nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dipanggil Gorila Coklat, Tentry Yudvi Pilih Bangkit dan Sebarkan Body Positivity

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 12 Agustus 2019 13:59 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 12 612 2090842 dipanggil-gorila-cokelat-tentry-yudvi-pilih-bangkit-dan-sebarkan-body-positivity-E5hPVt2IA6.jpg Tentry Yudvi bangkit dari perlakuan body shaming (Foto : @tentryudvi/Instagram)

Bahkan, beberapa anak cowok di kelasku juga suka jail sama aku. Aku pernah dilempar tepung, kacamata aku disembunyiin, dan aku kerap dibilang gendut. Dulu orang jarang main sama aku, paling kalau main tuh, karena kerja kelompok saja. Hal ini terus berlanjut sampai SMP.

Di momen itu, aku masuk sekolah negeri. Bully itu masih berlanjut terutama dari teman-teman cowok. Mereka sering ngatain aku gendut, item, atau jelek, karena aku berbeda dari teman perempuan pada umumnya.

Di saat itu, aku masih belum mengerti yang namanya menghargai diri sendiri, speak up, dan membela diri sendiri, karena aku enggak dapat ilmu itu di sekolah dan rumah. Bentuk bully itu membuat aku depresi.

Tentry Yudvi hitam

Ya, karena bully-an yang aku terima, aku sering mengurung diri di kamar, terus aku jadi bully adik aku juga tanpa aku sadari. Aku seperti menyimpan amarah begitu besar tapi enggak tahu mau dilampiasin ke siapa.

Aku benar-benar nggak percaya sama diri sendiri, aku bahkan enggak mau ngaca, karena aku merasa diriku itu jelek banget. Bahkan pernah ada momen yang betul-betul membuat aku sangat terpuruk. Saat itu aku duduk di kelas 2 SMP. Di momen itu, akubertekad untuk meluruskan rambut, karena saat itu lagi zaman 'ngelurusin' rambut permanen.

Setelah aku coba, bukan dapat pujian, teman-teman aku waktu SMP di kelas ngatain aku mirip kuntilanak dan genderuwo! Sedih, aku pulang sekolah selalu nangis di kamar. Aku cerita ke mama, mama aku enggak terima dan lapor ke kepala sekolah untuk memberi tindakan tegas pelaku bullying tapi tetap aja enggak ada pembelaan.

Setelah kejadian itu, aku jadi anak yang pemarah, benci orang, gampang terhasut, dan merasa dunia itu enggak adil banget buatku. Setiap di jalan, aku dipanggil gendut sama orang-orang dan anak-anak kecil. Kondisi ini terus terjadi dan Semakin membuat aku menyimpan rasa amarah dalam diriku. Dulu manalah aku kenal terapis, karena orangtua enggak mengenalkan itu. Body shaming itu aku alami sampai sekarang.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini