nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ingin Resign dari Pekerjaan karena Tak Sesuai Passion, Perhatikan Hal Ini!

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Minggu 01 September 2019 15:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 01 196 2099276 ingin-resign-dari-pekerjaan-karena-tak-sesuai-passion-perhatikan-hal-ini-6gIpc1FcyR.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Bekerja di bidang yang merupakan passion tentu terasa lebih mudah. Namun ternyata banyak pula orang yang mengaku pekerjaannya saat ini tidaklah sesuai dengan passion. Akhirnya, keinginan resign dari pekerjaan tersebut semakin menggebu.

Keinginan untuk resign dari pekerjaan yang tidak sesuai passion ini tentu bisa dipahami. Dari penelitian yang dilakukan Indonesia Human Resources Forum pada 2017, diketahui 87 persen pelajar di Indonesia mengakui salah memilih jurusan yang ditempuh.

Sementara dari data Kementerian Tenaga Kerja di tahun 2017, terungkap 63 persen dari total lulusan baru di Indonesia bekerja di luar dari bidang yang mereka ambil semasa kuliah.

Kenyataan itu diperparah dengan laporan Wrong Majors Phenomenon yang mengungkapkan bahwa 653.586 lulusan baru terpaksa menganggur. Akhirnya, banyak yang mengambil pekerjaan meski di luar dari bidang yang mereka inginkan.

 Pria membawa barang kantor

Menurut Stephanie Wijanarko, Program Director VOOYA, semua hal itu berawal dari lalainya seorang individu untuk mengetahui minat dan bakat dirinya.

"Hal ini disebabkan beberapa faktor, pertama adalah ekspektasi orangtua yang cenderung memaksakan ambisinya kepada anak dan kurang memikirkan apa yang anak inginkan," ujar Stephanie dalam Inspiration Session bersama VOOYA di Jakarta, Sabtu, 31 Agustus 2019.

Kedua, adanya tekanan sosial yang memposisikan arti kesuksesan hanya dari sisi uang dan pencitraan. Hal ini membuat banyak pelajar yang mengambil keputusan kurang sesuai dan terburu-buru.

"Misalnya, mereka berpikir bahwa sedikit ketertarikan atau rasa menggebu-gebu terhadap sebuah bidang dapat langsung dianggap sebagai passion, padahal belum tentu. Bisa saja bidang tersebut saat itu lagi happening, sehingga mereka ikutan suka. Atau mereka benar-benar tertarik, tapi di sisi lain pura-pura nggak tahu kalau mereka nggak ada bakat sama sekali di bidang itu,” ungkap Stephanie.

Ketiga, lanjut Stephanie, sistem edukasi yang kurang memberikan pengarahan mengenai pentingnya mengetahui passion turut berperan. Di Indonesia, banyak yang hanya menginginkan para murid memiliki nilai yang bagus di semua pelajaran tanpa melihat minat mereka.

"Hal yang terakhir dan yang mungkin paling bisa dirasakan oleh generasi muda sekarang adalah keraguan atas diri sendiri dan generasi yang 'mager' alias malas gerak. Generasi yang malas untuk riset atau mencari tahu mengenai jurusan yang mau diambil atau bahkan profesi yang ingin digeluti," lanjut Stephanie.

Hal tersebut memungkinkan seseorang kemudian merasa tidak betah pada bidang yang dia geluti dan ingin resign dari pekerjaan.

 

Hal yang harus diperhatikan sebelum resign

Saat memutuskan untuk resign dari pekerjaan dengan alasan tidak sesuai passion. Jangan gegabah bertindak. Stephanie menyarankan untuk melakukan assessment terhadap diri sendiri, yakni mengetahui kemampuannya berdasarkan bukti-bukti.

"Sebelum memutuskan ganti profesi kita assessment diri sendiri. Apakah karena jenuh? Kita harus tahu. Kalau pindah seperti apa? Belum tentu setelah ganti profesi kita bakal happy. Harus tahu perencanaannya dulu," ujarnya.

 Talkshow

Perasaan jenuh tidak hanya menghampiri seseorang yang bekerja pada bidang yang tidak disukainya saja. Tapi hal itu bisa dirasakan oleh orang-orang yang telah bertahun-tahun bekerja sesuai passionnya.

Desainer Barli Asmara dan seorang diplomat, Dias Kinanthi juga pernah mengalami kejenuhan yang sama. Tapi mereka bisa keluar dari kejenuhan tersebut dengan cara masing-masing.

"Memang rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau. Saat jadi diplomat, saya sudah diingatkan harus siap 24/7. Tiap ada telefon harus dijawab. Lagi liburan harus siapkan bahan untuk Ibu Menlu. Kadang terasa lelah juga, tapi ini jalan yang saya pilih, jadi harus komitmen," ujar Dias yang juga adik kandung Andien Aisyah ini.

Begitu pula dengan Barli Asmara yang menyadari bahwa masalah bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Alih-alih memperbesar masalah, ia memilih untuk tidak berlarut-larut pada dramanya dan mencari solusi.

"Kalau ngomongin masalah nggak ada hentinya. Tapi aku sampai saat ini selalu bilang jangan diperbesar dramanya, tapi diperkecil supaya ada solusi. Dulu aku apapun mutusin sendiri. Sampai saat inipun aku harus memutuskan mana yang terbaik," ujarnya.

Barli sendiri mengaku sejak kecil terbiasa memutuskan jalan hidupnya sendiri. Ketika tidak ada orang lain yang bisa diandalkan, maka bertindak adalah satu-satunya pilihan yang membuatnya bisa memutuskan pilihan yang berguna untuk kelanjutan hidupnya.

"Kadang masalah dilupakan, akhirnya makin menumpuk," lanjut Barli.

"Jangan mengatakan kita tidak bisa. Cari tahu dulu, kita bisa cari di google dan riset. Jangan pernah bilang 'nggak bisa'. Itu kuncinya," tandas Barli.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini