nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Anak Milenial Semakin Sering Berburu Batik Ready-To-Wear

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 24 September 2019 19:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 24 194 2108805 anak-milenial-semakin-sering-berburu-batik-ready-to-wear-ZSbFyE8Rjx.jpg Batik. (Foto: Okezone)

SEBAGAI salah satu budaya Indonesia, Batik telah ditetapkan sebagai warisan tak benda dari Indonesia oleh UNESCO 10 tahun lalu. Karenanya, masyarakat diajak untuk melestarikan batik, khususnya bagi anak muda.

Batik saat ini memang sudah melekat di berbagai kalangan. Tak melulu orang tua, kaum muda dan anak-anak juga mulai suka pakai batik.

Perwakilan Yayasan Batik Indonesia Meity Suntandi mengatakan, tak dapat dipungkiri anak muda senang pakai batik ready to wear. Tak melulu busananya saja, namun juga berbagai aksesori dari batik.

"Pengembangan Batik sekarang sangat luas. Anak muda mulai melek batik. Desainer juga tidak ragu kembangkan batik, sehingga cocok dipakai kaum muda. Batik itu tidak hanya sebatas pakaian, tapi juga aksesori, furniture dan lain-lain pakai batik," ujar Meity di sela Peresmian Pasar Batik Rakyat di Kementerian Perindustrian RI.

Khususnya buat anak muda jangan malu pakai batik karena sekarang bervariasi modelnya.

Direktur Jenderal Industri Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian RI Gati Wibawaningsih menambahkan, semua kalangan saat ini harus melestarikan batik. Khususnya buat anak muda jangan malu pakai batik karena sekarang bervariasi modelnya.

"Di dalam negeri sekarang anak muda mulai pakai batik. Dengan mengajak mereka pakai batik, industri kecil batik akan meningkat. Karena orang yang pakai batik tidak pernah salah kostum," ujar Gati.

Gati menambahkan, saat ini perajin batik di Indonesia jumlahnya sangat banyak. Selain itu, ada sekira 200.000 pelaku usaha yang masuk kategori industri kecil menengah.

Agar cocok dipakai berbagai kalangan, banyak desainer turun tangan yang menyesuaikan pasar. Tidak heran, saat ini banyak batik ready to wear, yang motifnya tidak hanya tradisional.

Tidak heran, saat ini banyak batik ready to wear, yang motifnya tidak hanya tradisional.

"Pelaku usaha ini harus didorong agar produksinya dilirik pasar. Beruntung sekarang hasil dari perajin batik itu dikawinkan dengan para desainer. Desainer cari pasarnya, lalu ordernya ke perajin," ucap Gati.

Gati menyebutkan, batik tidak hanya dilirik pasar lokal. Batik pun mulai diminati pasar mancanegara, kemudian diekspor ke berbagai negara.

"Ekspor batik masih terbatas hanya ke pasar negara tradisional seperti Amerika Serikat, Jepang dan beberapa negara di Eropa. Kalau kesukaan batiknya, pasar Amerika Serikat biasanya pilih batik yang terlalu banyak warna, biasa dua sampai tiga warna. Di segmen pasar tertentu sukanya batik tulis, kualitas premium," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini