nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhat Jurnalis Aditya Eka Diejek Kingkong sejak Kecil hingga Kuliah

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 11 Agustus 2019 00:35 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 10 196 2090347 curhat-jurnalis-aditya-eka-diejek-kingkong-sejak-kecil-hingga-kuliah-IOpYG5t3i4.jpg Curhat Aditya Eka jadi korban body shaming (Foto : @adiitoo18/Instagram)

Mereka yang bertubuh gemuk atau terlalu kurus akan mendapat hinaan dari lingkungan atau sekarang dikenal body shaming. Sosial sepertinya tidak pernah kapok dan sadar kalau hal itu tidak baik dan bisa berdampak depresi.

Seperti yang dialami Aditya Eka Prawira atau yang biasa disapa Adiitoo. Pada Okezone, Adit menjelaskan kalau dirinya semasa kecil hingga kuliah menjadi korban body shaming dari teman-teman. Celaannya pun beragam dan karena itu, dia membuktikan dengan tubuhnya sekarang.

Bagaimana kisah Adit melawan body shaming yang dia alami lebih dari 10 tahun lamanya?

Adit menjelaskan kalau dirinya saat kecil biasa saja. Tubuhnya pendek tetapi gemuk. Kondisi tersebut membuat dirinya kerap dicibir teman-teman bahkan gurunya. Padahal, Adit menjelaskan kalau dirinya itu anak yang ambisius.

Proses body shaming karena gendut dialami Adit sejak SMP hingga kuliah. Setiap hari ada saja cibiran yang diterima kupingnya. Bahkan, beberapa kali bikin dia kepikiran.

Namun, Adit mengaku tak pernah menggubrisnya serius. "Saya bodo amat dengan olokan orang-orang," tegasnya pada Okezone.

adit kecil

Tapi, di sisi lain, Adit mengaku kerap sakit hati karena perlakuan body shaming. Sebab, kondisi tubuhnya yang gemuk itu bikin dia tak bisa bergaul sewajarnya dengan teman-teman. Maksudnya, saat mau pergi main naik motor, nggak ada yang mau memboncengi. Alasannya karena Adit terlalu gemuk. Tapi, akhirnya ada satu orang teman kosnya yang mau menumpangi  Adit pergi naik motor. Meski dia juga paham kalau teman kosannya itu pasti dalam hatinya ngedumel dan berkata "capek".

Proses perubahan Adit

Letih mendapat olokan orang-orang dan dia juga merasa kurang fit dengan tubuh gemuk, Adit akhirnya memutuskan untuk diet. Ya, selain untuk mengubah pandangan sosial, alasan biar sehat juga diamini Adit.

Diet juga menjadi pilihan Adit karena berat badannya sudah di angka 130kg. Bukan berat badan yang ideal tentunya bagi anak remaja. Adit juga merasa kalau dia tidak diet, itu akan berdampak pada kesehatannya di masa depan.

Akhirnya proses diet dilakukan. Saat awal-awal diet, banyak sekali orang yang meremehkan Adit. Mereka itu menganggap Adit tidak akan berhasil menurunkan berat badan dan akan selamanya diolok gembrot, gendut, babon, atau kingkong.

Tapi, Adit benar-benar serius. Setiap bulannya dia menargetkan turun 2 sampai 3 kg saja. Angka tersebut juga sesuai dengan yang dianjurkan dokter pribadinya.

Adit korban

Diet dilakukan selama kurang lebih 4 tahunan. Adit turun 40 kilogram selama jangka waktu tersebut, dengan estimasi per bulan turun 10 kg.

Apa yang Adit lakukan untuk menurunkan berat badan?

"Semua bertahap. Yang pasti, tetap makan karbohidrat, masih makan nasi, sesekali oatmeal dan umbi-umbian," terangnya.

Nah, untuk detailnya, pada tahun pertama, Adit mengaku hanya pola makan tanpa olahraga, karena tubuh gemuk tidak boleh berolahraga, apalagi lari. Jadi, cuma pola makan saja yang diperhatikan.

"Jadi, yang biasanya makan mi pakai nasi, minum susu kental manis, minum minuman kemasan, itu semua diubah menjasi makan nasi pakai lauk, minum susu kental manis sebulan sekali atau dua bulan sekali, dan tidak lagi minum minuman kemasan," ungkap Adit.

Adit jalan

Setelah tahun pertama berlalu, di tahun kedua akhirnya Adit menambahkan aktivitas fisik, yaitu jalan kaki. Perlu diingat, selama proses diet di tahun kedua, asupan makanan sudah sangat terjaga dan ini dilakukan Adit secara konstan.

Singkat cerita, di tahun keempat, olahraganya dinaikan levelnya jadi aerobik. Pola makan masih stabil. Bahkan, selain aerobik, Adit juga menambahkan olahraga HIIT dan sejenisnya dan ngegym.

"Sesudahnya, tinggal maintance saja. pola makan normal. Normal dalam artian, masih makan dan minum semuanya, tinggal tahu batasan saja. Masih makan mi instan kalau mau," paparnya.

Adit juga menjelaskan, ada kalanya dalam enam bulan diet mau makan yang nggak mikirin kalori atau sehat atau tidaknya. Ya, sekali lagi dengan batasan yang wajar dan tidak ketagihan. Bagi Adit, yang penting sudah tahu pola makan sehatnya.

Dia pun mengaku pernah mencoba gaya diet seperti OCD, diet rendah garam, atau cuma makan buah. Tapi, semuanya kurang berdampak. "Ujung-ujungnya diet paling cocok buat tubuh aku, ya, diet gizi seimbang," tambahnya.

Pesan untuk Korban Body Shaming

Menjadi korban body shaming membuat Adit sadar kalau lingkungan sosial memang keras dan sulit diubah jika tidak diberi contoh yang benar.

Meski demikian, Adit mengaku tidak pernah merasa dendam dengan pelaku body shaming. "Ya, kecuali buat orang-orang yang nggak kenal sebelumnya, tahu-tahu ngomongin berat badan kita, ingin aku judesin rasanya," ucap Adit lantas tertawa.

Adit juga berpesan pada para korban body shaming, jangan diambil hati, jangan langsung dimasukin ke hati segala hinaan itu. Ingat juga, namanya orang refleks. Dia menekankan, karena kita tahu sakitnya dibegituin, kita jangan sampai jadi orang-orang seperti itu.

Adit kacamata

"Dulu itu aku nggak punya kemampuan untuk mengeluarkan semua uneg-unegku. Jadi, setiap kali kepikiran akan hal apa pun, jatuhnya malah menghajar kesehatan pencernaanku. Psikosomatis gitu jadinya," papar Adit.

Dia menambahkan, cuma sejak 2015, dia coba belajar untuk mendengar, memahami, dan mengeluarkan apa saja yang mengganjal di hati. Itu yang kemudian membuat Adit merasa lebih plong. Bisa nerimo. "Intinya sekarang, jangan baperan," tambahnya.

adit nguap

Sedikit tambahan, Adit mengaku mulai mengendalikan pikiran dengan caranya sendiri. Adit belajar sendiri untuk bisa kontrol diri, karena jika tidak lambungnya yang akan kena dan percaya tidak percaya, jika pikiran negatif terlalu lama di pikirannya, Adit akan diare.

"Jadi, aku nyadar sendiri, kalau apa-apa aku baperin kemudian sampai aku simpen di hati, kasihan usus dan pencernaan aku. Kasihan lambung aku juga. So, ya, lebih baik jangan dipikirin," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini