nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Rahmi Tinggalkan Karier 10 Tahun di Bidang Swasta untuk Jadi PNS

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 28 Agustus 2019 23:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 08 28 196 2097903 cerita-rahmi-tinggalkan-karier-10-tahun-di-bidang-swasta-untuk-jadi-pns-ZeGr2FvSiv.jpg Rahmi Nuraini (Foto: Dok. pribadi)

Perjalanan menjadi pegawai negeri sipil (PNS) berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Ada yang harus tes berkali-kali untuk lolos, namun ada yang hanya sekali mencoba. Ada pula yang ingin menjadi PNS selepas kuliah, tapi ada yang baru menjadi PNS setelah sekian tahun bekerja di perusahaan swasta.

Kisah menjadi PNS datang dari Rahmi Nuraini. Saat ini dirinya telah menjadi CPNS Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman bagian Analis Humas dan Protokol. Kepada Okezone, dirinya mengaku sudah sempat bekerja di perusahaan swasta selama 8 tahun sebelum pada akhirnya memutuskan untuk bekerja di pemerintahan.

 Perempuan PNS

Sejak awal lulus kuliah Rahmi sebenarnya sudah diminta oleh orangtua untuk daftar menjadi PNS. Namun pada saat itu dirinya belum berminat. Perempuan kelahiran 13 Mei 1987 itu memutuskan untuk lebih dulu bekerja sebagai konsultan public relation di salah satu agency dan menjadi dosen bidang komunikasi di salah satu universitas swasta di Jakarta. Selain itu, dirinya pernah menjadi tenaga humas pemerintah (THP) di Sekretariat Kabinet dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

“Saya menjadi PNS itu karena dorongan dari keluarga dan teman-teman. Kebetulan saat itu saya bekerja sebagai THP di Kemenko PMK, lalu orang-orang di sana mengatakan ada lowongan. Ya sudah akhirnya saya daftar, ikutin tahapan seleksi, dan ternyata lolos,” tutur Rahmi sewaktu dihubungi Okezone melalui sambungan telefon baru-baru ini.

Pada saat dinyatakan lolos menjadi CPNS, jauh dalam lubuk hati Rahmi sebenarnya ada kebimbangan. Dirinya berpandangan, ketika sudah bekerja cukup lama di perusahaan swasta lalu harus memulai lagi dari awal untuk menyesuaikan diri itu tidaklah mudah. Terlebih di PNS tidak melihat pengalaman melainkan grade.

“Kalau baru daftar PNS itu ‘kan awalnya harus jadi staf, cuma saya enggak pengin startnya terlalu jauh. Jadi ambilnya (daftar lowongan) yang kualifikasi lulusan S2 sehingga lumayan ngirit setahun kalau dari segi birokrasi,” ucap Rahmi.

Meskipun sempat ada keraguan, di lain sisi dirinya merasa tertarik untuk menjadi PNS karena sebelumnya sudah bersinggungan dengan bidang pekerjaan tersebut sewaktu menjadi THP.

“Memang ada perbedaan ketika bekerja di pemerintah sebagai off sider dibanding menjadi insider yaitu PNS. Dulu saya suka penasaran ketika bekerja di beberapa instansi bagaimana caranya agar saran saya diterima karena meskipun bekerja di situ masih dianggap dari pihak luar. Saya pikir dengan menjadi PNS akan lebih mudah untuk saya memberi masukan kepada pemerintah,” papar Rahmi.

Perempuan PNS

Dia mengaku ketika masuk ke dunia pemerintahan sempat kaget dengan sistem kerjanya. Terlebih Rahmi awalnya bekerja di bidang hubungan masyarakat lalu kemudian bergabung menjadi protokol.

Tugas yang harus dikerjakannya otomatis jauh berbeda. Hingga kini Rahmi terus berusaha untuk menyesuaikan diri dan mengeksplorasi hal-hal yang bisa dilakukan guna memaksimalkan ilmu yang dimiliki.

Sementara itu, ketertarikan Rahmi untuk menjadi PNS juga dilatarbelakangi fokus pemerintah yang mendorong peningkatan sumber daya manusia (SDM). Baginya dengan menjadi pegawai pemerintahan ia punya kesempatan untuk mengembangkan karier lebih tinggi. Terlebih kementerian tempatnya bekerja memang sangat fokus terhadapn SDM.

“Dua bulan terakhir CPNS yang terpilih melalui seleksi, dileskan IELTS secara gratis dan bisa mengikuti tes. Apabila hasilnya baik, maka bisa mengikuti seleksi LPDP untuk kuliah lagi. Harapannya saya bisa lolos,” ujar Rahmi.

 Perempuan PNS

Belum lama ini, dirinya juga mengikuti Presidential Lecture 2019. Dalam program itu PNS ditantang untuk menjadi PNS Masa Kini yang terus meningkatkan kemampuan diri, menguasai teknologi, melek digital, dan terus berinovasi. Meskipun masih beradaptasi, Rahmi tetap semangat untuk program tersebut guna mengembangkan diri.

“Masalah dan tantangan yang dihadapi masing-masing orang boleh sama, tapi cara kita menghadapinyalah yang membedakan kita dengan yang lainnya. Kita juga harus bekerja dengan visi agar tidak mudah terbawa arus dan meningkatkan skill. Nasib kita ke depan akan ditentukan oleh apa yang kita lakukan sekarang,” pungkas Rahmi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini