nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengagumi Karya Seni untuk Tunanetra, Ketika Kaum Difabel Diangkat Derajatnya

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Selasa 17 September 2019 03:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 16 612 2105642 mengagumi-karya-seni-untuk-tunanetra-ketika-kaum-difabel-diangkat-derajatnya-uEvKEYrZeZ.jpg Touch Collection milik Singapore Art Museum. (Foto: SIF)

DUA perempuan berdiri berbarengan dengan saya, ketika mendengar kereta jurusan Stasiun Kota akan segera tiba. Saya pun melepas headset dan bersiap menyambut kedatangan kereta tersebut.

Entah asyik bicara apa, tiba-tiba salah satu dari perempuan itu berkata: "Eh, ini gunanya apa sih?" sambil menunjuk jalur kuning dengan pola timbul itu. Temannya menjawab: "Itu untuk orang buta, buat nuntun mereka".

Si perempuan pertama kembali berkata: "Ih, ngapain sih buat kayak gini segala. Kan orang buta juga dituntun, enggak mungkin mereka jalan sendiri,". Tak lama kereta datang, percakapan mereka pun terhenti.

Lantas, dari dalam kereta itu keluar lah orang tunanetra memakai tongkat, kemudian berjalan menyusuri jalur kuning tersebut. Tanggapan si perempuan? Mereka cuek saja, dan masuk ke dalam kereta sambil ngobrol hal lainnya.

Tanggapan si perempuan? Mereka cuek saja, dan masuk ke dalam kereta sambil ngobrol hal lainnya.

Kejadian tersebut membuat ingatan saya kembali ke beberapa waktu silam. Kala itu, rekan-rekan di Singapore International Foundation (SIF) mengajak 6 wartawan Indonesia untuk mengunjungi Singapura. Alasannya? Mereka ingin menunjukkan sisi lain Singapura.

Salah satu yang membuat alis saya naik adalah ketika mereka mengatakan bahwa ada museum untuk orang buta. Buat apa? Benar itu juga yang tanyakan kepada mereka. Buat apa repot-repot membuat karya seni untuk orang buta? Tapi berbeda dengan di Indonesia, di Negeri Singa itu semua orang harus mendapat kesetaraan.

Lalu, bagaimana cara mereka menikmatinya? Nah, di Singapore Art Museum Touch Collection, tunanetra bisa menikmati seni kontemporer yang dipamerkan dengan cara merabanya. Tapi tidak hanya meraba, tapi mereka juga bisa mendengarkan penjelasannya lewat headset.

Ada tiga karya seni yang dibentuk ulang oleh Singapore Art Musemum, sehingga memudahkan para tunanetra untuk menikmati karya seni tersebut.

sehingga memudahkan para tunanetra untuk menikmati karya seni tersebut.

Pertama adalah patung pasukan perang berbaju zirah China karya seniman Justin Lee bertajuk East and West. Patung ini dibuat mini dengan tinggi sekira 50 cm, jauh lebih kecil dari ukuran aslinya.

Cara menikmatinya, tunanetra akan menggunakan headset untuk mendengarkan penjelasan mengenai detail patung dari audio. Sembari mendengarkan penjelasan, tunanetra memegang dan meraba patung untuk memahami bentuknya.

East and West sendiri, diberi nama untuk menggambarkan percampuran budaya yang terjadi di Singapura. Oleh karena itu, patung prajurit tersebut diberi headset di kepalanya dengan warna hitam putih, dan di bagian bawahnya diberikan aksara China, digabungkan dengan gambar pac man.

"Kenapa Pac Man?" Tanya saya kepada salah satu pegawai Singapore Art Museum tersebut. Dia pun menjawab, Pac Man dipilih karena merupakan kebudayaan yang amat populer di zamannya. Meskipun dibuat di Jepang pada Juli 1980, tapi Pac Man lebih populer di Amerika Utara saat masuk Oktober di tahun yang sama, hingga menjadi game terlaris saat itu.

Adapun seni kontemporer berikutnya, yakni berupa empat kotak persegi yang diibaratkan bagian dari ruangan rumah. Karya original seniman Tang Ling Nah berjudul An Other Space Within the House II memang berupa sebuah ruangan, dengan tangga spiral dan kursi.

Tapi khusus untuk para tunanetra, karya seni tersebut disulap menjadi kecil dengan printer 3D,

Tapi khusus untuk para tunanetra, karya seni tersebut disulap menjadi kecil dengan printer 3D, sehingga para tunanetra dapat merasakan perbedaan dan bentuk-bentuk ruangan, dimensi, serta tekstur.

"Orang berkebutuhan khusus juga bisa menikmati seni lewat Singapore Art Museum Touch Collection. Bagi yang melihat bisa mendapatkan pengalaman baru," kata Wang Tingting, Manager of Programmes Singapore Art Museum di Gallery of SAM Touch Collection, Singapura

Lantas, kenapa harus bersusah payah membuat tiruan kecil tersebut? "Karena banyak para penyandang disabilitas datang bersama keluarganya. Ketika dia mengetahui bagaimana karya seni itu, maka dia bisa ikut berdiskusi dengan anggota keluarga lainnya," jelas dia.

Sementara yang terakhir adalah media instalasi dari pipa tembaga yang dibentuk sedemikian rupa. Sama seperti dua karya sebelumnya, awalnya karya seni ini berukuran masif, namun diperkecil sesuai kebutuhan.

Media instalasi ini bisa menghasilkan nada karya Zulkifle Mahmod yang dibuat pada 2015 dengan judul Raising Spirits and Restoring Souls. Tapi khusus untuk karya seni untuk para tunanetra, maka lagu kebangsaan Singapura, Majulah Singapura yang didengungkan.

 Tapi khusus untuk karya seni untuk para tunanetra, maka lagu kebangsaan Singapura, Majulah Singapura yang didengungkan.

Bukan hanya untuk para tunanetra, Singapura juga memiliki fasilitas lain untuk para penyandang disabilitas. Agak miris memang, ketika Singapura berusaha untuk mensejajarkan para kaum difabel, di Indonesia mereka cenderung tidak mendapat tempat.

Sebagai contoh, ketika seseorang gagal menemukan benda yang dia cari atau ketika seorang pengendara kendaraan bermotor melakukan kesalahan, kita kerap berteriak: "Buta lo ya!!".

Sewajarnya, persepsi buta tidak sama dengan lalai atau melakukan hal bodoh, yang pada akhirnya dapat berujung pada perilaku cenderung merendahkan penyandang disabilitas netra.

Para pegiat disabilitas menyebut perilaku seperti ini ableism atau abilisme, yaitu diskriminasi atau prasangka sosial terhadap penyandang disabilitas. Memang, kebanyakan abilisme berakar dari kesalahpahaman atau bahkan niat baik.

Padahal, dengan kosa kata bahasa Indonesia yang sangat kaya, masyarakat bisa menggunakan kata lain yang dianggap lebih santun. Nah, mulai sekarang coba deh untuk lebih sopan dalam bertutur, sehingga tidak ada pihak yang tersakiti, meskipun maksud kita sebenarnya hanya bercanda.

Selain itu, ketika melihat rekan disabilitas jangan lah berpandangan merendahkan, meskipun sebenarnya maksud kita baik belum tentu mereka butuh untuk dikasihani. Bantulah mereka dan berikan akses bagi penyandang disabilitas, toh hal ini sudah diatur sesuai Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini