nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jumlah Penderita Meningkat, Waspadai Komplikasi Serius Akibat Hipertensi

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 18 Juli 2019 08:40 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 18 481 2080386 jumlah-penderita-meningkat-waspadai-komplikasi-serius-akibat-hipertensi-6lNqwrWjqR.jpg Waspadai komplikasi akibat hipertensi (Foto : Healthline)

Jumlah pasien yang terdeteksi mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi di Indonesia semakin meningkat. Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia 18 tahun ke atas sebesar 34,1%. Angka ini tentunya membuat masyarakat harus semakin waspada dan memerhatikan gaya hidup.

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Siska Suridanda Danny, Sp.JP(K), salah satu kemungkinan pasien hipertensi meningkat lantaran cakupan pelayanan kesehatan yang lebih baik di era jaminan kesehatan nasional (JKN). Akan tetapi, masyarakat diimbau untuk memiliki kesadaran memeriksa tekanan darah secara rutin. Sebab hipertensi merupakan penyakit yang pada fase awalnya muncul tanpa gejala.

"Keluhan baru muncul setelah timbul komplikasi akibat hipertensi seperti stroke dan gagal jantung," terang dr Siska sewaktu dihubungi Okezone melalui pesan singkat, Kamis (18/7/2019).

ayo berhenti meroko

Dirinya menambahkan, di era sekarang ini faktor risiko hipertensi bermacam-macam. Khusus untuk masyarakat Indonesia, hal yang harus disoroti adalah jumlah perokok yang semakin tinggi dan pola makan yang tinggi garam. Kedua faktor tersebut dapat membuat jumlah pasien hipertensi terus mengalami kenaikan.

Padahal hipertensi berkaitan erat dengan terjadinya gangguan di berbagai organ dalam tubuh. Gangguan itu mengarah terhadap penyakit tidak menular (PTM) yang cukup serius dan mengkhawatirkan.

"Komplikasi hipertensi yang paling sering dijumpai adalah terjadinya stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan gagal ginjal," tandas dr Siska.

Membutuhkan biaya besar

Sementara itu, hipertensi merupakan salah satu penyakit yang membutuhkan biaya besar. Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menunjukkan biaya pelayanan hipertensi mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Di tahun 2016 biaya yang dikeluarkan untuk penyakit ini sebesar Rp2,8 triliun. Sedangkan di tahun 2017 dan 2018 biayanya mencapai Rp3 triliun.

sakit jantung

Belum lagi hipertensi merupakan salah satu indikator penyebab PTM seperti stroke, gagal jantung, dan gagal ginjal. Data Balitbang Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi PTM bisa meningkat hingga 70 persen jika tidak ada perbaikan.

Dalam sebuah kesempatan, Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) mengatakan kondisi ini dapat membuat BPJS Kesehatan mengalami kerugian alias defisit hingga Rp28-30 triliun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini