Mengenal Intravascular Ultrasound, Teknik Terbaru untuk Atasi Jantung Koroner

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 01 Agustus 2019 22:21 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 01 481 2086607 mengenal-intravascular-ultrasound-teknik-terbaru-untuk-atasi-jantung-koroner-ba2dXDjKP0.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SEPERTI kanker yang menjadi momok bagi semua orang, penyakit jantung juga masih membunuh banyak orang. Di Indonesia sendiri, survei Kementerian Kesehatan menyebut penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi penyebab nomor satu kematian di Indonesia.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa di Indonesia sebesar 1,5 persen atau 15 dari 1.000 penduduk Indonesia menderita penyakit jantung koroner. Jika dilihat dari penyebab kematian tertinggi di Indonesia, Survey Sample Registration System tahun 2014 menunjukkan 12,9 persen kematian akibat penyakit satu ini.

PJK, alias penyakit jantung koroner, adalah penyakit yang disebabkan penumpukan plak pada pembuluh darah koroner (arteri koroner). Pembuluh koroner adalah pembuluh darah yang memberikan suplai darah yang kaya akan oksigen ke otot jantung.

Pembuluh koroner adalah pembuluh darah yang memberikan suplai darah yang kaya akan oksigen ke otot jantung.

Terjadinya penumpukan plak di arteri atau biasa disebut atherosclerosis, dapat menimbulkan sumbatan yang dapat memicu serangan jantung, karena arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung terhambat, apabila penyempitan ini menjadi parah maka bisa menimbulkan serangan jantung.

Nah, salah satu cara untuk menyembuhkan adalah dengan pemasangan ring jantung. Tapi, dengan kecanggihan dunia medis, tindakan pemasangan ring jantung ini telah disempurnakan dengan teknik Intravascular Ultrasound (IVUS).

Menurut ahli jantung dr. Hengkie F. Lasanudin, Sp.JP (K), FIHA, IVUS adalah sebuat alat layaknya teropong, yang berfungsi untuk memeriksa anatomi lebih detail. Sehingga, ukuran hingga derajat dari stent (ring) jantung yang akan dipasang nantinya hasilnya lebih akurat.

Sehingga, ukuran hingga derajat dari stent (ring) jantung yang akan dipasang nantinya hasilnya lebih akurat.

"Teropong ini size nya kecil banget, jadi presisinya tinggi dan menggunakan gelombang suara,” jelas dr Hengkie, di RSPP, Jakarta Selatan.

Lebih lanjut dr Hengkie menambahkan, pemilihan cincin atau stent lebih akurat untuk tindakan pemasangan ring. Dampak positif lainnya bisa didapatkan oleh pasien, contohnya meminimalisasi resiko kembali terjadinya penyempitan.

"Intinya, pemasangan ring nya bagus jadi resiko terjadinya penyempitan lagi, atau bahasanya bisa mengurangi angka restenosis pasca pemasangan stent (ring) jantung,” tandasnya.

IVUS sendiri, bekerja dengan gelombang suara, dan menghasilkan gambar bagian dalam pembuluh darah. Teknik ini menggunakan kateter khusus dengan transduser ultrasonik kecil di satu ujung.

Nantinya, kateter dimasukkan melalui arteri atau vena ke lokasi target, tempat gelombang suara dihasilkan oleh transduser untuk menghasilkan gambar pembuluh darah dan membantu dokter menilai berbagai kondisi.

Teknik IVUS ini digunakan sebagai tambahan dalam diagnosis dan pengobatan arteri dan vena. Pada vena, IVUS sering digunakan untuk pembekuan darah akut dan kronis, terutama jika penyempitan dianggap sebagai penyebabnya.

Sayangnya, di Indonesia sendiri penggunaan teknik IVUS ini masih rendah yaitu di bawah 10 persen, karena tidak semua rumah sakit atau fasilitas kesehatan memiliki fasilitas IVUS.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini