nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Kanker Prostat, Penyebab Kematian Ketiga bagi Laki-Laki di Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 24 September 2019 18:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 24 481 2108757 mengenal-kanker-prostat-penyebab-kematian-ketiga-bagi-laki-laki-di-indonesia-H7ylN0jtdR.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Kanker prostat kian mengintai masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Globocan 2018, kasus baru kanker yang terjadi pada tahun 2018 mencapai 348.809, di mana 11.361 di antaranya merupakan kasus kanker prostat.

Tidak hanya itu, angka kematian akibat kanker prostat di Indonesia juga terbilang tinggi mencapai 5.007 jiwa. Mengingat September merupakan bulan Kepedulian Kanker Prostat, Okezone akan mengulas sedikit banyak tentang kanker yang menduduki peringkat ketiga sebagai penyebab kematian bagi laki-laki di Indonesia.

Apa itu kanker prostat?

Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat dan paling umum terjadi di kalangan pria dewasa. Kanker prostat terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali.

 Laki-laki memegang organ intim

Seperti diketahui, prostat juga merupakan bagian dari sistem reproduksi pria dan berada di bawah kantung kemih. Sel kanker ini dapat bermetastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan kelenjar getah bening.

Metastasis ke tulang merupakan penyebaran yang paling sering ditemukan pada kanker prostat. Hal ini akan menyebabkan penderitaan yang amat sangat karena nyeri yang hebat.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. Dr. dr. Aru Sudoyo, SpPS, KHOM, FINASIM, FACP mengatakan, hingga saat ini gejala kanker prostat masih sangat sulit untuk dideteksi dan termasuk dalam kategori jenis kanker yang lambat. Satu-satunya cara untuk mengetahui penyakit ini adalah dengan melakukan deteksi dini.

"Kanker ini tidak selalu disertai pembesaran pada area kelamin laki-laki. Beberapa tanda umum kanker prostat biasanya dimulai dari sulit buang air kecil, hilangnya kontrol urin, gangguan ereksi, dan nyeri pada punggung serta dada", terang dr. Aru, saat ditemui dalam acara bertajuk 'Fight For Your Man' di Kantor YKI, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2019).

Siapa yang paling berisiko?

Lebih lanjut dr. Aru mengatakan, 90-95% kanker prostat sebetulnya datang dari individu masing-masing. Mulai dari faktor usia, ras, hormon, obesitas, polimorfisme genetik, gemar mengonsumsi makanan instan, pola hidup tidak sehat, serta kekurangan sinar matahari.

 Laki-laki memegang organ intim

Bagi mereka yang memiliki ras Asia Timur diklaim memiliki risiko lebih kecil terkena kanker prostat, dibanding mereka yang tinggal di Barat. Faktor lain yang memicu penyakit ini juga disebabkan oleh kurangnya vitamin D.

"Vitamin D itu selalu dikaitkan dengan sinar matahari. Jadi mereka yang kurang sinar matahari memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit autoimun dan kanker," ungkap Aru.

Data yang dikeluarkan oleh Yayasan Kanker Indonesia menyebutkan, satu di antara 354 laki-laki berusia 49 tahun menderita kanker prostat. Angka ini akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

Tak heran bila saat ini, kanker prostat menduduki peringkat ketiga sebagai penyebab kematian bagi laki-laki di Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan deteksi dini untuk menekan angka kematian.

"Pasien kanker prostat yang dideteksi secara dini, kemungkinan untuk bertahan hidupnya mencapai 99% untuk lima tahun ke depan. Tapi sayang, mayoritas pasien yang datang ke rumah sakit kebanyakan sudah berada di stadium 3-4," tukas dr. Aru.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini