nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BPJS Kesehatan Tak Kunjung Bayar, Pengusaha Alat Kesehatan: Kami Terancam Gulung Tikar

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 29 Agustus 2019 20:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 29 481 2098297 bpjs-kesehatan-tak-kunjung-bayar-pengusaha-alat-kesehatan-kami-terancam-gulung-tikar-qdzYnaKQSd.jpg Ilustrasi (Foto: Newyorktimes)

Defisit yang dialami Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan berdampak besar bagi Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab). Hal ini dibenarkan oleh Ketua Dewan Penasehat Gakeslab DKI Jakarta dan Banten, Surya Gunawan Widjaja.

Menurutnya, saat ini kompetisi dalam industri penyedia alat-alat kesehatan dan laboratorium semakin bertambah kuat. Sayang dalam penerapannya, para pengusaha ini dihadapkan dengan realita yang semakin sulit yang mendorong persaingan tidak sehat di antara penyedia alat kesehatan akibat minimnya keuntungan yang diperoleh dari BPJS Kesehatan.

Pasien rumah sakit

“Penyedia alat kesehatan dibebankan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang besarannya mencapai 20-30 persen. Alhasil kami harus memiliki modal setidaknya 120-130 persen untuk membiayai pesanan dari e-katalog,” tutur Surya dalam acara Gakeslab, Kamis (29/8/2019).

Tak hanya beban PIB, namun banyaknya fasyankes yang menunggak pembayaran dengan alasan dana BPJS Kesehatan yang tak kunjung cair termasuk pesanan pada 2017-2018 menjadi faktor lain yang sangat memperihatinkan.

Alhasil, risiko tersebut harus ditanggung seorang diri oleh penyedia alat kesehatan dengan sangat tidak manusiawi.

“Harga e-katalog yang semakin murah membuat kami sulit dalam membiayai gaji karyawan dan lain-lain. Akibat defisitnya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), rumah sakit tidak bisa membeli alat-alat kesehatan yang memadai dan membuat para pengusaha tidak mendapatkan order barang. Bahkan mulai dari 1 Agustus 2019 banyak pengusaha yang sudah tidak mendapatkan order,” lanjutnya.

Lebih lanjut Surya mengatakan ada sekira 300-400 perusahaan alat-alat kesehatan yang mengalami kerugian dalam masalah ini. Surya pun enggan menjelaskan secara rinci berapa besaran yang diperoleh oleh setiap perusahaan yang mengalami defisit. Namun dalam kasus ini, perusahaan miliknya mengalami kerugian mencapai Rp50 miliar.

“Kita ada 300-400 pengusaha. Tapi kalau untuk kami sendiri jika jadi ditotal bisa mencapai Rp50 miliar yang belum terbayar selama 2017-2018. Rumornya kita akan dibayar September sampai Desember 2019. Kalau sampai tidak di bayar kami masih untung walaupun sedikit, tapi masalahnya nggak ada uang yang masuk, gak ada cashflow. Sementara gaji karyawan dan biaya pabrik tetap berjalan. Banyak pula perusahaan yang tutup dan tidak berjalan lagi, dan memilih untuk pindah usaha,” tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini