nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Ayu Rasakan Prosesi Siraman Mistis, Pantang Lihat Cermin!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 21:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 19 612 2106963 kisah-ayu-rasakan-prosesi-siraman-mistis-pantang-lihat-cermin-FxjT0ApGL7.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Pernikahan adat Jawa mengharuskan calon pengantin menyiapkan waktu yang banyak. Ini berkaitan dengan banyaknya 'ritual' yang mesti dilakukan sebelum akhirnya pengantin duduk di pelaminan. Salah satunya adalah prosesi siraman.

Prosesi siraman dilakukan sebelum malam Midodareni digelar. Dalam melakukan prosesi itu, calon pengantin akan didandani secantik mungkin, karena siraman diibaratkan menyucikan diri sebelum akhirnya calon pengantin memulai kehidupan baru.

Tapi, apa jadinya rangkaian siraman yang harusnya penuh kekusyu'an berubah menjadi perasaan tak tenang dikarenakan hal mistis. Itu yang dirasakan Ayu (nama samaran), dia mesti merasakan siraman yang penuh hal mistis. Berikut kisahnya berdasarkan penuturan Ayu.

 Laki-laki dan perempuan

Pernikahan saya dilangsungkan tahun ini, tepatnya di bulan Februari 2019. Singkat cerita, sebelum melakukan siraman, keluarga menggelar pengajian. Di momen itu saya didandani biasa saja. Setelah itu baru siraman dilakukan.

Karena itu bagian dari rangkaian pernikahan, jadi penampilan mesti diubah sesuai dengan ritualnya. Dan saat masuk ke sesi makeup siraman, saya merasa ada yang aneh. Ada unsur mistis yang saya rasakan.

Jadi, sebelum prosesi siraman, saya didandani dulu oleh dua perempuan, mereka ibu dan anak. Sebelum menyentuh wajah saya, mereka berdoa dulu, minta kelancaran.

Nah, si anak sih doa biasa, tapi si ibu tidak. Telinga saya mendengar jelas kalau si ibu semacam mengucap doa-doa khusus yang saya pun tak mengenalinya.

Seketika, setelah si ibu mengusap wajahnya tanda selesai berdoa, hawa kamar menjadi berbeda. Terasa adem dan itu berpengaruh pada tubuh saya.

Perlu diketahui, saya itu bertubuh gemuk dan sangat mudah sekali keringatan. Ngomong saja keringatan, apalagi berada di ruangan kecil tanpa pendingin ruangan, banyak perabotan pernikahan, dan pencahayaan tidak terang.

Nah, seketika kondisi itu tidak saya rasakan. Saya merasa sejuk. Tidak ada keringat yang keluar dari tubuh saya. Saya benar-benar merasa adem.

Sambil didandani, entah kenapa saya menyium bau banget bunga melati dan sumpah di kamar itu nggak ada bunga melati sama sekali. Agak bertanya-tanya sih saya, cuma lagi dan lagi, saya memilih diam dan merem saja.

Akhirnya proses makeup selesai. Saya pun melek dan sadar dengan cepat kalau si ibu dan anaknya yang mendandani saya keringatan banyak banget, sampai bajunya basah kuyup.

Keanehan lain yang saya rasakan adalah saya tidak diperkenankan untuk melihat cermin. Jadi, selama proses didandani, saya menghadap ke arah lain di sisi cermin. Si ibu yang meminta saya untuk tak melihat cermin.

Dalam hati, 'Kenapa tidak boleh? Saya mau lihat wajah saya sendiri?'. Tapi pikiran itu saya telan sendiri. Saya biarkan si ibu dengan 'ritualnya' ini melengkapi prosesi pernikahan saya.

Anehnya lagi, ruangan itu tak begitu banyak cahaya yang masuk, jadi jika dipikir secara logika, perias akan sulit untuk merias kliennya. Tapi, si ibu malah menolak adanya cahaya. Dia bahkan sampai menutup kamar dengan gorden agar tidak ada cahaya yang masuk.

Saya tanya si ibu, 'Ibu gerah banget? Mau pakai kipas angin?' Dengan lembut si ibu hanya bilang nggak apa-apa. Tapi, karena saya nggak tega, saya nyalakan kipas angin dan saya arahkan ke tubuhnya.

Meski kipas anginnya sudah mengarah ke si ibu, tidak tahu bagaimana tubuh si ibu tetap berkeringat banyak sekali. Di sisi lain, keringat saya tidak keluar satu biji pun. Benar-benar tidak ada keringat!

Makeup selesai dan seketika aroma melatinya pun hilang. Keanehan ini menjadi-jadi. Terlebih meski aroma melatinya hilang, ruangan masih terasa dingin di tubuh saya. Dinginnya semacam ada orang yang niup angin dari mulutnya ke leher bagian belakang. Begitu rasanya.

Saya buang semua pikiran aneh tersebut. Lalu, saya ganti baju ke pakaian siraman. Rangkaian bunga melati dikalungkan ke tubuh bagian atas saya. Kali ini benar ada aroma melati, karena memang ada bunganya di tubuh saya.

Tapi, wangi melati yang tercipta berbeda dengan wangi melati saat saya dirias. Lebih menyengat saat saya dirias.

Prosesi siraman pun berlangsung. Saya disiram dengan si ibu yang mendandani saya. Sebelum air itu dibanjur ke tubuh, lagi-lagi si ibu komat kamit mengucap kalimat yang saya tak bisa pahami.

Dan benar saja, ketika air itu menyentuh kulit, saya langsung menggigil sejadi-jadinya. Airnya yang berasal dari 7 mata air berbeda itu terasa sangat dingin di tubuh saya.

Saya meminta orangtua saya memegang airnya, apakah sedingin yang saya rasakan. Ternyata tidak. Hanya saya yang merasakan air itu begitu dingin.

Setelah siraman berlangsung, saya menyadari kalau situasi barusan adalah pertama kalinya saya merasa sangat kedinginan. Terlepas dari itu, saya langsung diberikan handuk dan saya disuruh untuk mandi biasa.

Sebelum akhirnya saya benar-benar pergi dari lokasi siraman, si ibu berucap pada saya dengan sangat lembut dan menatap wajah saya dengan mata tajam, "Sana mandi biasa, biar nggak ada yang nempel".

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini