nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhat Dela, Penjual Pakaian Online yang Malah Dikirimi Foto Alat Kelamin

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Sabtu 31 Agustus 2019 16:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 31 612 2098992 curhat-dela-penjual-pakaian-online-yang-malah-dikirimi-foto-alat-kelamin-Zg8t8zgqbk.jpg Ilustrasi Pelecehan Seksual. (Foto: Shutterstock)

KASUS pelecehan seksual tidak hanya terjadi secara langsung atau di dunia nyata saja. Sejak berkembangnya teknologi dan kehadiran internet, kasus pelecehan seksual pun kini merambah ke dunia maya.

Tak terhitung sudah berapa banyak wanita yang menjadi korbannya. Para pelaku pelecehan pun tidak pernah kehabisan akal untuk melancarkan motifnya. Seperti yang dialami oleh Dela (bukan nama asli). Ia menjadi korban pelecehan seksual saat menjual barang-barang koleksi pribadi di salah satu e-commerce ternama.

Kepada Okezone, Dela menceritakan hal tersebut secara gamblang. Kejadiannya berlangsung pada awal tahun 2019. Seperti biasa, Dela menjual beberapa barang pre-loved yang sudah tidak lagi ia gunakan.

"Waktu itu aku jual beberapa pakaian seksi. Salah satunya tank top gitu. Terus tiba-tiba ada notif dari konsumen yang mau beli. Jadi ya aku tanggapi seperti biasa," ungkap Dela saat dihubugi Okezone via sambungan telepon.

sang pelaku tiba-tiba melayangkan sebuah permintaan yang menurutnya tidak masuk akal.

Pada awalnya, Dela tidak menaruh rasa curiga sedikit pun. Namun, saat proses tawar menawar berlangsung, sang pelaku tiba-tiba melayangkan sebuah permintaan yang menurutnya tidak masuk akal.

Pertama, ia meminta Dela untuk mengenakan tank top yang ia jual dengan alasan ingin melihat bentuk asli dari pakaian tersebut. Dela sempat menuruti permintaan itu, namun ia memakai pakaian dalam sebelum mengenakan tank top.

"Dia ternyata belum puas, maksa aku pakai tank top tanpa baju dalam. Dari situ aku mulai curiga, kenapa dia niat banget. Padahal akun yang membeli itu menggunakan foto wanita berhijab, dan cara chating-nya memang seperti wanita pada umumnya. Pakai sis-sis segala," ungkap Dela.

Sang pelaku ternyata tidak kehabisan akal, dia meminta nomor pribadi Dela karena hendak melakukan pembayaran. Dela pun mengiyakan. Saat itulah pelecehan seksual terjadi. Tak lama setelah Dela memberi nomor pribadinya, si pelaku nekat mengirimkan sebuah foto alat kelaminnya.

"Waktu aku kasih no pribadi, di whatsapp aku kasih foto yang sama. Tapi dia langsung kirim foto alat kelaminnya. Dari situ aku langsung blokir nomor pribadinya, dan melaporkan ke pihak e-commerce," jelas Dela.

Ia mengaku terkejut melihat motif pelecehan seksual yang semakin tak tertebak. Padahal, Dela sudah terbilang lama menjual barang-barang secara online di market place maupun e-commerce.

Padahal, Dela sudah terbilang lama menjual barang-barang secara online di market place maupun e-commerce.

"Baru kali ini aku mengalami pelecehan seksual secara online. Kejadian tersebut jadi membuka lebar pikiran ku bahwa sekarang, modus pelecehan seksual itu sudah semakin beragam," tegasnya.

Semenjak kasus pelecehan seksual itu, Dela sempat mengaku trauma dan lebih berhati-hati dalam memberikan identitas dan nomor pribadi kepada orang asing. Ia pun kini lebih selektif dalam menanggapi konsumen yang hendak membeli barang-barangnya.

"Aku jadi lebih hati-hati, ada penjual yang minta whatsapp aku enggak kasih lagi nomor pribadi. Terus akunnya juga harus verified. Kalau enggak terverifikasi dan enggak jelas aku langsung report," kata wanita yang berprofesi sebagai ahli gizi.

Beruntung bagi Dela, ia terbilang cukup open minded untuk urusan seperti ini. Ia tidak pernah ragu dan malu menceritakan kepada orang-orang di sekitarnya, tentang pengalaman buruk yang ia alami.

"Aku kasih tahu ke teman-teman kantorku karena mereka juga suka belanja dan jualan online. Aku tegaskan, 'it's not my fault'. Itu salahnya dari pihak sana yang sakit mental. Justru kejadian seperti ini harus dibagikan ke orang lain, agar mereka tidak mengalami hal yang sama," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini