nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gizi Buruk dan Gizi Kurang di Kalbar Capai 23,8 Persen, di Atas Target Nasional

Dina Prihatini, Jurnalis · Senin 02 September 2019 21:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 02 481 2099845 gizi-buruk-dan-gizi-kurang-di-kalbar-capai-23-8-persen-di-atas-target-nasional-KCmk2RSjsl.jpeg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Berdasarkan hasil dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada Tahun 2018, gizi buruk dan gizi kurang pada bayi bawah lima tahun (Balita) di Kalimantan Barat capai angka 23,8 persen.

Dengan uraian angka gizi buruk mencapai 5,24 persen, gizi kurang 18,59 persen, total 23,8 persen di Kalbar di atas rata-rata nasional.

Angka tersebut masih tinggi bila dibandingkan dengan target RPJMN yang harusnya hanya mencapai 19 persen dengan uraian 3,9 persen dan gizi kurang 13,8 persen.

 Bayi

"Melalui aplikasi gizi buruk dan gizi kurang di Kalbar mencapai 19 persen. Angka itu sama dengan target RPJMN yakni 19 persen. Namun lebih rendah dibandingkan dengan batasan masalah prevalensi berdasarkan acuan dari WHO yakni 10 persen," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Harrison kepada Okezone diruang kerjanya di Pontianak, Senin (2/9/2019).

Menurutnya pencatatan gizi buruk yang dilakukan melalui Eletronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e- PPGBM), mencatat data sasaran individu dan penimbangan atau pengukuran sehingga bisa diketahui langsung bila ada balita yang bermasalah dengan status gizinya.

"Bahwa permasalahan gizi buruk tidak semata-mata berkaitan dengan faktor ekonomi. Kondisi gizi buruk lebih disebabkan kurangnya pengetahuan keluarga yang belum memahami pentingnya asupan gizi bagi anak," tuturnya.

Ia mengakui jika pihaknya selalu melatih bagaimana petugas gizi memberdayakan keluarga agar memahami bagaimana asupan makanan yang baik yang layak dikonsumsi sehingga cukup gizi bagi keluarga.

"Faktor lainnya disebabkan penyakit infeksi. Sementara penyakit itu sangat dipengaruhi kesehatan lingkungan," cetusnya.

Mantan Kadinkes Kabupaten Kapuas Hulu itu mencontohkan akses keluarga terhadap air bersih. Jika air bersih kurang, maka anak bisa rentan terkena penyakit.

"Misalnya terkena diare, jika sering sakit, maka anak itu bisa mengalami gizi kurang,” tegasnya.

Terkait kesehatan lingkungan, berkaitan dengan akses pada sanitasi terutama yang tidak baik juga bisa menjadi penyebab sumber penyakit. Ia pun mengakui daerah-daerah di Kalbar yang angka gizi buruk dan gizi kurang tinggi berkaitan dengan akses air bersih dan sanitasi yang belum baik.

“Sangat berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang tidak begitu baik, termasuk pola asuh anak,” katanya lagi.

Kembali dijelaskannya, pemerintah kabupaten/kota berperan sangat besar untuk memperbaiki kualitas air dan sanitasi.

"Meski demikian untuk pembangunan lingkungan yang sehat perlu kerjasama lintas sektoral. Jadi semua keroyokan untuk menurunkan angka itu,” paparnya.

Kepada Okezone, Gubernur Kalbar, Sutarmidji mengatakan jika pihak Kabupaten/Kota harus bersinergi melalui program menekan angka kematian ibu melahirkan dan balita.

"Daerah harus memperhatikan itu harus betul memperhatikan karena ini program dinas kesehatan harus menyelesaikan masalah seperti itu jangan buat program yang lain. Saya berharap stunting juga sinergi dengan pemberantasan gizi buruk ini," pungkas Bang Midji, panggilan akrab orang nomor satu di Kalbar itu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini