nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dipanggil Gorila Coklat, Tentry Yudvi Pilih Bangkit dan Sebarkan Body Positivity

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 12 Agustus 2019 13:59 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 12 612 2090842 dipanggil-gorila-cokelat-tentry-yudvi-pilih-bangkit-dan-sebarkan-body-positivity-E5hPVt2IA6.jpg Tentry Yudvi bangkit dari perlakuan body shaming (Foto : @tentryudvi/Instagram)

Jangan menutup mata, lingkungan sosial kita punya standar khusus dalam menilai sesuatu. Tak terkecuali makna cantik. Banyak orang masih beranggapan cantik adalah tinggi, kurus, berkulit putih, dan rambut panjang lurus. Hal ini terus diamini sampai akhirnya tindakan body shaming pun menggunung di sosial.

Mereka yang tak masuk dalam standar makna sosial dianggap aneh dan jelek. Tak sedikit yang akhirnya melontarkan ejekan hingga body shaming tanpa tahu apa dampak yang ditimbulkan.

Tentry Yudvi merasakan kondisi itu sejak kecil. Air mata sampai tak terbendung saat tahu dirinya 'ditolak' sosial. Namun, tak mau ikut larut dalam kesedihan, Tentry memilih bangkit dan kini dia berdamai dengan tubuhnya pun sosial.

Tentry Yudvi

Pada Okezone, Tentry menceritakan secara gamblang bagaimana masa kecilnya yang penuh dengan hinaan dan akhirnya sekarang bisa menyebarkan hal positif ke lingkungan sosial. Seperti apa kisah Tentry?

Masa kecilku

Aku lahir sebagai anak pertama dan cucu pertama sehingga dari kecil aku selalu dimanjakan oleh makanan. Karena, kata mama, aku suka makan, kalau aku telat makan bisa ngamuk. Jadi, setiap orang datang ke rumah untuk main sama aku, aku sering dibawain makanan terutama fast food.

Hal itu yang akhirnya membuat badanku gemuk sejak kecil. Waktu aku TK, badan aku paling gendut sendiri. Sudah paling gendut, aku keriting, dan kulitku hitam. Kondisi itu membuat teman-teman lainnya takut main sama aku. Karena, bentuk badanku menyeramkan.

masa kecil tentry

Terus, pas aku SD, aku masuk ke sekolah swasta. Di sana anak-anak mainnya nge-geng. Nggak ada yang ngajak aku main dan mau masukin aku ke geng mereka. Terus, waktu zaman itu juga ramai iklan Gorila cokelat. Nah, anak-anak usiaku sering menghina aku dengan sebutan gorila cokelat, karena kulitku cokelat, rambut keriting, dan badan aku gemuk yang sekarang mungkin termasuk body shaming.

Bahkan, beberapa anak cowok di kelasku juga suka jail sama aku. Aku pernah dilempar tepung, kacamata aku disembunyiin, dan aku kerap dibilang gendut. Dulu orang jarang main sama aku, paling kalau main tuh, karena kerja kelompok saja. Hal ini terus berlanjut sampai SMP.

Di momen itu, aku masuk sekolah negeri. Bully itu masih berlanjut terutama dari teman-teman cowok. Mereka sering ngatain aku gendut, item, atau jelek, karena aku berbeda dari teman perempuan pada umumnya.

Di saat itu, aku masih belum mengerti yang namanya menghargai diri sendiri, speak up, dan membela diri sendiri, karena aku enggak dapat ilmu itu di sekolah dan rumah. Bentuk bully itu membuat aku depresi.

Tentry Yudvi hitam

Ya, karena bully-an yang aku terima, aku sering mengurung diri di kamar, terus aku jadi bully adik aku juga tanpa aku sadari. Aku seperti menyimpan amarah begitu besar tapi enggak tahu mau dilampiasin ke siapa.

Aku benar-benar nggak percaya sama diri sendiri, aku bahkan enggak mau ngaca, karena aku merasa diriku itu jelek banget. Bahkan pernah ada momen yang betul-betul membuat aku sangat terpuruk. Saat itu aku duduk di kelas 2 SMP. Di momen itu, akubertekad untuk meluruskan rambut, karena saat itu lagi zaman 'ngelurusin' rambut permanen.

Setelah aku coba, bukan dapat pujian, teman-teman aku waktu SMP di kelas ngatain aku mirip kuntilanak dan genderuwo! Sedih, aku pulang sekolah selalu nangis di kamar. Aku cerita ke mama, mama aku enggak terima dan lapor ke kepala sekolah untuk memberi tindakan tegas pelaku bullying tapi tetap aja enggak ada pembelaan.

Setelah kejadian itu, aku jadi anak yang pemarah, benci orang, gampang terhasut, dan merasa dunia itu enggak adil banget buatku. Setiap di jalan, aku dipanggil gendut sama orang-orang dan anak-anak kecil. Kondisi ini terus terjadi dan Semakin membuat aku menyimpan rasa amarah dalam diriku. Dulu manalah aku kenal terapis, karena orangtua enggak mengenalkan itu. Body shaming itu aku alami sampai sekarang.

Tentry Bangkit dan Sebarkan Positive Vibes

Singkat cerita, ada sebuah kejadian di mana aku baru lepas dari 'abusive relationship' di 2011 dan saat itu aku mengenal ilmu feminisme yang juga membahas soal body shaming terutama pada perempuan.

Barulah, aku sadar, kenapa ya, tubuhku itu dianggap berbeda dari dulu, karena dari kecil kita hanya tahu perempuan cantik itu tubuhnya langsing, kulitnya putih, dan berambut lurus panjang.

Sejak aku belajar feminisme, aku jadi mendalami ilmu soal self-identity dan membawa aku mengenal tentang body positivity. Aku belajar self-acceptance, self-respect, dan self-love.

Tentry aktivis body shaming

Dalam kondisi tersebut, aku berdamai dengan diriku sendiri dan hal itu menjadi titik balik hidupku yang kala itu usiaku 22 tahun. Susah sekali rasanya untuk berdamai dengan diri sendiri. Terus, aku ngaca di kamar. Di situlah aku menangis sejadi-jadinya, karena aku merasa bersalah sama diri sendiri.

Selama ini aku selalu membiarkan orang bertindak jahat terhadap tubuhku, selama ini aku membiarkan kata-kata negatif melekat di tubuhku, dan aku cuek saja dengan semua itu.

Aku Berdamai dengan Semua

Proses aku berdamai itu cukup lama, karena aku lakukan setiap hari. Selama berdamai, aku juga memaafkan semua orang yang melakukan bully terhadapku. Kemudian, aku lakuin affirmasi kalimat-kalimat positif seperti 'Saya cantik', 'Saya Layak dan berharga' dan lainnya.

Tindakan itu aku lakukan setiap hari saat bangun dan sebelum tidur. Ada kali aku rutin lakukan itu sampai 2014, sampai akhirnya aku mendapatkan ketenangan batin. Nah, saat aku sudah bangkit, aku dapat ketenangan batin dan aku percaya diriku tumbuh kembali.

Aku semakin 'bodo amat'. Jadi, kalau di jalan orang-orang suka ngatain aku gendut dan item, karena, ya, memang itulah aku. Dan, kalau kita baper terus setelah dikatain, capek yang ada dan itu menguras energi positif yang sudah kita bangun.

Tentry aktivis body shaming

Untuk sekarang, aku lebih banyak diam, tapi do action dan bersikap bodo amat. Walau pun tubuhku gemuk, rambutku keriting, dan kulitku cokelat, aku tetap cantik dan seksi kok.

Jadi, setelah aku menerima diri aku, aku belajar untuk merawat diri sendiri. Aku mulai jatuh cinta sama mewarnai rambut dan itu juga yang membuat aku berani memakai baju-baju warna mentereng, dan merawat kulitku dengan skin care. Tindakan ini membuat aku jadi lebih sayang sama diri sendiri dan peduli sama diri sendiri ketimbang omongan orang lain.

Eh, enggak disangka, saat aku fokus sama diri sendiri, orang banyak terinspirasi dariku. Dan, mereka bilang penampilan aku unik dan keren. Hal ini tentu sangat memengaruhi diriku dan itu juga yang membuat ajy semakin giat menebarkan hal positif di sekitarku.

Makna Body Shaming dan Nasihat untuk Pelaku

Body Shaming itu buatku adalah bentuk kurangnya pendidikan moral dari orang tua dan pendidik di sekolah. Pendidikan tentang mengajarkan anak mengenai toleransi, pengendalian emosi, kasih sayang terhadap teman, dan empati dari orang tua dan pendidik sejatinya mesti diberikan sejak dini.

Nah, untuk para pelaku body shaming, aku hanya berpesan untuk kalian sebaiknya intropeksi diri aja, enggak ada manusia sempurna di dunia ini. Aku rasa pelaku bully itu adalah bentuk pelampiasan dari kehidupan dia sendiri.

Mungkin aja, di rumah dia kurang diperhatikan sama orangtua, kurang mendapatkan kasih sayang, dan bisa saja dia juga korban bully, sehingga, dia lampiaskanlah ke orang lain. Bagiku, itu sudah seperti mata rantai yang seharusnya diputus dari pelaku.

Dan, sudahlah, menghina orang itu bukanlah bentuk aktualisasi diri positif yang mana jika kita menanamkan kalimat negatif terhadap orang lain, itu sama saja dengan kita menanamkan kalimat negatif ke diri sendiri. Mulailah sayangi diri sendiri.

Tentry Yudvi kece

Sementara itu, untuk para korban body shaming, aku tahu saat ini kamu merasa dunia sedang tidak adil denganmu. Mulai rangkulah dan sayangi dirimu sendiri, jangan kalah dengan omongan-omongan dan judge orang terhadap diri kita. Sebab, siapa pun kamu, kamu itu luar biasa, kamu berharga, kamu cantik, dan kamu layak untuk dapatkan panggung untuk dirimu sendiri.

Mulailah hargai diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, dan galilah potensi diri kita. Kamu enggak perlu orang lain untuk merawat dan menghargai diri sendiri, kamu hanya perlu dirimu dan percayalah sama dirimu. Karena, kamu layak mencintai dirimu sendiri.

Lalu, jangan sungkan untuk cerita, ya. Ceritalah ke orang terdekat tentang pengalaman kamu. Jika memang butuh, ada tenaga ahli seperti psikolog yang siap membimbing kita. So, tetap semangat, optimis, dan sayangi diri kamu sendiri.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini