bahan dasar pembuatan besek pun bukan tanpa alasan. Tanaman ini diklaim memiliki makna filosofis yang cukup dalam dan sudah melekat erat di kalangan masyarakat Indonesia.

 Sedotan

"Dari kita lahir sebetulnya sudah familier dengan bambu. Zaman dulu plasenta bayi dipotong menggunakan bambu, bahkan ketika nanti ajal menjemput pun bambu digunakan untuk menutup liang lahat. Makna filosofis bambu ini sangat beragam," terang Basuki, dalam acara Philantrophy Learning Forum 24 dengan tema "From Trash to Treasure", di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (17/7/2019).

Dari segi lingkungan sendiri, bambu dinilai memiliki sejumlah manfaat besar bagi keberlangsungan hidup manusia. Tanaman ini tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk membuat produk sandang atau baju berserat, serta produk-produk ramah lingkungan lainnya. Tetapi juga bisa menangkap sebagai sumber mata air.

Namun sayangnya, hingga saat ini pemerintah maupun masyarakat Indonesia belum memaksimalkan potensi tersebut. Padahal, menurut Basuki, jenis dan kualitas bambu Indonesia jauh lebih baik dibandingkan bambu-bambu yang berada di China.

 Penjelasan

"Bambu kita itu 70 kali lebih cepat pertumbuhannya karena kita hidup di negara tropis. Jenisnya beragam dan tumbuh secara berumpun-rumpun meski hanya satu kali tanam. Bandingkan dengan pohon bambu di China, mereka tumbuh satu-satu karena jenisnya termasuk dalam kategori monopodia," ungkap Basuki.

Dalam arti lain, budidaya bambu di negara tersebut memerlukan lahan yang sangat luas. Kendati demikian, pemerintah China telah mengetahui bahwa potensi tanaman ini begitu besar.

Tak heran bila saat ini mereka memiliki jutaan hektar lahan untuk digunakan sebagai tempat budidaya bambu. Program Back to Besek sendiri menurut Basuki, sangat berpotensi mengurangi sampah plastik sekali pakai yang sudah lama menjadi perhatian dunia.

Penerapan program ini pun relatif sederhana. Hanya dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan besek saat mereka hendak melakukan berbagai kegiatan seperti membeli bahan makanan di pasar atau supermarket.

Bila kebiasaan tersebut sudah mulai diterapkan, perlahan tapi pasti akan mendatangkan sejumlah dampak positif bagi keberlangsungan hidup manusia. Apalagi jika program ini didukung penuh oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait.

Pemerintah bisa mensosialisasikan program ini dengan iming-iming penangguhan pajak bagi masyarakat. Contohnya, ketika masyarakat membawa besek saat membeli makanan di supermarket, bisa diberi potongan pajak sekitar 5%.

"Strategi ini bisa sangat menguntungkan karena kedepannya pemerintah daerah atau pusat tidak akan mengurusi sampah plastik lagi kalau program benar-benar sukses," tukas Basuki.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini