nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Maskapai Ini Berencana buat Penerbangan Terlama di Dunia, Sampai 19 Jam!

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 23 Agustus 2019 19:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 23 406 2095774 maskapai-ini-berencana-buat-penerbangan-terlama-di-dunia-sampai-19-jam-3X4cSCxQMX.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TRAVELLING telah menjadi gaya hidup banyak orang. Bahkan, mereka tidak hanya travelling lintas negara, tetapi juga lintas benua. Tapi, salah satu yang menjadi masalah adalah lamanya waktu penerbangan yang harus dihabiskan seseorang.

Agar mencapai lokasi yang berbeda benua, para pelancong perlu menempuh jarak yang tidak singkat. Bahkan, terkadang tidak cukup diselesaikan dalam satu kali penerbangan, sehingga membuat harga tiketnya melonjak.

Nah, salah satu perusahaan airlines ternama dunia, Qantas, seperti dilapor Newser berencana melakukan penerbangan pesawat komersial dengan kurun waktu selama 19 jam non-stop.

Adapun rute penerbangan yang dipilih, yakni Keberangkatan dari New York ke Sdyney kemudian lanjut ke London dan kembali lagi ke Sdyney.

alat teknologi ini juga akan mengukur reaksi tubuh terhadap tata cahaya dan inflight entertaiment di dalam pesawat baru Boeing 787-9.

Rencananya, penerbangan ini akan dimulai pada awal 2022 ini, dan akan menjadi penerbangan terlama di dunia, mengalahkan penerbangan New York-Singapura yang ditempuh selama 18 jam, dan London ke Perth yang memakan waktu sekitar 17 jam.

Sebagaimana dilaporkan The Guardian, perjalanan udara selama 19 jam non-stop ini memang masih diuji coba, guna mengetahui apakah tubuh manusia bisa bertahan dengan penerbangan selama itu.

Dalam perjalanan selama 19 jam itu, para awak kabin dan 40 orang penumpang peserta tes akan diberikan alat untuk mengukur tidur, makanan dan minuman yang diasup. Tidak hanya itu, alat teknologi ini juga akan mengukur reaksi tubuh terhadap tata cahaya dan inflight entertaiment di dalam pesawat baru Boeing 787-9.

Para peserta uji tes penerbangan hampir 20 jam ini sendiri mengaku cukup bersemangat dan penasaran untuk menjalani penerbangan lama ini.

“Jika kamu dapat bertahan selama 16 jam, mungkin juga kamu akan bisa bertahan selama 19 hingga 20 jam,” ujar salah seorang penumpang dengan rute terbang dari London ke Perth.

“Saya ingin menantang diri saya sendiri, saya pasti akan melakukannya satu kali,” ujar penumpang lainnya.

Para peserta uji tes penerbangan hampir 20 jam ini sendiri mengaku cukup bersemangat

Namun, mengingat perjalanan udara sifatnya bisa sulit diterima oleh tubuh, bahkan terkadang dapat menyebabkan terjadinya gumpalan darah hingga menginduksi vena dalam trombosis.

Nantinya di dalam uji tes penerbangan ini, para ilmuwan dari Monash University akan memonitor perubahan level melatonin para awak kabin dan mengukur gelombang data otak melalui alat electroencephalogram.

Jika berhasil, disebutkan maka penerbangan ini bisa memicu persaingan di antara rute long-range pesawat Boeing dan Airbus.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini