nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selingkuh Bukan Penyebab Utama Perceraian, Psikolog Ungkap Umur Ideal Menikah

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 24 Juli 2019 21:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 24 196 2083167 selingkuh-bukan-penyebab-utama-perceraian-psikolog-ungkap-umur-ideal-menikah-eBbZIqTio5.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TINGGINYA angka kasus perceraian di Gresik, Jawa Timur, mendapat perhatian dari banyak pihak. Berdasarkan data, hingga pertengahan 2019 sudah ada 927 kasus perceraian.

Penyebab perceraian cukup bervariasi, namun ada 2 penyebab yang angkanya cukup signifikan. Pertama adalah faktor ekonomi yang jumlahnya mencapai 459 kasus.

Berbicara mengenai ekonomi, terkadang pasangan bercerai bukan hanya karena pihak suami tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ada beberapa pasangan yang bercerai karena penghasilan istri jauh lebih besar.

Menurut psikolog klinis dewasa, Arrundina Puspita Dewi, M.Psi, penghasilan istri yang lebih besar seringkali dapat membuat suami merasa inferior dan tidak nyaman. Hal ini dikarenakan suami merasa istri terlalu mandiri, sehingga tidak membutuhkan perannya lagi. Sementara di dalam diri suami ada semacam kebutuhan atau keinginan untuk menjadi pahlawan.

Sementara di dalam diri suami ada semacam kebutuhan atau keinginan untuk menjadi pahlawan.

“Kondisi itu terkait dengan peran tradisional pria yang sudah melekat seperti melindungi keluarga secara finansial. Memang ada saja kasus perceraian yang penyebabnya karena istri berpenghasilan lebih tinggi dari suami, apalagi ketika komunikasi antar pasangan tidak dilakukan dua arah,” ujar Arrundina kepada Okezone dalam pesan singkatnya.

Dia mengatakan, untuk mencegah terjadinya perceraian karena penghasilan istri jauh lebih besar dari suami, maka pasangan harus saling berkomunikasi dan negosiasi.

Pasangan suami istri pun perlu melakukan pembicaraan guna menemukan titik tengah yang bisa memenuhi kebutuhan emosional masing-masing. Salah satunya berkaitan dengan masalah penghasilan dan peran di dalam rumah tangga.

Sementara itu, penyebab kedua tertinggi terjadinya perceraian adalah perselisihan terus menerus. Jumlah karena faktor tersebut mencapai 237 kasus.

Bila melihat data lainnya yang menunjukkan perceraian didominasi oleh pasangan usia produktif yaitu 22–39 tahun, maka bisa ditarik kesimpulan jika kedewasaan memainkan peran penting.

Sebab, bukan tidak mungkin perselisihan di antara pasangan dipicu karena pemikiran yang belum matang. Hal ini banyak terjadi pada pasangan yang menikah di usia muda.

Arrundina mengatakan, di usia muda seperti awal 20-an, seseorang baru saja memasuki masa dewasanya. Dirinya bisa jadi merasa kaget dengan peran baru sebagai orang dewasa, sehingga masih perlu belajar banyak hal untuk menghadapi masalah atau tantangan kehidupan. Selain itu, di usia tersebut masih banyak orang yang ingin mengeksplorasi banyak hal dan belum memahami dirinya sendiri.

Kondisi-kondisi tersebut membuat pola pikir masih cenderung labil.

Kondisi-kondisi tersebut membuat pola pikir masih cenderung labil. Ketika dihadapkan pada pernikahan dan menemui masalah, tidak menutup kemungkinan bisa timbul perselisihan yang mengarah ke perceraian. Lantas, adakah usia ideal seseorang untuk menikah?

“Usia 25 tahun ke atas dianggap sudah tepat untuk menikah karena sudah lebih paham bagaimana peranan menjadi org dewasa. Mereka juga sudah memahami konsekuensi dari keputusan dan tindakan yang dilakukan, baik untuk diri sendiri maupun sekitar,” tandas Arrundina.

1
2

Berita Terkait

Menikah

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini