nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Inspiratif Fern Chua Desainer Batik Malaysia, Berani Dobrak Konsep Tradisional!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 13 Agustus 2019 03:22 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 12 194 2091074 kisah-inspiratif-fern-chua-desainer-batik-malaysia-berani-dobrak-konsep-tradisional-57DDdr9yVT.jpg Kisah Inspiratif desainer batik asal Malaysia (Foto: Optiontheedge)

JIKA Anda mengira batik hanya ada di Indonesia, maka Anda salah besar. Sebab, desainer ini membuktikan kalau Malaysia pun punya batik dan keindahannya tak kalah dengan yang ada di tanah air. Bahkan dia bernai dobrak konsep tradisional dan ciptakan kesan batik yang lebih modern.

Adalah Fern Chua, perempuan yang satu ini adalah salah seorang desainer batik modern yang masih bertahan di era digital seperti sekarang. Malah, baginya batik tradisional lebih punya makna dan lebih indah dibandingkan batik cap yang sekarang banyak diproduksi.

Dalam kesempatan ini, Okezone coba menceritakan awal mula dirinya menjadi desainer batik dan apa suka dukanya menggeluti dunia fashion tradisional.

Fern Chua

Dikutip dari South China Morning Post, Fern Chua, pemilik brand fashion 'Fern', menceritakan kalau dirinya awalnya tidak mengenal dunia fashion sama sekali. Latar belakang pendidikannya ialah komunikasi dan tidak ada keahlian dalam hal mendesain pakaian atau bahkan menjahit.

Tapi, kecelakaan besar menimpanya dan itu menjadi awal mula dirinya terjun ke dunia fashion. Dalam keterangannya, Chua menjelaskan kalau dirinya mengalami cedera pada tangan dan karena itu dia sulit menggerakkan tangannya.

Namun, dalam kondisi tersebut, dia ingin bisa melakukan suatu keahlian, makanya menjahit jadi pilihannya untuk mengaktifkan kembali fungsi tangannya. Berhasil, secara perlahan dia bisa menjahit dan karena itu juga dia jadi mengenal dunia membatik.

"Hampir 10 tahun yang lalu saya mengalami kecelakaan mobil," kata Chua. “Kecelakaan itu benar-benar mengubah hidupku, benar-benar membuat saya terguncang. Saya masih tidak tahu bagaimana saya bisa selamat. Itu membuat saya berpikir dan saya perlu merehabilitasi gerakan tangan saya, jadi saya memutuskan untuk belajar cara menjahit,” tambah desainer ini.

Proses belajar menjahit Chua perlahan. Dia sadar kalau dirinya tak punya keahlian sama sekali. Dia memilih tempat belajar di toko penjahit lokal dan di sana dia mengaku belajar dasar-dasar menjahit, seperti membuat pola, memotong, dan menjahit. Semua dilakukan dengan mesin jahit kuno.

“Itu memberi saya dasar untuk memahami bagaimana membuat pakaian dan kebetulan suatu hari ketika saya keluar saya melihat sepotong batik dan berpikir itu sangat indah; batik print yang bermotif blok biru dan putih. Saya membelinya dan membuatnya menjadi sun dress, tuturnya.

 karya Fern Chua

Dia kemudian berpikir, ada begitu banyak potensi yang bisa dikembangkan dari batik dan saya berpikir, mengapa tidak ada yang melakukan sesuatu yang berbeda?

Dia melakukan perjalanan ke utara Malaysia, pusat batik di negara itu, dan belajar teknik tradisional dari seniman batik di negara bagian Terengganu dan Kelantan. Lebih dari sekadar proses pewarnaan tahan lilin, batik secara tradisional dikaitkan dengan alat dan motif tertentu, dan kain yang dihasilkan paling umum digunakan untuk membuat pakaian tradisional Melayu: baju kurung, sarung, dan kaftan.

“Tetapi saya berpikir: mengapa pakaian tradisional begitu mengakar? Saya ingin mencobanya dengan gaya yang berbeda dan ketika saya mulai, orang-orang berpikir saya agak gila," ucapnya ringan.

Chua kemudian menjadi desainer batik yang 'gila'. Dia dikenal sebagai pemberontak batik dengan alasan menghindari alat canting seperti pena konvensional untuk kuas, spons - apa pun yang bisa dia gunakan yang akan menyampaikan desainnya yang berani dan mencolok.

Karya batik Chua yang sangat modern

 karya batik

Terkenal sebagai desainer yang memberontak, apakah karya Chua sembrono? Dalam sesi wawancara itu, Chua menjelaskan kalau motif batiknya terinspirasi dari alam, tetapi jarang terbentuk pola bunga di sana. Dedaunan, kelompok karang, gulungan ombak, atau sesuatu yang merekah adalah ciri khasnya.

Lalu, bagaimana dengan cuttingan? Chua yang tak terlalu berkiblat ke batik tradisional ternyata lebih memilih cuttingan modern, seperti shift dresses, easy shirts, drapey blouses, dan wrap skirts.

"Ada persepsi bahwa batik selalu tentang sarung dan motif tradisional haru ada di pakaian batik," katanya. “Tapi batik hanyalah teknik untuk menyalurkan segala jenis desain. Orang-orang selalu bertanya bagaimana desain kami juga bisa disebut batik, tetapi yang tidak dipahami adalah bahwa 'batik' secara harfiah mengacu pada teknik, bukan gaya motifnya," terangnya.

Perlahan, orang-orang skeptis mengubah pandangan mereka. Chua memiliki pelanggan lokal dan internasional, dan baru-baru ini merayakan pembukaan butik unggulan baru di Kuala Lumpur. Berjalan ke toko Fern yang mewah adalah pengalaman; ini adalah pernyataan yang kuat di Malaysia - bahwa merek lokal, yang diambil dari bentuk seni tradisional, dapat menempati ruang yang sama indahnya dan mengesankan seperti label internasional mana pun.

"Ada perubahan yang pasti, dan baru-baru ini dalam dua tahun terakhir," kata Chua. "Sebelum itu, orang tidak menghargai merek lokal. Tetapi sekarang orang mulai memahami bahwa Anda harus mendukung lokal. Masih banyak pendidikan yang perlu dilakukan, tetapi telah terjadi pergeseran.

“Konsumsi berlebihan fast fashion jelas salah satu alasan utama. Ya Tuhan, saya mengenakan pakaian yang persis sama dengan orang lain!" Secara harfiah ribuan orang semuanya mengenakan pakaian Zara yang sama. Dan itu membuatmu takut. Ini adalah budaya beli yang kompulsif di mana orang hanya membeli tanpa memikirkan konsekuensinya," ungkapnya.

 batik modern

Sementara itu, desain Chua kebalikan dari itu. Perlu Anda ketahui, semua kain digambar tangan dan setiap pakaian dibuat di Malaysia, menghasilkan potongan-potongan eksklusif yang menceritakan sebuah kisah.

“Orang-orang mengakui bahwa ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan, kau tahu? Menyadari bahwa produk artisanal memiliki sentuhan manusiawi terhadapnya,” katanya. “Pada akhirnya, batik adalah bentuk seni yang sangat indah dan jika lebih banyak orang dapat melihat keindahan itu karena apa yang kita lakukan, itu adalah hal yang sangat baik," pungkasnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini