nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kenaikan Cukai Rokok, Efektif Turunkan Jumlah Perokok di Indonesia?

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 18 September 2019 13:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 18 481 2106249 kenaikan-cukai-rokok-efektif-turukan-jumlah-perokok-di-indonesia-dKDJNvZIrt.jpeg Kenaikan cukai rokok efektif menurunkan jumlah perokok? (Foto: allaboutislam)

AWAL tahun 2020, pemerintah menetapkan kenaikan cukai rokok, serta naiknya harga eceran rokok. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan jumlah perokok di Indonesia.

Bahkan prevalensi merokok di Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Kalangan anak-anak, remaja hingga usia produktif sudah kecanduan rokok.

Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI Dr Abdillah Ahsan, SE MSE menjelaskan, rata-rata industri rokok memproduksi tiga jenis rokok. Yakni sigaret kretek mesin (SKM), sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret putih (ST). SKM golongan 1 pangsa pasarnya menguasai 63 persen dan harganya paling tinggi.

 Ilustrasi rokok

"Posisi paling kuat dari dulu SKM 1, apalagi menduduki 63 persen. Saat cukainya naik, maka kami mengusulkan memaksa pemerintah agar rokok SKM 1 naiknya harus paling tinggi. Naikkan harganya dua kali lipat untuk tarif cukainya," ucap Abdillah di Gedung Kemenkes, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa 17 September 2019.

Dia juga menyebutkan fakta bahwa 70 persen usia 25-45 tahun itu merokok. Rokok bahkan masuk ke dalam daftar belanja dari pengeluaran rutin, setelah belanja pangan untuk keluarganya.

 Ilustrasi merokok

Sampai-sampai di keluarga miskin, belanja rokok menduduki peringkat kedua setelah belanja beras. Sebagian malah ada orang yang mampu membeli rokok, tapi mengaku sulit membeli telur dan susu anak.

"Kebanyakan para pencari nafkah uangnya dipakai untuk merokok. Entah kategorinya kaya atau miskin, sampai ada uangnya dipakai beli rokok itu tidak bisa membeli telur dan susu anak," ungkap Abdillah.

Planning and Policy Specialist dari CISD Yurdhina Meilissa menuturkan, di Indonesia meningkatnya harga rokok secara bertahap, dianggap memberikan kesempatan yang cukup bagi konsumen untuk beradaptasi berhenti merokok. Termasuk di kalangan anak-anak dan keluarga miskin.

"Jika harga cukup mahal dan tarif cukainya tinggi, masyarakat akan sehat. Karena rokok semakin tidak terjangkau bagi anak-anak dan kalangan keluarga miskin. Otomatis prevalensi merokok bisa turun perlahan," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini