nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Haru Dita, Punya Orangtua Beda Agama Tapi Tetap Mesra

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 20 Agustus 2019 10:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 20 196 2094165 kisah-haru-dita-punya-orangtua-beda-agama-tapi-tetap-mesra-p02d8UjOA5.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ISU perbedaan agama memang masih menjadi isu yang cukup sensitif di Indonesia. Padahal, tidak semua perbedaan harus dihadapi dengan pertentangan.

Nah, seorang wanita bernama Candra Dita Mumpuni membagikan sebuah kisah inspiratif melalui akun twitter pribadinya @Candraditaa.

“Sedih liat orang-orang pada debat soal agama lagi. Sebenarnya ini udah pernah aku share di Instagram pribadi. Tapi sekarang aku drop di sini. Semoga bisa menyejukkan suasana ya,” tulisnya.

Dita terlahir di sebuah keluarga yang memiliki perbedaan keyakinan. Ayahnya adalah seorang muslim yang taat, sementara ibunya adalah seorang Nasrani. Kendati demikian, ia dan sang kakak dididik dengan sangat baik oleh kedua orangtuanya.

“Kedua orangtuaku berbeda keyakinan, tetapi kami menjadi sangat menghargai perbedaan, tidak hanya dalam segi agama tetapi juga toleransi,” tutur Dita saat dihubungi Okezone via sambungan telepon.

Dita yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) merengek minta dibelikan makanan karena sudah tidak bisa menahan rasa lapar.

Masih membekas di hati dan pikiran Dita sebuah pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan ketika sang ayah menjemputnya dari sekolah. Kala itu, Dita yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) merengek minta dibelikan makanan karena sudah tidak bisa menahan rasa lapar.

“Waktu itu bulan puasa. Aku merengek minta makan di restoran. Namanya anak kecil kan ya maunya makan yang enak-enak sebangsa KFC dll. Ya udah dong, masa anaknya laper ga dibolehin makan gara-gara bapaknya puasa? Akhirnya kami duduk di KFC. Bapak hanya melihat dan tersenyum melihat aku makan dengan lahap,” kenang Dita.

Berawal dari pengalaman tersebut, Dita mulai menyadari arti toleransi yang ia dapatkan langsung dari sosok pria yang sangat ia cintai. Begitu pun ketika ia, kakak, nenek, dan ibunya hendak melaksanakan ibadah di gereja. Ayah Dita dengan senang hati mengantarkan mereka hingga ke depan pintu gereja.

"Sembari menunggu aku, kakak, ibu, dan Mbah Uti selesai ibadah, bapak mencari masjid terdekat untuk menunaikan salat atau sekadar beristirahat," timpalnya.

Dita melanjutkan, nilai-nilai toleransi juga diajarkan oleh sang ibunda tercinta. Setiap hari, beliau selalu menyiapkan baju koko dan sajadah untuk digunakan oleh ayahnya. Tak terkecuali ketika bulan Ramadhan tiba.

“Saat sahur, ibu juga sudah menyiapkan makanan untuk bapak. Dan momen berbuka adalah yang paling menyenangkan. Aku diajak berkeliling sama bapak mencari es untuk berbuka, dan di rumah pun kami makan bersama-sama menemani bapak berbuka. Bahkan yang lebih banyak makan takjilnya itu aku,” ujar Dita.

Keharmonisan ini pun terus berlanjut pada momen-momen atau hari besar lainnya. Seperti saat mereka tengah mengadakan acara kebaktian atau pengajian di rumah. Dita dan keluarganya selalu bekerja sama dengan baik untuk menyiapkan seluruh keperluan.

Ketika natal tiba, Dita mengatakan bahwa mereka selalu punya tradisi khusus untuk berlibur ke rumah keluarga besar dari pihak ibunya. Saat semua anggota keluarga merayakan natal di gereja, sang ayah memutuskan untuk tinggal di rumah agar bisa membersihkan seluruh ruangan sebelum para tamu berdatangan.

“Saat lebaran, kami juga akan berkeliling berempat ke tetangga-tetangga untuk mengucapkan selamat Lebaran. Lalu berkumpul bersama,” tambahnya.

Sebelum menutup cerita, Dita mengatakan bahwa ayahnya sering mengajarkan nilai-nilai kehidupan dari ayat-ayat Alquran, serta menceritakan beberapa kisah-kisah nabi untuk dijadikan sebuah nasihat dan petuah hidup. Dita tak pernah menolak atau keberatan menerima ajaran tersebut karena ia tahu betul ayahnya punya maksud yang baik.

“Yaa semoga ceritaku ini bisa buat kalian adem di tengah kepanasan komen-komen toxic ya hehe. Diambil baiknya, dibuang buruknya. Toleransi masih ada loh di Indonesia. Lihat kita bisa hidup berdampingan dengan damai tanpa mengusik satu sama lain,” pungkas Dita.

Cerita Dita pun menuai pujian dari para netizen. Bahkan hingga berita ini dituliskan, ulasan tersebut telah dibagikan oleh lebih dari 8,4 ribu retweet dan dibanjiri ratusan komentar netizen.

“Semales-malesnya gua baca, ga rugi buat baca ginian. Semoga selalu diberikan keberkahan buat keluarga kalian,” tulis akun @lausokapp.

“Tuhan memberkati keluarga kakak, makasih sudah bercerita seindah ini,” tulis akun @IDestyfitriana.

“Hebat. Salam sejahtera untuk keluarga dan ayahanda. Terima kasih telah menginspirasi,” tulis akun @AjieKlowor.

 Jangan terlalu diambil pusing soal orang yang suka ngomongin hal ini mulu.

“Doa terbaik buat keluargamu mba. Jangan terlalu diambil pusing soal orang yang suka ngomongin hal ini mulu. Tetap hidup berdampingan, enggak susah kok, jauh menyenangkan kataku. Ya namanya +62 banyak nganggur jadi sibuk kerjanya ya ngurusin hidup orang lain hehe,” tulis akun @Dannypst_

Namun, tak sedikit pula netizen yang mempertanyakan proses pemilihan agama yang dilakukan Dita mengingat kedua orangtuanya memiliki keyakinan yang berbeda. Seperti cuitan dari akun @hyperByyun.

“Serius nanya, pas kakak milih agama gimana? (maaf kalo gak sopan),” tulisnya.

“Karena dari kecil bapak dan ibu LDR beda pulau. Saya ikut ibu. Otomatis sering ke gereja dan sekolah swasta katolik. Dari dulu sudah nyaman pergi ke gereja dan masih nyaman sampai sekarang hehe,” jawab Dita.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini