nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pakai Teknik Sashiko, Upaya Desainer Kurangi Limbah Fashion

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Minggu 22 September 2019 13:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 22 194 2107856 pakai-teknik-sashiko-upaya-desainer-kurangi-limbah-fashion-YDpTvVpH1v.jpg Teknik Sashiko (Foto: Toast)

Pernahkah Anda membuang pakaian hanya karena baju atau celana tersebut robek? Memang robek pada bagian tertentu merusak pakaian. Namun ternyata Anda bisa membuatnya menjadi lebih bernilai lagi untuk dipakai kembali menggunakan teknik sashiko.

Teknik sashiko merupakan teknik menjahit dengan tangan dari Jepang yang cukup unik. Teknik ini menggabungkan dua atau lebih kain dan pola yang berbeda untuk menghasilkan sesuatu yang unik.

Teknik ini juga dimanfaatkan oleh para desainer yang fokus pada upaya mengurangi limbah fashion. Beberapa di antaranya adalah Anastasia Winanti, Wahyuningsih Wulandari, dan Retno Suminaringtyas.

 Pakaian denim

(Foto: honestlywtf)

Retno telah lama menggunakan teknik sashiko untuk memanfaatkan pakaian bekas menjadi pakaian baru dengan nilai yang berbeda. Ia terbiasa menyimpan berbagai jenis kain yang tidak lagi terpakai, kemudian akan memisahkan sesuai dengan jenisnya.

Salah satunya adalah kain katun berkualitas yang ia kumpulkan bertahun-tahun dari anggota keluarganya sendiri. Setelah terkumpul dan cukup untuk membuat sebuah pakaian, akan menjahitnya dengan teknik sashiko.

"Jadi teknik sashiko itu bisa untuk memperpanjang usia pakaian," ucap Retno dalam acara Modest Fashion Founders Fund (ModestFFFund) di Gandaria City, Jakarta Selatan, Sabtu, 21 September 2019.

 Pakaian denim

(Foto: iwearempathy/Instagram)

Berbeda dengan Retno, Anastasia Winanti menggunakan teknik sashiko untuk memanfaatkan pakaian-pakaian yang tak laku. Dalam upaya mengurangi limbah fashion, perempuan yang akrab disapa Anas ini membeli pakaian deadstock atau pakaian yang tidak terjual dari online shop.

"Aku mengambil stock online shop lain, yaitu barang yang susah dijual. Aku ambil barang itu, kemudian aku upcycling," terang Anas.

Saat ini ia hanya memilih pakaian berbahan denim dan mengombinasikannya dengan kain dan corak tertentu seperti batik menggunakan teknik sashiko. Menurutnya, kombinasi denim dengan perca batik juga dapat mengangkat nilai tradisional pada anak muda.

"Kalau denim banyak peminatnya. Dan karena bahannya paling awet. Aku nggak mau beli deadstock tapi jadi deadstock juga buat aku," ucap Anas.

Untuk membuat pakaian yang menampilkan nilai tradisional namun kekinian, Anas biasanya memadukan denim dengan batik dengan warna-warna yang disesuaikan. Untuk motif, ia mengatakan bisa menggunakan berbagai macam motif yang ada.

 Perempuan berdiri pakai tas

(Foto: iwearempathy/Instagram)

"Biasanya aku pelajari colou palette, warna biru cocoknya sama apa saja. Lalu aku pakai yang ada dan motifnya bisa apa saja," ungkapnya.

Upaya berbeda untuk mengurangi limbah fashion juga dilakukan oleh Wahyuningsih Wulandari. Desainer asal Solo ini memanfaatkan limbah-limbah fashion menjadi hasil karya yang bisa digunakan seperti tas.

Ide ini berawal dari keprihatinan Wulan melihat limbah konveksi kaus yang mencemari air sungai di sekitar rumahnya. Dari tujuh konveksi yang ada di sekitar rumahnya, satu konveksi saja bisa menghasilkan 80 kilogram limbah.

Kini Wulan berupaya untuk mengolah limbah-limbah menjadi sesuatu yang lebih berguna. Lebih bagusnya lagi, tidak mencemari lingkungan.

"80 kilogram per konveksi itu banyak sekali, kalau dikerjakan sendiri nggak bisa. Jadi kami buka workshop untuk ibu-ibu melakukan teknik rajut seperti ini," ujar Wulan.

Menurutnya, untuk menghasilkan satu tas, limbah yang digunakan tidak sampai 500 gram. Jadi untuk mengolah limbah 80 kilogram yang dihasilkan oleh satu konveksi saja, membutuhkan banyak orang.

Ia pun berpesan agar masyarakat dapat memanfaatkan pakaian bekasnya agar bisa digunakan kembali. Dengan langkah kecil ini, pencemaran lingkungan pun akan semakin berkurang jika dilakukan secara bersama-sama.

"Sisa pakaian itu jangan dibuang atau dibakar, karena efeknya ke bumi," pungkas Wulan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini