nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Infeksi Jamur, Penyakit Kronik yang Kerap Dialami Orang Berdaya Tahan Tubuh Rendah

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 20 September 2019 20:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 20 481 2107459 infeksi-jamur-penyakit-kronik-yang-kerap-dialami-orang-berdaya-tahan-tubuh-rendah-GHCnM6xsob.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Infeksi jamur (mikosis) sering disebabkan oleh jamur di sekitar lingkungan. Dari jutaan spesies jamur yang ada di dunia, diperkirakan hanya ratusan spesies yang menyebabkan penyakit, antara lain: Candida, Aspergillus, Cryptoccus, dan masih banyak lagi.

DR. Dr. Anna Rozaliyani Mbiomed, Sp.P dari Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan, infeksi jamur paru biasanya menyerang individu yang memiliki daya tubuh rendah. Misalnya para pengidap HIV, pasien penyakit berat (pasien di ICU), penyakit kronik (diabetes, gagal ginjal, hingga penyakit paru kronik).

“Pada individu yang memiliki daya tahan tubuh baik, biasanya jamur tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Risiko lebih tinggi bagi mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah,” ujar Anna Rozaliyani dalam acara Pekan Kewaspadaan Penyakit Jamur, di Rumah PDPI, Jakarta Timur, Jumat (20/9/2019).

 Sakit kuku kaki

Untuk mengenal lebih jauh tentang infeksi jamur paru (mikosis paru), dan siapa saja yang paling berisiko terkena penyakit tersebut? Berikut Okezone rangkumkan ulasan lengkapnya.

Apa itu mikosis paru?

Mikosis paru adalah bagian dari mikosis sistemik berupa gangguan paru atau jalan napas yang disebabkan infeksi, kolonisasi jamur, atau reaksi hipersensitif terhadap jamur.

Jumlah kasusnya semakin meningkat, seiring bertambahnya jumlah pasien imunodefisiensi, pasien sakit berat, atau menderita kelainan paru kronik, termasuk penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), infeksi tuberkulosis (TB) paru, dan lain sebagainya.

 Rontgen

Tidak hanya itu, pasien asma yang tidak terkontrol dengan pengobatan standar, perlu juga diperiksa terhadap kemungkinan penyakit jamur alergi, yaitu allergi bronchopulmonary aspergillosis (ABPA) atau severa asthma with fungal sensitization (SAFS).

Infeksi jamur saat ini telah menjadi ancaman kesehatan global, mengingat peningkatan jumlah kasus yang signifikan. Hal itu sejalan dengan meningkatnya jumlah pasien yang memiliki faktor risiko akibat menurunya daya tahan tubuh karena berbagai penyakit.

 

Diperkirakan lebih dari 300 juta orang menderita infeksi jamur di seluruh dunia. Angka kematian karena infeksi jamur, dalam hal ini mikosis sistemik, dapat mencapai 40-100% karena diagnonis seringkali terlambat sehingga pengobatan juga tidak optimal.

Selain itu diperkirakan terdapat 5 juta kasus ABPA pada pasien asma yang sulit terkontol, dan terdapat 1,2 juta kasus aspergilosis paru kronik pada penderita TB paru di seluruh dunia.

Situasi infeksi jamur di Indonesia

Dokter Anna mengatakan, kondisi daerah tropis yang hangat dan lembap, merupakan kondisi ideal untuk pertumbuhan berbagai spesies jamur di Indonesia. Berdasarkan data WHO, Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah kasus TB paru terbanyak di dunia, dan diperkirakan jumlah pasien mikosis paru terkait TB juga cukup signifikan.

 Rontgen

“Menurut data kami, diperkirakan terdapat 17.561 pasien yang berpotensi mengalami aspergilosis paru kronik di Indonesia,” ungkap Anna.

Penyakit aspergilosis paru invasif pada 410 pasien sakit berat di ruang rawat intensi (ICU) telah dilaporkan sebanyak 7.65%. Infeksi jamur Candida pada perempuan yang mengalami keputihan diperkirakan sebanyak 4 juta kasus. Penyakit jamur pada mata, kulit, pasien HIV yang mengalami infeksi otak juga mulai dilaporkan. Tapi hingga saat ini datanya masih sangat terbatas.

Diagnosis infeksi jamur khususnya mikosis paru

Menurut Professor Dr. Anwar Jusuf, SpP(K), diagnosis infeksi jamur tidak mudah ditegakkan mengingat gejala dan tanda penyakit tersebut sulit dibedakan dengan infeksi bakteri maupun mikroorganisme lain. Di samping itu, kewaspadaan dokter pada umumnya belum terlalu memadai, serta fasilitas diagnostic juga masih terbatas dan belum terintegrasi.

Oleh karena itu, kunci utama keberhasilan penegakan diagnosis dini infeksi jamur adalah kecurigaan atau kewaspadaan dokter terhadap kemungkinan infeksi tersebut.

“Khususnya berdasarkan anamnesis faktor risiko dan penyakit dasar. Pasien yang mengalami batuk lama, sesak, nyeri dada, batuk darah, demam, atau kelesuan terutama dalam 3 bulan terakhir, hendaknya segera dicurigai kemungkinan terkena mikosis paru,” terang Anwar.

Diperlukan pula pemeriksaan laboratorium dengan teliti dan diinterpretasikan dengan sangat hati-hati. Hal ini karena jamur dapat ditemukan sebagai kontaminan, kolonisasi, ataupun penyebab infeksi. Pemeriksaan mikologi yang tepat dan lengkap dapat membantu penetapan diagnosis.

Sayangnya, hingga saat ini pemeriksaan mikologi belum ditanggung Badan Penyelenggara Jaminana Sosial Kesehatan (BPJS). Padahal pengobatan mikologi maupun pemeriksaannya menelan biaya yang tak sedikit.

“Pasien yang sudah terdiagnosis mikologi paru itu harus meminum obat khusus. Harga obatnya itu bisa sampai 1 juta per hari, dan mereka harus meminumnya selama berminggu-minggu. Jadi harganya tidak murah,” tukas Prof Dr. Anwar Jusuf, SpP (K).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini