nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bahan Baku yang Paling Dibutuhkan di Kedokteran Gigi Namun Masih Impor

Tiara Putri, Jurnalis · Sabtu 14 September 2019 11:09 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 14 481 2104761 bahan-baku-yang-paling-dibutuhkan-di-kedokteran-gigi-namun-masih-impor-zl83xfuPCv.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Hingga saat ini ketersediaan bahan baku dan alat kesehatan kedokteran gigi produksi dalam negeri belum cukup memadai di Indonesia. Akibatnya, untuk tetap memberikan pelayanan berkualitas kepada masyarakat, bahan baku dan alat tersebut masih harus diimpor. Secara jumlah, persentasenya terbilang besar.

Hanya kurang dari 10 persen bahan baku dan alat kesehatan yang diproduksi dalam negeri. Sisa 90 persen lainnya masih impor dari negara lain. Bahkan untuk bahan baku dan alat kesehatan yang sering digunakan oleh kedokteran gigi.

Diungkapkan oleh Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Dr. drg. Sri Hananto Seno, Sp. BM., MM., FICD, ada 3 masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi pada masyarakat Tanah Air. Ketiganya adalah gigi berlubang, gusi berdarah, dan karang gigi. Kendati demikian, bahan baku dan alat kesehatan untuk mengatasi masalah tersebut masih impor.

 Pria memeriksa gigi anak-anak

"Memang ada sih bahan tambal yang buatan Indonesia tapi jumlahnya juga masih sedikit. Begitu juga dengan bahan poles untuk karang gigi, ada yang diproduksi dalam negeri tapi enggak banyak," ujar dokter yang akrab disapa Seno itu saat ditemui Okezone dalam sebuah acara Jumat, 12 September 2019 di Jakarta.

Untuk alat kesehatan dr Seno menambahkan, ada beberapa alat scaler manual yang diproduksi dalam negeri. Sedangkan untuk fiber optik masih impor. Kemudian ada pula yang sudah memproduksi unit pemeriksaan gigi dalam negeri, namun dengan sedikit modifikasi. Artinya ada beberapa elemen yang masih mengimpor dari luar negeri karena tidak tersedia di Indonesia.

Lalu bahan baku dan alat kesehatan apalagi yang sangat dibutuhkan tapi masih diimpor? Pertama ada obat anestesi yang digunakan untuk mencabut gigi. Dahulu sempat ada obat anestesi yang diproduksi di Indonesia tapi hanya satu macam dan saat ini sudah ditinggalkan karena memiliki banyak efek samping.

"Di negara lain obat sudah ada versi baru yang merupakan turunannya. Kita sudah mencoba membuat, tapi tidak bisa digunakan karena tidak ada izin edar. Satu-satunya jalan dengan mengimpor karena obat itu lebih nyaman digunakan, minim efek samping, dan dokter juga sering memakainya," jelas dr Seno.

Kemudian ada bahan baku untuk tambal gigi. Perkembangan yang begitu pesat di industri kesehatan gigi membuat bahan tambal untuk gigi bermacam-macam. Dari yang tadinya hanya satu warna yaitu kuning, sekarang jumlahnya mencapai ratusan warna.

"Kalau jumlahnya sedikit, Indonesia mungkin bisa buat sendiri. Tapi karena banyak jadinya impor karena ternyata untuk menentukan warna saja itu macam-macam sekarang, teknologinya banyak sekali," ungkap dr Seno.

Bahan baku dan alat kesehatan lain yang masih diimpor tergantung dari daerahnya. Dikatakan oleh dr Seno, kalau di daerah perkotaan, bahan yang banyak diimpor berkaitan dengan estetika yaitu yang digunakan untuk bleaching, veneering, dan ortodontik.

Sedangkan kalau di daerah karena banyak permasalahan cabut gigi yang banyak diimpor adalah obat anestesi dan alat yang bagus untuk meredakan rasa nyeri.

"Sebenarnya impor boleh saja, tapi jangan ada beban pajak yang terlalu tinggi agar masyarakat juga membayar pelayanan dokter gigi terlalu mahal," pungkas dr Seno.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini