Share

Kisah Wahyu Mendaki Gunung Lawu di Malam 1 Suro, Ngaku Dikawal Prajurit Kerajaan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Sabtu 31 Agustus 2019 00:07 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 30 612 2098675 kisah-wahyu-mendaki-gunung-lawu-di-malam-1-suro-ngaku-dikawal-prajurit-kerajaan-n66nZAz6hq.JPG Wahyu dan teman-temannya saat mendaki Gunung Lawu (Foto: Dok. pribadi)

Kabut putih dan awan mendung terlihat menyelimuti puncak Gunung Lawu. Namun hal tersebut tidak mengurungkan niat Wahyu dan keempat temannya untuk mendaki gunung tersebut. Apalagi kedatangan mereka bertepatan dengan momen malam 1 Suro.

Pada malam 1 Suro kawasan Gunung Lawu memang dipadati para pendaki maupun peziarah yang hendak melaksanakan berbagai ritual sesuai dengan kepercayaan mereka masing-masing.

Kepada Okezone, Wahyu mengaku bahwa pendakian kali ini terasa begitu spesial karena ia dan salah satu temannya, Eka, mendapat 'undangan khusus' dari sang penguasa Gunung Lawu.

Lahir dalam keturunan garis Resih Mayangkara atau dikenal dengan sebutan Hanoman, Wahyu memang dianugerahi sebuah kemampuan khusus. Ia juga bergabung dalam Paguyuban Kasepuhan Jawi Ngesti Budoyo.

 Para pendaki gunung

Tidak hanya itu, Eka yang menjadi satu-satunya pendaki wanita, ternyata masih memiliki garis keturunan ke-13 dari keluarga Raja Jayabaya.

Alhasil, selama proses pendakian berlangsung, Wahyu dan kawan-kawan mendapatkan banyak sekali pengalaman mistis yang mungkin bagi orang awam tidak bisa diterima nalar dan akal sehat. Dari sinilah kisah dimulai.

 

Dirasuki arwah korban kebakaran

 

Meski sudah berulang kali mendaki Gunung Lawu, untuk pendakian jelang malam 1 Suro pada 2017 silam, Wahyu memilih menggunakan jalur Cemoro Sewu. Jalur inilah yang diklaim paling aman, karena terdapat jalan setapak, serta beberapa warung makan untuk beristirahat.

 Para pendaki gunung

"Kalau naik dari Basecamp, Cemoro Sewu itu paling aman, bahkan buat yang mau mendaki sendiri juga dibolehkan. Karena waktu itu memang banyak peziarah lintas agama, seperti umat Hindu yang juga meyakini kepercayaan-kepercayaan tersebut," ungkap Wahyu saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Jumat (30/8/2019).

Meski aman untuk didaki, jalur Cemoro Sewu rupanya dikenal sebagai salah satu spot paling angker di Gunung Lawu. Terlebih setelah insiden kebakaran yang merenggut nyawa 7 pendaki beberapa tahun silam.

Benar saja, saat melintasi jalur tersebut, Eka yang memang paling peka dan bisa berinteraksi langsung dengan makhluk halus, tiba-tiba tidak bisa menahan beban di tubuhnya. Ia terjatuh dengan kondisi lemas dan menangis tersedu-sedu.

Merasa ada yang tidak beres, Wahyu langsung mendekati Eka untuk memberikan pertolongan. Kondisinya pada saat itu ternyata sudah dirasuki oleh arwah gentayangan di Gunung Lawu.

"Saya ajak ngobrol, mereka bilang 'panas-panas'. Dari situ saya sadar kalau Mbak Eka kerasukan arwah korban kebakaran. Saya cuma bisa bilang, saya dan yang lain akan bantu doain biar mereka tidak penasaran," ungkap Wahyu.

Mendengar ucapan Wahyu, Eka tiba-tiba muntah, pertanda bahwa para arwah gentayangan itu sudah keluar dari tubuhnya. Namun tak beberapa lama kemudian, suara Eka kembali berubah seperti suara seorang pria. Intonasinya terdengar sangat berat dan berbicara dalam bahasa Jawa halus.

Kali ini yang merasuki tubuh Eka adalah arwah eyangnya, Raja Jayabaya.

"Eyangnya masuk, dan langsung ngomong 'Sugeng Rahayu'. Gue yang pada saat itu lagi bikin teh, spontan menjawab 'Rahayu'. Terus dia berbicara bahasa Jawa halu, 'Putuku iki loro' (cucuku ini sedang sakit). Gue tau waktu itu Mbak Eka kondisinya kurang fit, dan terserang Hipotermia. Gue langsung minta maaf, dan eyangnya pamit," ujar Wahyu.

 Para pendaki gunung

Mimpi bertemu Raja Brawijaya

Saat malam tiba, Wahyu dan teman-temannya memutuskan untuk mendirikan tenda di depan warung Mbok Iyem. Mereka terpaksa memilih tempat tersebut, agar Eka bisa beristirahat dan melanjutkan perjalanan.

Di sinilah, salah satu teman Wahyu bernama Risman, turut mengalami sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Berbeda dengan Wahyu dan Eka yang bisa berinteraksi langsung, Risman justru bertemu dengan sesosok makhluk halus di dalam mimpinya.

"Si Risman malamnya mimpi seperti dituntun ke Sendang Derajat oleh sesosok pria berjubah. Terus dia mengatakan, 'Oh jadi kamu yang menemani cucuku naik gunung. Kamu mau minta apa le?'. Merasa kaget, Risman pun terbangun dari tidurnya. Dia baru sadar naik bukan sama orang biasa," terang Wahyu.

Pendakian pun dilanjutkan. Wahyu beserta rombongan menyambangi 4 spot ritual yang paling banyak didatangi peziarah yakni, Sumur Jolo Tundo, Sendang Drajat, Hargo Dalem, dan Hargo Dumilah.

Di tempat tersebut, Wahyu sebetulnya tidak ikut melakukan ritual. Ia hanya datang untuk sekadar berdoa dan kulo nuwun (permisi) dengan penghuni di tempat itu.

"Saya cuman sambat biasa saja dan berdoa. Karena memang kami datang untuk memenuhi 'undangan khusus'. Peziarah lain ada yang bermeditasi satu malem, berdiam diri, menyepi. Terus ada yang motong ayam hitam agar terpilih jadi kepala desa, ada yang mencari ilmu, dan ada yang mengulik sejarah," kata Wahyu.

 

Diikuti 11 jin dan bertemu Singa Lawu

Setelah sampai di puncak dan mengunjungi 4 spot ritual, Wahyu dan rombongan memutuskan untuk langsung menuruni gunung. Anehnya, setelah ritual malam 1 Suro selesai, cuaca di sekitaran Gunung Lawu mendadak cerah tak berkabut.

"Kami langsung turun lewat jalur Cemoro Kandang. Nah, di pos 4, temen saya ada yang mau kencing. Ya udah saya suruh permisi dulu. Terus temen saya yang namanya Abay, kayak kebablasan jalannya nggak sadar ada temen yang lagi berhenti. Saya teriakkin lah dia, tiba-tiba ada suara ngebas banget kayak suara singa. Ternyata itu Singa Lawu," beber Wahyu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, bahwa bentuk Singa Lawu menyerupai Singa Barong khas Bali. Pada saat itu, Wahyu mengaku badannya seketika langsung lemas dan ambruk. Kebetulan ia memang membawa keril 85 liter.

 Para pendaki gunung

Bisa dibilang, perjalanan menuruni Gunung Lawu jauh lebih menegangkan dibandingkan saat mendaki ke puncak. Pasalnya, semua rombongan turut menyaksikan secara langsung, pemandangan-pemandangan tak kasat mata.

Seperti yang dialami Risman, pria asal Solo ini baru berani buka mulut setelah melewati pos 4. Saat itu, dia lah yang mengambil alih barang bawaan Wahyu.

"Kata Risman, pas lagi bawa barang-barang bawaan saya, dia kayak lagi dikawal oleh pasukan kerajaan Eyang Brawijaya. Lalu ada sesosok pria yang menggunakan mahkota berbuntuk kucup di atas kepala. Akhirnya dia percaya dengan hal-hal seperti ini," ungkap Wahyu.

Di pos 2, Wahyu dan teman-temannya kembali mengalami kejadian mistis. Saat mereka melewati Kawah Candradimuka, salah satu temannya ternyata diikuti oleh 11 jin. Perjalanan terpaksa dihentikan karena dia tidak bisa bergerak sama sekali.

Untungnya, di tengah perjalanan, Wahyu bertemu dengan rombongan pendaki lain. Salah satunya kebetulan mempelajari ilmu tenaga dalam dan bisa menyembuhkan temannya.

Dikawal pasukan kerajaan

Kejadian-kejadian mistis ternyata masih berlangsung. Puncaknya, saat Wahyu dan rombongan hendak menuju pos 1. Kala itu, Eka yang memiliki riwayat lowback pain tiba-tiba jatuh terduduk. Mengingat langit sudah mulai menggelap, Abay dan Risman turun lebih dulu untuk mencari bantuan.

Sementara yang menemani Eka hanya ada Wahyu dan salah seorang temannya. Hembusan angin kencang dan rintik hujan, memaksa Wahyu untuk segera menandu Eka yang tidak bisa berjalan lagi.

"Mba Eka tiba-tiba dipanggil sama eyangnya, 'Nduk rene sikilmu loro, sini ta tiup sek ben iso jalan' (nak kakimu sakit, sini aku tiup biar bisa jalan lagi). Setelah kejadian itu, Mba Eka ngantuk dan pingsan. Saya tetap melanjutkan perjalanan dalam kondisi hujan," ungkap Wahyu.

Saat hendak memberi head lamp kepada Eka, Wahyu tersentak mendengar suara Eka yang lagi-lagi berubah menjadi suara pria. Benar saja, Eka rupanya sudah dirasuki oleh arwah eyangnya yakni, Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri.

Tubuhnya pun mendadak bisa berdiri dan berjalan lagi. Bahkan, saat ada gundakan tanah yang tinggi, Eka nekat melompat dengan posisi tubuh yang tegap sempurna.

"Jalur Cemoro Kandang itu kiri kanannya hutan. Konon banyak dilintasi macan dan babi hutan. Tapi waktu itu, saya terkejut melihat kondisi hutan di kiri kanan saya dipenuhi prajurit kerajaan. Mereka tidak mengenakan baju hanya pakai celana warna hijau bawa tombak dan perisak gitu. Jumlahnya kayak satu batalyon gitu, ceritanya kami lagi di kawal. Karena saya lagi nganter cucu raja," ucap Wahyu.

Setelah sampai di hutan pinus yang jaraknya dekat rumah basecamp. Eyang Jayabaya dan rombongan pun pamit.

"Sampe hutan pinus, dia ngomong gini, 'wes ngene wae'. Terus saya ucapkan terima kasih, dan Mbak Eka pun muntah. Waktu jalan ke basecamp ternyata kedua teman saya baru sampai juga, padahal mereka 1 jam lebih dulu dari saya," pungkasnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini