nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemahaman Tentang Janin Telan Air Ketuban yang Sering Salah Kaprah

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 07 Agustus 2019 21:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 07 481 2089096 pemahaman-tentang-janin-telan-air-ketuban-yang-sering-salah-kaprah-h4pUBRQCQC.jpg Ilustrasi (Foto: Thehealthsite)

Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2017 mencapai 24 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Meskipun angka tersebut mengalami penurunan dari tahun ke tahun, tetap saja dibutuhkan perhatian khusus. Sebab AKB ikut menentukan indeks kesehatan suatu bangsa.

Ada beberapa penyebab yang membuat bayi meninggal ketika dilahirkan. Salah satunya masalah yang berkaitan dengan air ketuban. Di masyarakat, ada asumsi yang sering salah pemahaman dimana dikatakan bayi meninggal lantaran meminum air ketuban. Hal ini dijelaskan oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr Muhammad Dwi Priangga Sp.OG

"Sebenarnya ada kesalahan istilah. Alaminya memang janin menelan air ketuban selama dalam rahim. Nantinya air ketuban itu dikeluarkan melalui saluran kencing bayi," ucap dokter yang akrab disapa Angga itu saat dihubungi Okezone melalui pesan singkat, Rabu (7/8/2019).

 Tangan bayi

Dirinya menambahkan, air ketuban diproduksi oleh plasenta dan ginjal janin. Air ketuban mengandung nutrisi penting, hormon, antibodi, dan urin yang menjadi makanan janin. Semuanya itu aman untuk dikonsumsi oleh janin. Selain itu, air ketuban membantu melindungi janin dari benturan dan cedera.

Namun pada kondisi tertentu kondisi air ketuban di dalam rahim bisa mengkhawatirkan. Menurut dr Angga, jika ada kelainan kongenital seperti agenesis ginjal maka air ketuban mengalami gangguan produksi sehingga jumlahnya menjadi sedikit sekali.

Sekadar informasi, air ketuban juga berfungsi memberikan ruang kepada bayi untuk bergerak selama berada di dalam rahim. Apabila jumlah air ketuban sedikit, maka perkembangan janin menjadi terganggu dan tidak optimal.

"Ada pula kelainan lain dalam pembentukan usus seperti agenesis duodenum atau agenesis esofagus. Pada kondisi ini janin tidak akan bisa menelan air ketuban sehingga terjadi polihidramnion atau kebanyakan air ketuban di dalam rahim," jelas dr Angga.

Masalah lainnya bisa muncul menjelang proses persalinan. Normalnya janin saat berada di kandungan hanya mengeluarkan urin melaui saluran kencing. Sementara lubang duburnya tertutup atau mengalami kontraksi. Janin mengeluarkan feses pertamanya ketika lahir. Namun proses persalinan dapat membuat janin mengalami stres.

Pada saat stres, otot dubur akan mengalami relaksasi yang menyebabkan feses janin atau mekonium keluar. Feses tersebut akan mencemari air ketuban dan dapat berbahaya apabila tertelan oleh bayi. Kondisi ini dikenal dengan nama aspirasi mekonium.

"Apabila mekonium tertelan dan masuk ke paru-paru janin, pada saat lahir ia akan mengalami gangguan atau infeksi pernapasan. Jika ditemui hal tersebut ketika bayi lahir, maka dokter anak akan melakukan tindakan resusitasi untuk menghisap mekonium dari saluran napas bayi neonatus," papar dr Angga.

Ciri-ciri air ketuban tercemar mekonium adalah warnanya menjadi hijau. Idealnya air ketuban berwarna bening kekuningan. Pada kasus yang berat, air ketuban akan berwarna hijau kental yang artinya sudah dipenuhi mekonium. Inilah alasannya dokter harus mengambil langkah cepat apabila air ketuban berubah warna menjadi hijau.

"Jadi saya tegaskan sekali lagi, yang bahaya itu kalau janin menelan mekonium saat masih di kandungan bukan air ketuban. Sebab air ketuban memang secara alami ditelan oleh janin," tandas dr Angga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini