nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ditolak Jadi Pramugari Karena Dinilai Gendut, Manda : Aku Nangis Sejadi-jadinya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 11 Agustus 2019 04:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 10 612 2090358 ditolak-jadi-pramugari-karena-dinilai-gendut-manda-aku-nangis-sejadi-jadinya-SoyGhgtD33.jpg Cerita Manda yang ditolak jadi pramugari karena dinilai gendut (Foto : Ist)

Pramugari identik dengan sesuatu yang sempurna. Tubuh tinggi, kulit putih bersih, wajah unik, dan kemampuan bahasa yang mumpuni. Image itu tak bisa lepas dan sejatinya sulit diubah.

Standar 'perfect' itu mesti didapuk para pramugari. Tapi, karena standar itu juga akhirnya mencipta sebuah penilaian sosial yang bahkan menyebabkan perempuan bernama Maria Amanda Inkiriwang harus menelan pahitnya fakta, dirinya pernah menangis karena ditolak jadi pramugari. Dia dinilai terlalu gemuk dan tak memiliki wajah unik.

Ya, pada Okezone perempuan yang biasa disebut Manda itu coba menceritakan bagaimana dirinya harus menerima kenyataan kalau dirinya dianggap tak spesial di depan penguji sebuah maskapai domestik.

Namun, sebelum itu, Manda coba menjelaskan dulu bagaimana dirinya juga semasa kecil pernah diolok teman-teman karena tinggi yang tak biasa. Selain itu, tubuh krempeng yang dia miliki membuat dirinya kerap jadi bahan olokan.

Makan Tahu Busuk Biar Gemuk

Waktu kecil dulu aku cungkring banget. Termasuk kategori badan tinggi tapi kurus. Makan banyak juga tetap saja berat badannya gak nambah-nambah.

manda teman

Sebelumnya pernah dicekokin tahu bosok (tahu busuk) sama ibu, yang katanya bisa menambah nafsu makan. Tapi, ya, beratku gak nambah-nambah. Sampai aku ingat kelas 4 SD aku dibilangin sama temenku "tengkorak pensil". Nggak sampe nangis sih, tapi aku masih ingat aja sampai sekarang.

Tapi semakin usia bertambah, aku paham ternyata berat badan juga akan bertambah. Memang setiap orang sampai saat ini yang ketemu aku selalu nanya "tingginya berapa sih?" Ya, tinggi aku 173 cm. Tiap kali ditanya makan apa, ya, aku bilang makan bambu karena saking capeknya jawab pertanyaan yang itu-itu secara berulang.

Aku Ditolak Jadi Pramugari

Masa remaja untungnya gak ada masalah body shaming, tapi aku ngerasain hal itu di usia 22 tahun dan sampai sekarang sebetulnya.

Dulu ingin banget kerja ala-ala keliling kota, aku mikir kerja apa yang bisa kayak gitu. Oh, pramugari. Lantas, aku coba beragam maskapai dalam negeri dan luar negeri sampai belasan kali tapi nggak lolos juga. Sempat putus asa, akhirnya aku bilang sama diri sendiri, oke aku coba maskapai dalam negeri.

Ketika itu berat badan aku 65 kg dengan tinggi 173 cm. Dengan kondisi itu, kalau dilihat dari table BMI (Body Mass Index) aku masih dikategorikan normal, masih ada di kolom hijau.

Momen mendaftar pun datang. Di momen itu aku sangat berbeda, aku dandan cantik, bawa surat keterangan bebas narkoba, pakai heels, pokoknya sudah tampil paling ciamik.

Manda kacamata

Tahap awal biasanya kita diukur tinggi dan berat badan. Pas antrian aku tahu depan aku punya badan yang sebetulnya lebih besar dibandingkan aku. Wajahnya cantik eksotis, kulitnya putih, matanya lebar, hidung mancung, bibir tebal. Aku masih ingat sekali wajah si perempuan itu.

Namun pas ditimbang dan diukur tinggi dia sebetulnya tidak lolos. Namun, disuruh tunggu. Aku dengar salah satu panelis yang mantan pramugara itu bilang kepadanya dan rekan panelis lain, "Jarang kita menemukan wajah seperti kamu, kamu tunggu dulu deh."

Si mantan pramugara itu bahkan rela mencarikan baju untuk si perempuan supaya postur tubuhnya gak kelihatan besar saat masuk ke tahap 2.

manda jualan

Kemudian giliranku tiba. Aku ditolak! Langsung aku tanya, "Kok dia diterima, sementara aku nggak?" Lalu, si mantan pramugara itu bilang, aku ini bertubuh besar, bongsor! Nanti dia disalahkan kalau aku lolos.

Sementara itu, si pria itu menjelaskan juga kalau tolak ukurnya nggak cuma itu, tapi wajah yang unik jadi salah satunya. Well, aku berarti tidak unik, tidak cantik, tidak eksotis. Melengos aku tanpa permisi dan terima kasih. Nangis aku dijatuhkan seperti itu.

Air mataku jatuh tak terbendung. Sepanjang perjalanan pulang aku merasa tidak memiliki keistimewaan apapun. Aku dijatuhkan dengan cara yang sakit.

Kesedihan itu aku kubur. Kemudian aku mulai mencari tempat kerja dan diterima di salah satu media. Berat badanku makin lama makin bertambah. Temen-temenku yang tahu dulunya aku kurus mulai mencibir, "Lo gendutan ya, ah gak kenal, kok bisa gendutan, ndud ndud!"

Awalnya sih nggak apa-apa. Tapi lama-lama kok nyakitin, ya. Aku mulai coba kurangi makan, mulai diet. Gagal juga, aku pasrah saja.

Pernah dalam pertemuan keluarga ada saudara jauh yang kenal juga kagak, main ke rumah juga nggak pernah, tiba-tiba bilang, "Wah lemu-lemu (gemuk-gemuk), ya", "Wah, ini udah isi (hamil), ya?". Kesal sekali aku mendengar kalimat itu. Lalu, aku menjawab, "Iya, ini sudah isi, isi lemak," tukasku.

Aku Terima Kenyataan dan Bangkit

Mendengar banyak hinaan, aku letih sendiri. Cuma titik baliknya kalau seperti ini terus, mindset orang akan terus body shaming.

Aku tadinya lumayan stres dikatain terus karena posturku nggak kurus lagi. Lalu aku mulai dari diri sendiri dulu. Mengurangi basa-basi yang berkenaan dengan fisik, menghentikan pertanyaan seperti, "Lo gendutan, ya. Lo kurusan, ya, putihan deh, kok iteman?"

Manda kece

Kalau masih menanyakan hal yang sama, kita gak bakal bisa mengubah persepsi kita secara fisik ke orang lain. Buat apa bertanya seperti itu, ada faedahnya dengan masa depan kita? Aku berpikir seperti itu.

Aku mulai memaklumi orang-orang yang kerap mengomentari tubuh atau menanyakan kabar basa-basi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung secara fisik.

Biasanya aku selalu menanggapi mereka yang mencela fisiknya sendiri untuk menghargai dirinya. Ketika kita bisa menghargai diri sendiri, kita bisa menenangkan orang lain yang sebenarnya tidak nyaman dengan dirinya sendiri.

Jadi intinya stop menanyakan pertanyaan basa-basi terkait fisik. Karena kita gak tau pertanyaan yang dilontarkan itu bisa bikin kepikiran orang yang ditanya. "Berat badan naik gak dosa lagi," prinsipku.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini