Cegah Autis dan Gangguan Mental, Ketahui Jarak Kelahiran Anak yang Aman

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 17 September 2019 18:45 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 17 481 2106046 cegah-autis-dan-gangguan-mental-ketahui-jarak-kelahiran-anak-yang-aman-3LeRFRQeFK.jpg Perhatikan jarak kelahiran yang aman anak pertama dan kedua (Foto : Newyorkfamily)

Ingin memiliki momongan adalah harapan banyak orangtua. Namun, perencanaan yang matang harus menjadi prioritas. Sebab, jika tidak memerhatikan jarak kelahiran yang aman antara anak pertama dan kedua bisa berdampak negatif, termasuk mengalami autis.

Seperti yang disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo. Dia mengimbau untuk memerhatikan jarak kelahiran anak yang aman. Hasto mengatakan, punya keturunan yang usianya tak jauh berbeda dalam beberapa penelitian disebutkan dapat meningkatkan risiko anak lahir autis.

Gambaran sederhananya seperti ini, anak pertama masih berusia satu tahun, lalu anak kedua hadir. Si anak pertama atau kakak belum maksimal pertumbuhannya dan orangtua sudah mesti mengurus anak kedua, ini akan memberi dampak pada sang adik.

"Jadi, berdasarkan penelitian, kasus autis anak kedua tinggi pada orangtua yang kehamilannya berdekatan dengan sebelumnya," kata Hasto dalam kunjungannya ke Puskesmas Sambungmacan 2, Sragen, Jawa Tengah, Selasa (17/9/2019).

ibu dan anak cium

"Secara explicited di Alquran dijelaskan batas memiliki anak berikutnya itu 30 bulan. Sedangkan, WHO memberi batas 33 bulan. Lantas, BKKBN bagaimana? Kalau orangtua itu bisa menekan kehamilan di antara 30-33 bulan, kami sudah sangat senang," jelasnya.

Selain risiko autis, usia anak berdekatan karena tidak memerhatikan jarak kelahiran juga bisa berisiko gangguan mental emosional. Jadi, si anak akan sangat moody dan jika ini sudah memengaruhi keseharian, tentu penanganan yang serius mesti dilakukan. Sebab, jika dibiarkan akan memberi dampak buruk di kemudian hari.

Kemudian, dalam masalah gangguan mental emosional ini juga ada yang dinamakan 'kleptomania'. Gangguan ini membuat anak menjadi lebih bahagia jika merenggut hak atau kesenangan orang lain.

Ibu dan anak senyum

Tidak hanya itu, dalam masalah ini juga ada yang dinamakan megalomania. Gangguan mental emosional ini akan membuat anak merasa dirinya adalah orang yang paling hebat daripada yang lainnya. Dia merasa kalau hanya dirinya yang patut dipuji karena kehebatannya.

"Masalah seperti ini sekarang bermunculan dan jika tidak dihentikan akan membuat generasi penerus tidak lagi berkualitas," tambahnya.

Di sisi lain, usia anak berdekatan juga menyebabkan masalah gangguan jiwa ringan. Kondisi ini bisa ditemukan pada anak-anak yang merasa dirinya selalu terpuruk dan tak berhak mendapatkan kebahagiaan.

Selain itu, masalah kecemasan yang disebabkan salah satunya karena lingkungan sosial juga menjadi gangguan lain. Jadi, si anak tidak merasa percaya diri dengan tubuh dan kepribadiannya.

Keluarga Kecil

Jika sudah mengalami ini dan menggangu keseharian, maka anak perlu mendapat penanganan yang serius, karena bisa berdampak serius di kemudian hari.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini