nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Viral Orangtua Siswa di Jombang Tulis Surat Izin Nyeleneh, Ini Tanggapan Psikolog

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 24 September 2019 19:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 24 196 2108812 viral-orangtua-siswa-di-jombang-tulis-surat-izin-nyeleneh-ini-tanggapan-psikolog-tyt8roWYt7.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

Menulis surat izin saat anak tidak masuk sekolah adalah hal yang biasa dilakukan oleh orangtua. Tapi bagaimana jika orangtua memberikan alasan nyeleneh agar anaknya tidak masuk sekolah? Beberapa hari lalu beredar sebuah foto yang viral di sejumlah grup WhatsApp.

Foto tersebut menunjukkan gambar surat izin yang dituliskan oleh salah seorang orangtua siswa di salah satu sekolah di Jombang, Jawa Timur. Dalam surat orangtua mengatakan anaknya tidak bisa masuk sekolah karena menangis histeris ingin menonton karnaval. Tak sampai di situ, orangtua siswa tersebut juga menyalahkan penyelenggaraan karnaval yang bertepatan dengan jam sekolah.

Sontak saja hal itu menjadi perbincangan karena alasan orangtua siswa yang dianggap nyeleneh. Menurut psikolog anak dan remaja, Jane Cindy Linardi, M.Psi, CGA alasan seperti itu dapat membuat anak mengendalikan orangtua. Sebab bila dilihat, orangtua siswa tersebut menuruti keinginan anaknya untuk tidak masuk sekolah karena ingin menonton karnaval.

 Surat tulisan tangan

“Orangtua seharusnya dapat bertindak lebih tegas, peraturan tetap harus orangtua yang pegang kendali, bukan sebaliknya. Apabila terus dibiarkan dan orangtua mengikuti keinginan anak tanpa mempertimbangkan efeknya, lama-lama anak yang akan mengontrol orangtua,” ujar Jane saat dihubungi Okezone melalui pesan singkat, Selasa (24/9/2019).

Anak yang mengontrol orangtua bisa menjadi pribadi yang tidak taat aturan dan memiliki batasan dalam bertindak. Akibatnya anak bertindak semaunya tanpa menghiraukan peraturan atau kewajiban yang berlaku. Salah satunya tidak masuk sekolah dan meminta orangtua menuliskan surat izin dengan alasan apapun.

Kebiasaan untuk menghindari kewajiban seperti sekolah tentu berdampak buruk kepada anak. Oleh karenanya, sebelum anak sekolah, orangtua perlu menyampaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan kewajiban tersebut. Contohnya waktu bersekolah, entah itu waktu masuk, hari masuk, serta kondisi yang memungkinkan anak tidak masuk sekolah.

“Baik mulai sekolah di jenjang TK atau jenjang SD, anak harus tahu bahwa sekolah adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Kecuali saat anak sakit atau ada keadaan darurat, maka ada kemungkinan anak untuk tidak masuk sekolah,” papar Jane.

Ditekankan olehnya, peran orangtua adalah kunci penting bagi pembentukan sikap kedisiplinan anak terutama dalam menjalankan kewajiban seperti sekolah. Sebab ada orangtua yang bersikap menggampangkan agar anak tidak bersekolah. Perilaku itulah yang justru menjadi contoh yang akan ditiru oleh anak.

Sebagai contoh, ada orangtua yang menyampaikan kepada anaknya agar tidak bersekolah saat tidak ada yang mengantar atau telat bangun. Alasan ini dapat membuat anak di lain kesempatan memaksa tidak mau sekolah dengan alasan yang kurang dapat diterima atau nyeleneh. Kalau sudah begitu, orangtua bingung cara menghadapi anak.

“Padahal perilaku mereka di masa lampau lah yang justru menjadi contoh untuk ditiru oleh anaknya,” imbuh Jane.

 Anak sekolah

Psikolog yang berpraktik di RS Pondok Indah-Bintaro Jaya itu menyebutkan alasan-alasan yang masih bisa diterima untuk anak izin tidak masuk sekolah.

“Misalnya sakit, dirawat di rumah sakit, harus menjalani pemeriksaan kesehatan, bencana alam, ada kegiatan darurat seperti kerusuhan, atau kedukaan seperti anggota keluarga meninggal. Alasan-alasan ini masih bisa diterima,” pungkas Jane.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini