nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhatan Uni Jadi Korban Pelecehan Seksual dari SD sampai Bekerja

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Minggu 01 September 2019 18:27 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 01 612 2099313 curhatan-uni-jadi-korban-pelecehan-seksual-dari-sd-sampai-bekerja-9wTKKBpa1a.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KASUS pelecehan seksual telah menjadi perhatian serius. Banyak sekali tindak pelecehan seksual yang dialami para wanita, namun mereka tidak berani untuk melawan maupun berbuat apa-apa. Seperti kisah seorang wanita cantik, sebut saja Uni.

Ia mengaku, pelecehan seksual telah diperoleh sejak dirinya masih kecil. Tepatnya ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Bahkan kekerasan seksual yang dia alami diperoleh dari orang yang berada di sekitar kehidupannya.

“Kasus pelecehan mah sudah dialami sejak SD. Pertama kali sama supir jemputan, dia buka rok terus pegang paha bahkan sampai ke bagian kemaluan. Tapi karena saya orangnya gak reaktif, mau teriak juga malu jadinya cuman kayak geser duduk saja,” terang Uni kepada Okezone, Minggu (1/9/2019).

Ternyata bukan hanya kali itu saja ia menerima pelecehan seksual dari sang supir jemputan. Wanita cantik ini juga pernah dipegang-pegang pipinya sekira kelas 5 SD. Tapi, kali ini Uni melaporkan aksi tersebut kepada ibunya.

sininya saya enggak berani ngadu lagi, takut dia emosi dan saya enggak boleh pergi-pergi lagi,” lanjutnya.

“Untuk kasus supir jemputan yang ngelus-ngelus pipi saya ngaduk ke ibu. Besoknya dia dimaki-maki sama ibu dan saya enggak boleh duduk di depan lagi. Ini karena ibu ngamuk banget dan ke sini-sininya saya enggak berani ngadu lagi, takut dia emosi dan saya enggak boleh pergi-pergi lagi,” lanjutnya.

Saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) kasus pelecehan seksual pun masih dirasakan oleh Uni. Pelecehan tersebut terjadi saat ia menaiki angkutan umum saat hendak berangkat ke sekolah. Uni mengaku dirinya pernah digerayangi oleh seorang penumpang pria saat duduk di kursi paling belakang.

“Pas SMP dilecehin di angkot ketika pagi-pagi mau berangkat ke sekolah. Saya duduk di angkot paling belakang terus ada cowo megang kaki saya mulai dari betis. Ketika sudah sampai ke dengkul saya langsung bereaksi dan turun dari angkot itu,” sambungnya.

Pelecehan seksual pun berlanjut pada waktu Uni kuliah. Ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari seorang pria yang merupakan penumpang Transjakarta. Kala itu penumpang pria ini berusaha mencari celah untuk dapat memegang payudara Uni yang duduk di hadapannya.

“Posisi bus penuh penumpang dan ada seorang pria yang berdiri di hadapan saya. Dia berusaha memegang payudara, saya pun berusaha menghindari menggunakan tangan meski pada akhirnya tersentuh juga. Tapi saya enggak bisa berbuat banyak karena posisi bus di jalan tol gak bisa turun dan sebelah saya pria juga,” ujar Uni.

Pelecehan seksual yang terakhir kali dialami Uni adalah saat dirinya hendak berangkat kerja setelah lulus kuliah. Menurutnya ini adalah pelecehan seksual yang paling parah, karena dengan sangat berani meremas bokongnya saat sedang berada di dalam bus.

karena dengan sangat berani meremas bokongnya saat sedang berada di dalam bus.

“Padahal posisinya kami terhalang oleh satu orang. Meski demikian, saya pun lagi-lagi tidak melawan ataupun berteriak. Yang bisa saya lakukan adalah pergi menjauh ke tempat yang lebih aman,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Uni mengaku memang tidak bisa bereaksi apa-apa ketika mendapat pelecehan seksual selama hidupnya. Ia mengatakan, rasa takut menjadi salah satu penyebab mengapa Uni selalu diam dan memilih untuk pergi menghindar ketika mendapat perlakuan tidak menyenangkan tersebut.

“Saya enggak berani ngelawan. Takut diikutin besok-besoknya dan malah di apa-apain. Jadi daripada lebih parah, mending kabur saja. Saya hanya bisa berzikir dan gak berani liat muka pelakunya,” terangnya.

Uni pun berpesan kepada semua orangtua, khususnya bagi yang memiliki anak perempuan untuk dibekali dengan edukasi tentang pelecehan seksual. Nantinya, pelajaran tersebut dapat berguna bagi sang anak, apabila sewaktu-waktu mengalami pelecehan seksual di tempat umum.

“Soalnya dulu waktu kecil saja semua orang boleh nyium. Jadi saya antara ngerasa dilecehin sama diisengin tanpa maksud atau dia memang enggak sengaja agak nyaru. Emang orangtua harus menjelaskan sih ke anak soal pelecehan seksual. Enggak boleh tabu,” tuntasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini