nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Punya Gigi Gingsul, Bahaya atau Tidak?

Tiara Putri, Jurnalis · Sabtu 14 September 2019 19:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 14 481 2104812 punya-gigi-gingsul-bahaya-atau-tidak-zU9XKnDrgO.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Tidak semua orang giginya tumbuh secara rapi dan teratur. Ada orang-orang yang giginya tumbuh berantakan, jarang-jarang, atau tumbuh tidak di tempat yang seharusnya seperti gigi gingsul. Terkadang kondisi-kondisi itu membuat orang yang mengalaminya menjadi tampil kurang percaya diri.

Namun sebagian besar orang yang memiliki gigi gingsul malah senang dengan kondisi itu. Sebab mereka, khususnya perempuan, menganggap gigi gingsul mempercantik wajahnya ketika senyum. Lantas, apa yang sebenarnya menyebabkan terjadinya gigi gingsul?

Menurut dokter spesialis gigi, drg. Diono Susilo, MPH, gigi gingsul terjadi karena faktor keturunan. Kondisi ini lebih sering terjadi pada anak-anak yang memiliki orangtua dengan ukuran tubuh tidak seimbang. Misal ayahnya bertubuh besar sedangkan ibunya bertubuh kecil, atau sebaliknya.

 Pasien dan dokter gigi

"Bisa dibayangkan ketika anaknya lahir ia memiliki rahang ibunya yang (ukuran) kecil. Tapi gigi yang tumbuh mengikuti gen dari ayahnya yang ukurannya besar-besar. Hal itu membuat tidak semua gigi mendapatkan tempat yang pas untuk tumbuh," jelas drg. Diono saat ditemui Okezone dalam sebuah acara, Jumat, 13 September 2019 di Jakarta.

Dirinya menambahkan, kondisi serupa bisa juga terjadi pada anak-anak yang tumbuh giginya jarang-jarang. Bisa jadi anak tersebut mewarisi ukuran rahang yang besar tapi gigi yang tumbuh ukurannya kecil. Beruntung kondisi-kondisi semacam ini bisa diatasi dengan cara melakukan pemasangan kawat gigi apabila mereka yang memilikinya merasa tidak nyaman.

"Perlu diingat jika gigi gingsul itu tidak berbahaya. Malah untuk sebagian orang, gigi gingsul dianggap bikin cantik. Tapi kalau sampai mengganggu pengunyahan, baru harus dilakukan tindakan," jelas drg. Diono.

Sebelum melakukan tindakan terhadap gigi gingsul, drg. Diono menekankan ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama fungsi pengunyahan makanan terganggu atau tidak.

Apabila ada gangguan, maka dilakukan perataan dengan penggunaan kawat gigi. Nantinya gigi belakang akan dicabut agar gigi gingsul bisa masuk sejajar dengan gigi lainnya.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah fungsi estetik. Beberapa orang ada yang merasa gigi gingsulnya malah membuat penampilannya kurang maksimal dan ukurannya tidak pas. Dikatakan drg. Diono hal itu bisa juga diperbaiki dengan pemasangan kawat gigi.

"Kalau tidak terganggu dengan fungsi pengunyahan atau merasa dengan gigi gingsul semakin cantik, silahkan dipertahankan. Tapi perlu diingat gigi gingsul itu bukan satu kelainan, tapi pencampuran gen antara orangtua," pungkas drg. Diono. (tam)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini