nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Minder dengan Ukuran Mr P Bisa Bikin Pria Alami Gangguan Mental

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 02 September 2019 22:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 02 485 2099831 minder-dengan-ukuran-mr-p-bisa-vikin-pria-alami-gangguan-mental-GdL6SkKZE2.jpg Ilustrasi (Foto: Thesun)

Ukuran Mr P terkadang menjadi sangat penting bagi sejumlah pria. Ada pria yang bangga apabila ukuran Mr P-nya di atas rata-rata. Sementara itu, ada pula yang merasa kurang percaya diri jika ukuran Mr P-nya dianggap terlalu kecil. Perasaan kurang percaya diri itu bisa menyebabkan penyakit mental yaitu penis dysmorphia.

Penis dysmorphia masuk kategori gangguan dismorfik tubuh atau body dysmorphic disorder (BDD) yang membuat penderitanya mengalami rasa cemas berlebihan terhadap kelemahan atau kekurangan dari penampilan fisik diri sendiri. Sama seperti dismorfik tubuh pada umumnya, pria yang terkena penis dysmorphia bisa sangat tertekan karena ukuran Mr P. Bahkan mereka bisa menghindar dari lingkungan sosialnya.

 Pria mengukur celana

“Pria yang menderita penis dysmorphia secara kompulsif mengukur diri mereka berulang kali, menghindari kencan, dan mempraktikkan teknik pembesaran Mr P di rumah atau bahkan mencoba operasi pembesaran,” ujar terapis seks, Stephen Snyder seperti yang Okezone kutip dari HuffPost, Senin (2/9/2019).

Pria yang mengalami penis dysmorphia tidak akan pernah puas dengan ukuran Mr P-nya walaupun mungkin telah melakukan operasi pembesaran. Bahkan meskipun mereka mendapat pujian dari pasangannya, hal itu cenderung diabaikan. Lantas, apa sebenarnya yang membuat pria mengalami gangguan mental ini?

Sebagian besar alasannya karena pornografi. Mereka bisa jadi terlalu banyak menonton atau melihat hal-hal berbau pornografi dimana banyak menunjukkan pria lain yang memiliki ukuran Mr P besar.

Fakta ini diperkuat oleh paparan urolog Aaron Spitz. Dalam bukunya ia mengatakan, sekira 40% pria yang datang ke kantor urologis untuk melakukan operasi pembesaran Mr P mengaku mendapatkan ide tersebut dari film porno. Padahal ukuran Mr P mereka normal.

"Masalah besar dengan pornografi adalah meskipun sebagian besar pria secara intuitif tahu ukuran Mr P di film tidak nyata, beberapa pria memiliki kerangka referensi lain untuk membandingkan dirinya dengan orang lain," ucap Spitz.

Dirinya menambahkan, pria sebaiknya berbicara dengan dokter atau terapis sebelum menjalani operasi pembesarab. Sebab secara umum apabila tubuh sehat dan berfungsi dengan baik, maka tidak ada alasan untuk melakukan operasi.

Terlebih pria yang memiliki penis dysmorphia sulit untuk diketahui karena mereka jarang mencari bantuan dari terapis mental.

"Pengamatan diri secara kompulsif dan pengukuran cenderung membuat kecemasan menjadi lebih buruk. Oleh karenanya sangat penting untuk mencari bantuan dari terapis. Hal yang paling penting adalah menerima ukuran bentuk tubuh dan menjaganya tetap sehat,” pungkas Spitz.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini