nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kabut Asap Makin Berbahaya, Dokter Khawatirkan Masyarakat Alami Hipoksia

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 16 September 2019 09:27 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 16 481 2105261 kabut-asap-makin-berbahaya-dokter-khawatirkan-masyarakat-alami-hipoksia-qRl20xxdTO.jpg Kabut asap bisa picu hipoksia (Foto: Neumonc3)

KABUT asap di Riau dan sebagian besar Kalimantan terus membahayakan. Masyarakat di wilayah tersebut semakin mengkhawatirkan kesehatannya. Terlebih, menurut beberapa sumber, sudah ada korban jiwa dari musibah ini.

Dalam pemberitaan di berbagai media, diketahui seorang bayi bernama Elsa Fitaloka di Palembang, meninggal dunia karena paparan kabut asap tersebut. Dia mengalami masalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Pemerintah terus didesak untuk mengatasi masalah ini. Netizen di media sosial yang terpapar pun terus mengabarkan kondisi terkini. Seperti yang terlihat di akun Twitter @Sabrina_Whd, di depan rumahnya kabut asap sudah mengepul tebal. Sabrina pun menjelaskan kalau napasnya sudah mulai sesak karena paparan asap tersebut.

Di sisi lain, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, mengkhawatirkan para korban terdampak asap ini akan penyakit hipoksia. Kondisi ini sangat mungkin terjadi pada korban dengan wilayah terpapar kabut asap yang sangat tebal dengan durasi panjang.

Hipoksia merupakan keadaan seseorang kekurangan oksigen yang dapat mengakibatkan permasalahan kesehatan pada organ-organ tubuh. Oksigen menjadi sangat penting karena di dalam tubuh, keseimbangan oksigen dijaga oleh sistem kardiovaskular dan sistem pernafasan. Jika oksigen kurang, maka sistem tersebut akan terganggu dan berakibat fatal.

Ilustrasi sesak napas

"Hipoksia seharusnya kita hindari apalagi pada orang yang sudah mempunyai permasalahan pada pembuluh darah, baik pada pembuluh darah otak maupun pembuluh darah jantung. Kadar oksigen yang rendah menyebabkan jantung akan mengalami penurunan suplai oksigen yang berat yang dapat menyebabkan terjadinya infark atau kematian jaringan," papar dr Ari pada Okezone, Senin (16/9/2019).

Dokter Ari melanjutkan, begitu pula pada orang yang sudah mempunyai permasalahan pembuluh darah otak, kekurangan oksigen dapat memperburuk kondisi pasien hingga mengakibatkan pasien tidak sadarkan diri.

Penelitian membuktikan, kondisi hipoksia sistematik kronik seperti dalam kasus paparan kabut asap itu dapat menyebabkan kerusakan pada hati, ginjal, jantung dan lambung.

Selain kondisi itu, menurut dr Ari berdasar hasil penelitiannya yang dilakukan 4 tahun lalu dengan judul "Relation between exposure of rainforest fire smoke and clinical complaints during Indonesia rainforest fire in September-October 2015", semakin lama terpapar asap, seseorang akan menyebabkan iritasi pada mata, batuk, sesak nafas, pilek, dan sakit tenggorokan. Kondisi akan semakin parah jika masyarakat hanya mengandalkan tisu sebagai alat pelindung diri, bukan masker.

Dalam menilai masalah ini, berapa persen penurunan kadar oksigen yang terjadi akibat asap yang menutupi Pekanbaru dan kota-kota lain di Indonesia menjadi poin penting yang harus diketahui. Hal ini harus dijawab terlebih dahulu sehingga bisa memprediksi terjadinya hipoksia pada masyarakat akibat dari turunya kadar oksigen dari udara tersebut.

Ilustrasi kondisi kebakaran hutan

"Komponen asap akibat kebakaran hutan juga harus dianalisa, sehingga dapat diprediksi dampaknya buat kesehatan," terangnya.

Akhirnya memang perlu penelitian lebih lanjut mengenai kandungan asap yang ada dan dampak penurunan kadar oksigen sehingga dampak pada masyarakat dapat diprediksi dan diantisipasi.

"Untuk sementara, masyarakat dianjurkan untuk tidak menghirup asap dengan proteksi semampunya dan mencegah untuk tidak berada di luar rumah saat jumlah asap masih tinggi," tambah dr Ari.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini