nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Risiko Melahirkan Bayi Berukuran Besar Melalui Persalinan Normal

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 22 Agustus 2019 14:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 22 481 2095219 risiko-melahirkan-bayi-berukuran-besar-melalui-persalinan-normal-mOhBYBBFEX.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Menjelang saat-saat melahirkan, tak sedikit ibu hamil yang berharap bisa melewati proses persalinan secara normal. Namun tak semua ibu hamil bisa melahirkan melalui proses pervaginam.

Ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat ibu hamil harus melewati persalinan operasi caesar, salah satunya adalah ukuran bayi yang terlalu besar.

Bila ibu hamil memaksakan diri untuk melahirkan bayi yang ukurannya besar melalui persalinan normal, maka bisa terjadi kerobekan vagina yang cukup parah.

 Perempuan dibantu suami dan dokter

Pada dasarnya semua persalinan pervaginam memang berisiko merobek vagina. Ambil contoh, meskipun ukuran bayinya pas dan kepalanya masuk panggul namun bagian luar vagina kaku, maka risiko robekannya menjadi lebih besar.

“Biasanya dokter kandungan akan melihat pada saat bersalin, jika ada kemungkinan bagian luar kaku atau bakal robek saat kepala bayi mendorong keluar, maka akan dilakukan episiotomi. Tindakan itu merobek vagina dengan sengaja agar bayi bisa lewat,” terang dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr Grace Valentine, Sp.OG saat ditemui Okezone dalam sebuah acara di kawasan Jakarta belum lama ini.

Menurut dr Grace, robekan jalan lahir terdiri atas empat grade. Grade 1 robekan masih terdapat di mukosa vagina. Pada grade 2 robekan sudah melebar hingga ke otot sfingter.

Lalu untuk grade 3, robekan sudah mencapai dinding dubur hingga merusak otot sfingter. Sedangkan untuk grade 4 persalinan, robekan sudah sampai mukosa dubur.

“Tentunya robekan jalan lahir pada grade 3 dan 4 harus dievaluasi lebih ketat. Sebab dampaknya terjadi pada saat setelah melahirkan nanti, risikonya enggak bisa buang air kecil atau buang air besar karena otot sfingter rusak,” jelas dr Grace.

 Perempuan melahirkan

Saat terjadi robekan, dokter memang akan melakukan perbaikan setelah persalinan. Perbaikan itu akan dievaluasi kembali setelah 40 hari dan 3 bulan.

Evaluasi berfungsi untuk melihat otot sfringter sudah kencang dengan baik atau belum. Lalu dokter juga bisa melakukan USG untuk melihat integritas dari otot karena memengaruhi persalinan berikutnya.

“Apabila penyembuhannya tidak baik, pasien disarankan untuk operasi caesar pada kehamilan berikutnya. Sebab apabila lahir normal lagi ototnya akan semakin rusak sehingga memengaruhi kualitas hidup,” ungkap dr Grace.

Ditambahkan olehnya, selain karena risiko robekan yang lebih tinggi, memaksakan bayi ukuran besar lahir secara normal dapat menyebabkan distosia bahu. Kondisi ini lebih berbahaya karena bisa menyebabkan kematian pada bayi.

“Biasanya dokter akan mengecek saat usia kehamilan ibu di 36 minggu. Apabila ukuran bayinya oke, kepala masuk panggul, bisa dilakukan persalinan normal. Tapi jika tidak disarankan operasi caesar,” pungkas dr Grace.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini