nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Meninggal Dunia dengan Harga Diri

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Kamis 05 September 2019 04:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 04 612 2100788 meninggal-dunia-dengan-harga-diri-DfpTHydgyG.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

"JADI kita akan belajar bagaimana cara meninggal tapi tetap mempertahankan harga diri". Penggalan kalimat dari salah satu staf Singapore International Foundation (SIF) tersebut memang cukup membuat alis saya terangkat. Apa maksudnya?

Rupanya tempat yang kami tuju, Asisi Hospice di Singapura, merupakan tempat untuk pengobatan paliatif. Lantas, apa itu pengobatan paliatif? Nah, secara umum pengobatan biasanya bertujuan untuk menyembuhkan penyakit, tapi perawatan paliatif memiliki tujuan yang sedikit berbeda.

Perawatan paliatif adalah perawatan yang diberikan kepada pasien yang menderita penyakit kronis dengan stadium lanjut, bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Peningkatan hidup dilakukan dengan cara pendekatan dari sisi psikologis, psikososial, mental serta spiritual pasien, sehingga membuat pasien lebih tenang, bahagia, serta nyaman ketika menjalani pengobatan, meskipun pada akhirnya pasien tersebut tetap akan meninggal.

Dengan kata lain, pengobatan paliatif adalah mempersiapkan pasien menghadapi kematiannya sendiri. Cukup terdengar tabu untuk orang Indonesia memang, karena siapa sih yang menginginkan anggota keluarganya meninggal? Tapi itulah kenyataan yang harus kita terima.

Cukup terdengar tabu untuk orang Indonesia memang, karena siapa sih yang menginginkan anggota keluarganya meninggal?

Lantas, bagaimana membuat mereka memiliki "harga diri" ketika meninggal? Nah, Head Communications and Community Engagement Asisi Hospice, Juliet Ng, menyebut bahwa kematian adalah hal yang tidak terhindarkan. Tapi yang menjadi masalah bukanlah penyesalan akan kematian itu sendiri, tetapi karena ketidakmampuan mereka.

"Masalah yang paling sering mereka katakan adalah, kenapa saya tidak berguna. Kenapa saya menjadi beban untuk keluarga?" jelas dia.

Nah, hal inilah yang kemudian akan ditanamkan pada orang-orang yang menderita sakit kronis tersebut. Dengan demikian, mereka akan lebih tenang dan menjalani sisa hidup dan tidak memiliki beban pikirian.

Juliet pun menekankan, pengobatan paliatif bukanlah cara untuk menyingkirkan orang yang memiliki sakit kronis, apalagi jika dibilang membuang uang. Menurutnya, orang-orang tersebut memang butuh penanganan ahli agar tidak merasakan sakit yang lebih parah.

"Jangan malah didiamkan. Sebagai contoh, kalau seorang ibu memiliki anak kecil, lalu ibu tersebut merasa kesakitan karena penyakitnya, maka hal itu akan membuat trauma pada sang anak. Akibatnya, psikologi anak tersebut akan tertekan," jelas dia.

Saat ini, hampir 75 persen pasien yang ikut merupakan penderita kanker stadium lanjut yang sangat sulit diobati. Berdasarkan data Asisi Hospice, sebanyak 27 persen dari pasien berusia 71-80 tahun, 25 persen berusia 81-90 tahun, 21 persen berusia 61-70 tahun, dan sebanyak 21 persen berusia 60 tahun ke bawah. Sedangkan 7 persen sisanya, berusia di atas 90 tahun.

Nah, untuk membantu para pasien tersebut, mereka pun memiliki perawat dan juga relawan yang mumpuni. Beroperasi dengan dana sekira 20 juta dolar Singapura per tahun, 60 persen dari biaya tersebut merupakan donasi, dengan 30 persen dari pemerintah, sisanya adalah "ongkos" dari para pasien yang dirawat, sebesar 10 dolar Singapura per hari, atau sekira Rp100 ribu.

Selain pengobatan, mereka pun akan diajarkan berbagai macam kegiatan, mulai dari menanam pohon sampai bermain berkelompok oleh para relawan.

Menurut Juliet, para relawan dan perawat yang menemani para pasien pun kerap mengalami kedekatan emosional dengan para pasiennya. Bahkan, ketika para pasiennya meninggal tidak jarang akan mengganggu mental para perawat.

Lantas bagaimana cara mereka berhadapan dengan kematian, terutama setelah mereka dekat dengan pasien? "Pertama, mereka selalu bekerja berkelompok dengan orang yang sama sepanjang waktu," katanya.

Bahkan, ketika para pasiennya meninggal tidak jarang akan mengganggu mental para perawat.

Jadi, ketika mereka merawat semua pasien, mereka pun akan mengadakan pertemuan medis, berdiskusi dengan dokter dengan pelayanan pastoral klinis, dan para pekerja sosial. Bahkan, tidak jarang konseling pun dibutuhkan ketika mereka berhadapan dengan kematian tersebut.

"Tentu mereka sangat emosional. Mereka akan menjadi emosional, terutama jika yang meninggal adalah anak kecil. Mereka akan menjadi sangat emosional," katanya.

Jika sudah begitu, para perawat tersebut pun bebas berkonsultasi dengan siapa pun yang mereka anggap bisa meringankan beban tersebut. Bahkan, jika mereka ingin berbicara dengan manager, mereka bisa langsung melakukannya.

"Tidak ada kita harus bicara hanya pada orang ini, tidak ada hal seperti itu. Bagi kami, ketika mereka menemukan orang yang Anda tepat, maka mereka bebas untuk meluapkan isi hatinya," jelas dia.

Manajer perawat pun berhak untuk mengajukan konseling terhadap perawat Junior kepada para penasihat. "Pekerja sosial kita sendiri, pun seorang profesional, konsultan yang berkualitas. Jadi sumber daya tak terbatas dan sumber daya eksternal tersedia untuk perawat kami," katanya.

Sayangnya, cara yang sama tidak bisa diterapkan untuk para relawan. Jika menyangkut para sukarelawan, maka hal yang paling pertama kali dilihat adalah mereka tidak mengizinkan anak kecil untuk merawat pasien, karena terlalu sulit. Mereka pun akan diberikan pelatihan satu setengah hari sebelum menjadi sukarelawan.

"Dan salah satu hal yang kami tekankah adalah apakah mereka bisa merawat diri sendiri? Jika mereka bisa merawat diri sendiri maka kami bisa meloloskannya," katanya.

"Nah, pernah ada kejadian, seorang wanita yang ingin menjadi sukarelawan. Tapi, ketika sesi wawancara tiba-tiba dia menangis. Jadi saya memberitahunya. Saya katakan, mungkin Anda harus kembali lagi lain kali," jelas Juliet.

"Karena salah satu keluarganya meninggal di sini. Dan dia ingin menjadi sukarelawan di sini. Tapi semua emosi itu kembali, dan dia mulai menangis ketika saya menceritakan kisah-kisah sedih tentang para pasien," tutur dia.

Mereka pun akan diberikan waktu istirahat hingga enam bulan, setelah menghadapi kejadian buruk tersebut. Yang pasti, konsultasi akan selalu diberikan pada mereka yang meminta.

Mereka pun akan diberikan waktu istirahat hingga enam bulan, setelah menghadapi kejadian buruk tersebut.

Satu hal yang juga dikembangkan untuk mendukung bagaimana dapat meninggal dengan harga diri, adalah program "Tidak Ada yang Meninggal Sendirian".

"Jadi tidak ada yang meninggal sendirian. Kami memiliki pasien yang tidak memiliki dukungan keluarga. Jadi ketika mereka meninggal, tidak ada orang yang datang menemani mereka," katanya.

"Jadi, yang dilakukan relawan adalah mereka menemani pasien ini, dan kira-kira pada 72 jam terakhir pasien atau 48 jam terakhir. Mereka berada di sisi para pasien, menemani mereka di saat-saat terakhirnya," tambah dia.

Menurutnya, perawatan paliatif selalu tentang bagaimana kehidupan dan kematian adalah hal yang normal. Ya, setiap orang pasti akan mengakhiri hidupnya, tapi apa yang bisa kita lakukan di akhir hidup adalah pilihan, mau pasrah atau meninggal dengan harga diri?

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini