nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

WHO: Setiap 40 Detik, Satu Orang Meninggal karena Bunuh Diri

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 11 September 2019 14:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 11 481 2103432 who-setiap-40-detik-satu-orang-meninggal-karena-bunuh-diri-a6S4cct3Hn.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan sebuah fakta mengejutkan. Hasil penilitian mereka menemukan bahwa setiap 40 detik, satu orang di seluruh dunia meninggal karena bunuh diri.

Dilansir Okezone dari Reuters, Rabu (11/9/2019), gantung diri, menenggak racun, dan menembak diri sendiri, menjadi metode bunuh diri paling banyak yang dilakukan para korban.

Oleh karena itu, WHO mengimbau para pemerintah agar segera merancang kebijakan pencegahan bunuh diri. Tujuannya adalah untuk membantu setiap orang mengatasi stres, sehingga bisa menurunkan akses untuk melakukan percobaan bunuh diri.

"Bunuh diri adalah masalah kesehatan publik global. Seluruh usia, jenis kelamin, dan berbagai wilayah di dunia terkena dampaknya. Setiap kematian, walaupun hanya satu orang itu sudah banyak," tulis pernyataan WHO.

 Orang tergeletak

Hasil penelitian menyebutkan bahwa bunuh diri adalah penyebab kematian tertinggi kedua yang dialami generasi muda dengan rentang usia antara 15-29 tahun.

Tidak hanya itu, setelah masalah proses melahirkan, para wanita muda berusia 15 - 19 tahun dilaporkan meninggal dunia karena bunuh diri. Sementara untuk remaja pria, bunuh diri menduduk posisi ketiga setelah kecelakaan di jalan raya dan kasus kekerasan.

Secara keseluruhan, hampir 800.000 orang meninggal dunia karena bunuh diri setiap tahunnya. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan kasus malaria, kanker payudara, peperangan, atau pembunuhan.

Kendati demikian, rate atau tingkat bunuh diri global sebetulnya mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini terjadi antara tahun 2010-2016 dengan persentase 9,8%, meski tidak merata.

Namun untuk region atau kawasan Amerika Serikat, WHO menyebutkan bahwa persentase bunuh diri negara tersebut mengalami peningkatan sebesar 6% antara 2010-2016.

Laporan itu juga menemukan bahwa kaum pria hampir tiga kali lebih dari kaum wanita yang mati karena bunuh diri. Kasus ini biasa terjadi di negara-negara maju. Berbeda dengan negara berkembang atau berpenghasilan rendah.

"Bunuh diri dapat dicegah," kata direktur jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

"Kami menyerukan semua negara untuk memasukkan strategi pencegahan bunuh diri yang telah terbukti ampuh. Strategi ini harus dimasukkan ke dalam program kesehatan dan pendidikan nasional," timpalnya.

WHO mengatakan, membatasi akses untuk membeli pestisida adalah salah satu cara paling efektif untuk mengurangi angka bunuh diri dengan cepat.

Pestisida umumnya digunakan pada industri pertanian, dan biasanya berakibat kematian karena sangat beracun. Racun ini tidak memiliki penangkal, dan sering digunakan di daerah terpencil karena tidak ada bantuan medis terdekat.

WHO merujuk pada penelitian di Sri Lanka, di mana larangan penggunaan pestisida telah menyebabkan penurunan bunuh diri sebanyak 70%, dan diperkirakan 93.000 nyawa diselamatkan antara 1995 dan 2015.

1
3

Berita Terkait

Bunuh diri

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini