nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jadi Korban Body Shaming, Selebgram Intan Kemala Sampai Detoks Media Sosial

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 11 Agustus 2019 13:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 11 196 2090509 jadi-korban-body-shaming-selebgram-intan-kemala-sampai-detoks-media-sosial-ml0Kt0ZFw7.jpg Intan Kemalasari selebgram korban body shaming (Foto: Instagram/@kemalasari)

ISU bullying, termasuk soal body shaming atau mengomentari soal bentuk tubuh seseorang masih sangat banyak terjadi di lingkungan sosial kita. Tidak hanya di dunia nyata, namun juga gencar di dunia maya. Ya, para netizen seolah dengan gampangnya mengetikkan komentar-komentar negatif perihal bentuk tubuh seseorang.

Korban body shaming ini pun beragam, mulai dari artis, anak artis, orang biasa, hingga selebgram. Contohnya yang dialami oleh Intan Kemala, selebgram hijaber yang namanya cukup populer di dunia maya terutama di kalangan selebgram bertubuh size plus.

 Body shaming

Kepada Okezone, Intan secara gamblang menceritakan pengalamannya menjadi korban body shaming dan bagaimana caranya ia melawan para haters tersebut.

Intan mengungkapkan, perihal ejekan para netizen mengenai tubuh besarnya sudah ia mulai terima bahkan sejak 2016 silam. Tepatnya saat dirinya mulai rajin mengunggah potret OOTD (Outfit of The Day) di akun laman Instagram pribadinya, yang memperlihatkan full-shot tubuhnya.

 Intan kemalasari

“Dimulai pas gue rajin posting foto-foto seluruh badan ke Instagram, tahun 2016-an. Awalnya komentar kayak, “ih gendut banget”, “wow gede ya”, atau “sok kepedean”,. Selain komentar, direct messages juga ada tapi lebih banyak komentar,” ungkap Intan, saat dihubungi Okezone melalui sambungan telefon baru-baru ini.

Mendapat komentar negatif bernada body shaming, awalnya Intan memilih untuk tidak menggubrisnya. Namun lama-lama ia mengaku merasa harus sampai mengkurasi keywords kata-kata tertentu untuk akun laman Instagramnya tersebut.

“Komen sih diemin saja, kecuali yang sudah nyebelin banget biasanya langsung gue report as spam kan itu auto-block. Awal-awal 2016-2017 tiap foto ada saja yang ngatain, tapi sekarang gue pilih filter komen. Misalnya keyword gendut, gajah, babon ya semacam itulah kalau dituliskan di komen bakal kehapus sendiri,” tambah wanita yang berprofesi sebagai editor gaya hidup satu ini.

Walau memilih untuk melawan balik para haters yang mengolok-oloknya tersebut, tapi Intan tidak menampik bahwa sebagai manusia biasa ia pernah merasa sakit hati dan marah diperlakukan demikian oleh orang-orang yang notabene tidak mengenalnya di dunia nyata. Bahkan Intan sampai di satu titik merasa dirinya harus puasa, menjauhkan diri dari energi negatif di linimasa media sosial.

 Intan kemalasari

“Pernah sudah benar-benar lelah, capek main Instagram. Merasa sudah enggak sehat buat kesehatan mental. Mutusin untuk puasa main IG sekitar dua mingguan, lalu juga tidak terima endorsed, sempat lihat IG sebentar tapi ngerasa belum sehat, akhirnya detox lagi 2 minggu, dan fokus sama mindset kalau media sosial itu bukan satu-satunya kehidupan,” ujar Intan.

Saat sudah merasa komentar body shaming yang ia terima sudah keterlaluan, walau marah namun Intan memilih untuk ‘fight back” hatersnya tersebut dengan cara yang elegan dan klasik. Ia tidak mau terpancing untuk mengeluarkan kalimat-kalimat kasar.

“Kalau komennya sudah menyulut amarah biasanya langsung gue lawan balik. Istilahnya ayok deh adu bacot, dia punya pemikran ya gue juga punya pemikiran sendiri. Menurut gue ini cara melampiaskan amarah gue in classy way, gue enggak balas dengan kata"-kata kasar. Nyinyir elegan lah, biasanya sih kalau model begini gue enggak mau kasih panggung,”sambung Intan.

Tidak hanya itu, salah satu cara membalas para haters yang menindasnya tersebut, Intan mengaku terkadang ia mempublikasikan netizen pelaku body shaming tersebut ke hadapan publik, dengan cara mengunggah komentar atau pesan yang disampaikan pelaku body shaming tersebut di fitur InstaStory. Dengan tujuan agar bisa diketahui dan dilihat oleh publik.

“Kalau lagi iseng, gue captured komen atau DM nya terus unggah di story. Tujuan gue sih sebetulnya untuk meningkatkan kepedulian, kalau yang namanya bullying is not ok termasuk body shaming. Mau kasih tahu ke followers gue yang lain, kalau kita jadi korban bully, kita harus bisa speak up dan fight back,” serunya.

Di kesempatan yang sama, Intan juga bercerita menjadi korban body shaming ia sendiri lebih merasa miris pada kenyataan bahwa pelaku body shaming terhadap dirinya ternyata kebanyakan adalah sesama perempuan. “DM hate speech itu kebanyakan perempuan, miris sih sesama perempuan bukannya saling support malah menjatuhkan malah ngatain. Enggak make sensed saja. Menurut gue jadi double standard, lu sebagai perempuan enggak mau diapa-apain, tapi parahnya lu malah melakukan hal itu ke sesama perempuan,” tandas Intan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini