nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Benarkah Janur Kuning Layu Pertanda Pengantin Tak Perawan?

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 15:38 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 19 612 2106848 benarkah-janur-kuning-layu-pertanda-pengantin-tak-perawan-RpaQ2FQxVp.jpg Ilustrasi (Foto: Ist.)

Janur kuning adalah salah satu hiasan dekorasi yang sering ditemukan pada acara pernikahan. Terutama bila pengantin berasal dari tanah Jawa.

Namun janur kuning bukan hanya sekadar penghias dekorasi. Banyak makna tersirat di baliknya dan mitos yang mengikuti.

Melansir berbagai sumber, Kamis (19/9/2019) penamaan janur kuning memiliki harapan bagi calon pengantin. Menurut arti harfiah, janur berasal dari kata Jan yang berarti Jannah atau surga. Sedangkan nur memiliki arti cahaya. Apabila disatukan maka diartikan cahaya dari surga.

Lalu kata kuning dipercaya memiliki makna sabda dadi yaitu berharap semua perkataan baik bakal terwujud dan dihasilkan dari hati atau jiwa yang bening.

 Tangan laki-laki dan perempuan

Pemasangan janur kuning pada acara pernikahan, diharapkan dapat membuat kedua mempelai nantinya menempuh kehidupan yang tentram.

Janur kuning juga mengisyaratkan cita-cita mulia dan tinggi untuk menggapai cahaya Ilahi dengan hati yang bening. Selain itu, biasanya pada acara pernikahan ada 2 janur kuning yang dipasang.

Janur kuning yang berada di sisi kanan adalah simbol pengantin laki-laki. Sedangkan janur di sisi kiri adalah pengantin perempuan. Harapannya kedua pengantin selalu hidup berdampingan seperti janur yang dipasang berdekatan.

Di sisi lain, mitosnya janur kuning dapat memprediksi calon pengantin perawan dan perjaka atau tidak. Mitos ini dikenal dengan istilah tetenger.

Apabila dua janur kuning yang dipasang tidak layu hingga akhir acara pernikahan, maka kedua pengantin dikatakan masih perawan dan perjaka.

Sebaliknya, apabila ada salah satu janur yang layu atau bahkan kering sebelum pernikahan berakhir, maka ada pengantin yang sudah tidak perawan atau perjaka lagi.

Tapi sebenarnya janur memang memiliki kadar air yang tinggi. Sekadar informasi, janur berasal dari daun kelapa. Jika daun itu terpisah dari batang dan tidak mendapatkan cukup air dari akar, maka kadar air dalam daun akan menguap.

Hal inilah yang kemudian membuat janur bisa layu atau mengering dengan berubah warna menjadi kecoklatan.

Oleh karenanya, beberapa pengrajin janur kuning memiliki teknik tersendiri guna menyiasati janur tetap setar. Biasanya mereka menghindari teknik potong atau gunting sehingga tidak cepat berubah warna.

Siasat tersebut juga memiliki makna tersendiri loh. Konon, apabila janur dibuat dengan cara tidak dipotong atau digunting, maka calon pengantin dapat menghadapi berbagai persoalan hidup.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini