nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Remaja di Makassar Pura-Pura Diculik Demi Beli iPhone X, Ini Kata Psikolog

Tiara Putri, Jurnalis · Minggu 21 Juli 2019 07:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 21 196 2081561 remaja-di-makassar-pura-pura-diculik-demi-beli-iphone-x-ini-kata-psikolog-TGoDoI57Us.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Tak sedikit orang yang nekat berbuat sesuatu demi mewujudkan keinginannya. Sama seperti yang dilakukan oleh remaja di Makassar bernama Reza Azzahrah. Dirinya merekayasa telah diculik orang demi mendapatkan uang tebusan sebesar Rp25 juta dari orangtuanya. Uang tersebut rencananya ingin digunakan untuk membeli iPhone X.

Tidak menutup kemungkinan tindakan yang dilakukan oleh Eca, sapaan akrabnya semata hanya karena ia ingin terlihat eksis di hadapan teman-temannya. Sebab ponsel dengan merek tersebut memang tergolong barang mewah di kalangan remaja. Lantas apa yang membuat seorang remaja bisa nekat membohongi orangtuanya?

 Wanita memegang ponsel

Menurut psikolog klinis dewasa, Arrundina Puspita Dewi, M.Psi, seorang anak bisa berbohong kepada orangtua lantaran jika dia meminta langsung, dia tahu permintaannya akan ditolak. Bahkan mungkin ia bisa dimarahi oleh orangtuanya karena permintaannya itu merupakan sesuatu yang bersifat tersier alias tidak terlalu dibutuhkan. Dengan begitu, supaya keinginannya terpenuhi, maka anak mencari cara lain dengan berbohong.

"Contohnya juga seperti bohong minta uang untuk beli buku keperluan sekolah. Padahal sebenernya uang itu dipakai untuk yang lain. Misalnya traktir teman atau beli barang yang diinginkan," ungkap Arrundina saat dihubungi Okezone melalui pesan singkat, Sabtu, 20 Juli 2019.

Dirinya menambahkan, tindakan Eca yang tergolong nekat merupakan usaha agar diterima oleh lingkungannya. Penerimaan dari orang lain memang menjadi sesuatu hal yang penting bagi semua orang, tak terkecuali remaja. Sebab dengan diterima, terlebih oleh orang banyak, maka seseorang bisa merasa dirinya berharga.

"Apalagi untuk kasus ini 'kan usia anak tersebut juga masih remaja akhir. Jadi memiliki barang mewah bisa membuatnya terlihat keren. Hal itu menjadi suatu kebutuhan yang penting agar teman-temannya mau menerima dan dia bisa tampil stand out dibandingkan teman-teman yang lain," jelas Arrundina.

Di sisi lain, Arrundina mengatakan bila peneriman di lingkungan pertemanan memang bisa terasa mengasyikkan dan menyenangkan. Namun apabila hal itu malah membuat seseorang bisa berbuat nekat dan mengorbankan orang lain, maka itu sesuatu yang tidak bisa dibenarkan.

"Memang harus buat prioritas mana kebutuhan primer, mana yang tersier," tandas Arrundina.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini