Kebiri Kimia Efeknya Ternyata Bikin Susah Ereksi

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 26 Agustus 2019 18:55 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 26 481 2096863 kebiri-kimia-efeknya-ternyata-bikin-susah-ereksi-HIXB1rg3J8.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Muh Aris Bin Syukur, pemuda 20 tahun asal Mojokerto, mendapatkan hukum kebiri kimia atas kasus kekerasan seksual yang dilakukannya. Dia akan mengalami banyak dampak dalam tubuhnya saat kebiri kimia itu dilakukan.

Menariknya, hukuman kebiri kimia yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, ini pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Walaupun wacananya dibuat sejak lama lewat undang-undang.

 Pria di ranjang

Dijelaskan oleh Spesialis Urologi Prof Dr dr Akmal Taher, SpU(K), dampak yang dialami dari seseorang yang dikebiri akan kehilangan hasrat sensualnya. Pelaku kejahatan seksual seperti Aris tersebut, akan mengalami susah ereksi hingga dampak yang lain.

"Saat dikebiri, kita harap dia agar tidak terlalu agresif, dengan menurunkan kadar testosteronnya. Dengan cara itu, kita harapkan dia tidak mengganggu juga," ucap Prof Akmal di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan, Senin (26/8/2019).

Prof Akmal menjelaskan, kebiri kimia dilakukan dengan cara menyuntikkan zat kimia anti-androgen ke bagian tubuh. Akan tetapi dampaknya tidak permanen alias seumur hidup.

"Kebiri kimia ini caranya disuntik, sebenarnya masih bisa balik. Tidak bisa hilang semuanya. Karena bukan testisnya dibuang agar sama sekali tak punya (hasrat seksual)," terang Staf Khusus Menteri Bidang Peningkatan Pelayanan Kesehatan itu.

Prof Akmal menambahkan, kebiri kimia ini dilakukan agar produksi hormon testosteron seseorang berkurang, sehingga gairah seksualnya menjadi tidak agresif.

Sementara itu, eksekusi kebiri kimia ini ternyata masih kontroversi di kalangan medis. Banyak tenaga medis yang menolak melakukan kebiri kimia karena dapat melanggar sumpah dokter ketika melakukan kebiri kimia.

Walau begitu, Prof Akmal pun tidak menyebutkan alternatif hukuman lain yang diberikan para predator seksual ini. Karena lewat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang 1 Tahun 2016, yang kemudian ditetapkan melalui Undang-Undang No 17 Tahun 2016 Pasal 81 ayat (6) dan (7).

"Tidak ada (alternatif lain). Itu sudah diputuskan oleh pengadilan dan berdasarkan hasil penelitian juga. Bahkan (kebiri kimia) itu sudah bisa mengurangi agresivitas," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini