nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terjebak Polusi Udara saat Macet? Ini Cara Paling Mudah Mengatasinya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 21 Agustus 2019 12:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 21 481 2094705 terjebak-polusi-udara-saat-macet-ini-cara-paling-mudah-mengatasinya-ibiqZ3IuBc.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SEJAK beberapa bulan lalu, Jakarta dinobatkan sebagai kota yang paling berpolusi di dunia. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya polusi udara yang disebabkan oleh pabrik maupun kendaraan bermotor.

Sebagaimana diketahui, kendaraan bermotor non-listrik menghasilkan polusi udara. Beberapa zat yang dihasilkan dari hasil pembakaran adalah nitrogen dioksida, hidrokarbon dan partikel kimia ultrafine.

Tentunya polutan ini sangat berbahaya apabila tidak sengaja terhirup oleh manusia. Berbagai masalah penyakit kronis bisa menghantui, mulai dari jantung, paru-paru, disfungsi sistem saraf, reproduksi dan kekebalan tubuh.

Sejumlah penelitian mengatakan orang yang tinggal dekat dengan jalan raya akan memiliki risiko tinggi pada masalah kesehatan. Para orangtua maupun seseorang yang mengalami penyakit paru, sangat rentan terhadap polusi dari kendaraan.

Para orangtua maupun seseorang yang mengalami penyakit paru, sangat rentan terhadap polusi dari kendaraan.

Nah, masalah lain yang sering dihadapi selama berada di kota besar adalah panas terik dan kemacetan lalu lintas. Hal ini tentu sangat berisiko karena reaksi polusi dari panas matahari bisa mempercepat reaksi kimia terhadap kesehatan.

Melansir dari Times, menutup jendela mobil dan menyalakan pendingin ruangan merupakan salah satu cara yang dianjurkan untuk mencegah polusi berbahaya.

Para pemilik mobil juga dianjurkan untuk menggunakan filter pada kabin mobil untuk mengurangi jumlah polutan yang masuk ke dalam kendaraan. Namun, Anda juga wajib melakukan pengecekan secara rutin dan mengganti filter pada kabin jika mulai usang.

Menurut Jurnal Environmental Health yang diterbitkan pada 2014 menemukan bahwa filter kabin yang dipasang dalam kendaraan mampu menghilangkan 46 persen polusi udara. Meski demikian, filter ini tidak mampu membersihkan nitrogen dioksida (NO2).

Oleh sebab itu, filter kabin membutuhkan elemen penyaring tambahan yang disebut dengan karbon aktif. Filter yang sudah dilengkapi oleh karbon aktif dapat mencegah masuknya NO2 sebesar 75 persen dan hidrokarbon sebesar 50 persen.

Oleh sebab itu, filter kabin membutuhkan elemen penyaring tambahan yang disebut dengan karbon aktif.

Profesor Ilmu Kesehatan Lingkungan di Sekolah Tinggi Kesehatan Masyarakat Fielding UCLA, Yifang Zhu, menunjukkan efisiensi udara partikel tinggi (HEPA) dan nilai pelaporan efisiensi minimum (MERV).

Lebih lanjut, dua acuan tersebut menjadi standar yang menjelaskan kemampuan filter udara dalam ruangan untuk membersihkan polusi udara. Namun, para pengguna pun harus selektif dalam memilih filter kabin yang baik untuk digunakan.

"Tidak seperti filter HVAC untuk lingkungan dalam ruangan, filter kabin mobil tidak memiliki peringkat untuk menunjukkan kepada konsumen mana yang benar-benar efektif," kata Zhu.

Zhu juga menganjurkan kepada masyarakat untuk rutin mengganti filter kabin setiap enam hingga satu tahun sekali. Namun hal ini juga bisa berubah sesuai dengan seberapa sering mobil digunakan.

Pengendara mobil juga dapat mengaktifkan fungsi resirkulasi udara pada sistem pendingin untuk mencegah polutan masuk ke dalam kendaraan. Tapi, cara ini tidak dianjurkan untuk digunakan terlalu lama.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini