nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cukai Rokok Naik, Jumlah Perokok Pemula Diharap Berkurang

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 17 September 2019 20:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 17 481 2106092 cukai-rokok-naik-jumlah-perokok-pemula-diharap-berkurang-JiTuP4iMSA.jpg Cukai rokok naik diharapkan kurangi jumlah perokok pemula (Foto : Medicalnewstoday)

Mulai 1 Januari 2020, pemerintah resmi menaikkan cukai rokok dan harga jual eceran rokok. Untuk sisi kesehatan, banyak keuntungan yang didapatkan dari cukai rokok naik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menetapkan, cukai rokok naik hingga 23 persen. Juga dengan harga jual eceran rokok, ikut dinaikkan hingga 35 persen.

Kementerian Kesehatan mengapresiai upaya Kementerian Keuangan, karena telah sepakat menaikkan harga rokok ini. Kebijakan ini bahkan sangat dinantikan stakeholder bidang kesehatan sejak lama.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anung Sugihantono menyatakan, munculnya kebijakan ini menjadi salah satu bagian dari mengurangi jumlah perokok pemula dan perokok dari kalangan miskin. Upaya ini harus didukung penuh, agar masyarakat mengurangi belanja rokok setiap hari.

"Intinya bahwa kenaikan cukai rokok dan kenaikan harga eceran rokok ini tidak jadi satu-satunya cara. Tapi secara teoritis dan empiris, dianggap dapat mengurangi belanja seseorang terhadap rokok," ujar Anung di Gedung Kemenkes, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/9/2019).

potong rokok

Berdasarkan data riset terakhir, perokok pemula jumlahnya naik menjadi 9,2 persen dari 7,1 persen. Bahkan riset dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, anggaran belanja rokok untuk kelompok miskin itu peringkat dua.

Selain upaya tersebut, tambah Anung, ada juga beberapa aspek yang dapat membuat seseorang berhenti merokok. Seperti membatasi seseorang agar tidak mudah mendapat rokok, edukasi secara utuh terkait bahaya rokok, serta pengawasan norma masyarakat yang merokok di tempat umum.

Orang yang terbiasa merokok sangat memicu beberapa jenis kesakitan medis. Misalnya stroke, hipertensi, stroke, hingga stunting. Bahkan penyakit tidak menular tersebut mengabiskan dana besar BPJS Kesehatan.

"Tapi ini dampaknya dalam jangka panjang. Kami tetap bersikap bahwa cukai rokok naik jadi upaya meminimalisir dampak lainnya," ucapnya.

Berdasarkan data terakhir Kemenkes dihimpun dari BPJS Kesehatan, jumlah kasus yang terkait dengan rokok, tembakau yang mendapatkan layanan rawat jalan dan rawat inap sebanyak lebih dari 5.159.627 kasus dan biaya pengobatan yang dibutuhkan mencapai lebih dari Rp5,4 Triliyun.

berhenti merokok sekarang

Planning and Policy Specialist Center For Indonesia Strategic Development Initiative (CISDI) Yurdhina Meilissa mengatakan, prevalensi merokok di Indonesia salah satu yang tertinggi di dunia. Bahkan, jumlah perokok anak dan remaja tumbuh pesat.

Satu dari lima anak dan remaja mendominasi perokok muda di Indonesia. Anak-anak usia 10-14 tahun sudah banyak yang merokok. Menariknya lagi, kalangan perokok di usia produktif. Para pekerja usia 25-45 tahun sering membelanjakan rokok dari pendapatannya.

ayo jangan merokok

"Kebijakan ini (naiknya cukai dan harga eceran rokok) membantu pemerintah menurunkan jumlah perokok di Indonesia. Juga mudah-mudahan membantu defisit BPJS Kesehatan kita. Apalagi urusan rokok timbulkan lima penyakit tidak menular yang habiskan dana JKN besar," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini