nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasangan Remaja di Kupang Nekat Berhubungan Badan di Dalam Mobil, Ini Kata Psikolog

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 24 Juli 2019 08:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 23 196 2082765 pasangan-remaja-di-kupang-nekat-berhubungan-badan-di-dalam-mobil-ini-kata-psikolog-4nA9z06gXG.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Pasangan kekasih di Kupang, Nusa Tenggara Timur ditangkap oleh petugas Satpol PP pada Senin siang, 22 Juli 2019. Penyebabnya lantaran mereka nekat melakukan hubungan badan di dalam mobil Suzuki Ignis yang terparkir di dekat rumah dinas Bupati Kupang. Keduanya lalu diamankan ke Mapolres Kupang Kota.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Okezone, pasangan kekasih ini usianya masih tergolong belia. Sang pria dengan inisial AFA usianya masih 18 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa. Sedangkan kekasihnya, MSK usianya baru 15 tahun dan masih duduk di bangku SMP.

Fakta di atas tentunya cukup mengejutkan dan menjadi keprihatinan bagi para orangtua yang memiliki anak remaja. Sebab bisa dikatakan pergaulan remaja zaman sekarang tidak seperti dulu. Lantas apakah penyebab yang membuat remaja bisa bertindak nekat seperti yang dilakukan oleh AFA dan MSK?

 Mobil

Menurut psikolog Agstried Elizabeth Piether, M.Psi, sebenarnya struktur otak remaja belum berkembang secara utuh. Ada bagian otak yang masih dalam tahap perkembangan yaitu kemampuan berpikir logis dengan sebab akibat yang kompleks. Kondisi itu membuat para remaja cenderung mengambil keputusan atas suatu tindakan secara impulsif sehingga tidak mempertimbangkan konsekuensi dari perbuatannya.

“Maka tidak heran banyak kelakuan remaja yang kesannya dilakukan karena mereka tidak berpikir panjang. Tapi masih ada faktor lain yang mungkin membuat remaja bertindak nekat,” tutur Agstried sewaktu dihubungi melalui pesan singkat, Rabu (23/7/2019).

Ada banyak faktor atau motif yang bisa membuat remaja bertindak nekat seperti yang dilakukan oleh AFA dan MSK. Sebut saja lantaran dipaksa kekasih, ditantang teman, atau hal lain. Tentunya untuk mengetahui faktor yang melatarbelakangi remaja melakukan tindakan seperti itu harus ditanyakan secara langsung dalam situasi yang kondusif. Atau bila diperlukan meminta bantuan profesional seperti psikolog.

Sementara itu, untuk mencegah remaja melakukan sesuatu yang melanggar norma dan aturan, orangtua bisa melakukan berbagai cara. Selain memberikan dasar pendidikan agama yang kuat, orangtua juga bisa memberikan pelajaran seksual atau sex education kepada anak sedini mungkin. Agstried mengatakan, sex education dapat membuat remaja menyadari segala konsekuensi dari hubungan seksual dan membuat mereka bisa mengambil keputusan lebih baik.

“Seperti yang saya katakana sebelumnya, remaja itu masih impulsif. Mereka membutuhkan pendampingan dan pengetahuan bahwa ada konsekuensi dari setiap perilaku seksual. Dengan begitu mereka bisa mengambil keputusan lebih baik dalam bertindak,” tandas Agstried.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini