Waspada Aneurisma, Penyakit Mematikan yang Menyerang Otak

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 24 September 2019 19:45 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 24 481 2108813 waspada-aneurisma-penyakit-mematikan-yang-menyerang-otak-58FNV4x8V8.jpg Waspada penyakit mematikan menyerang otak (Foto: Suncoastdaily)

JIKA bicara soal ragam penyakit mematikan, mungkin kebanyakan orang awam hanya terbesit penyakit jantung, diabetes atau kanker sebagai salah satu momok menakutkan. Padahal masih ada jenis penyakit mematikan lain.

Seperti kelainan pembuluh darah otak. Penyakit mematikan ini disebut aneurisma yang bahkan dikenal memiliki sebutan sebagai pembunuh tak bersuara, alias silent killer.

Aneurisma berasal dari bahasa Yunani, memiliki arti pelebaran. Ya, seperti namanya yang namanya aneurisma di otak atau aneurisma cerebral didefinisikan sebagai kondisi terjadinya pelebaran dinding pembuluh darah karena lemahnya struktur dinding pembulung darah.

 Otak

Aneurisma merupakan kelainan pembuluh darah otak yang apabila tidak diketahui sedari dini, dapat pecah sewaktu-waktu dan menyebabkan perdarahan otak, stroke, koma, hingga kematian. Maka dari itu, sangat penting untuk mengetahui apa-apa saja gejala dari penyakit mematikan satu ini.

Seperti dituturkan oleh dr. Rubiana Nurhayati, Sp. S, spesialis saraf dari RS Pondok Indah. Beberapa gejala aneurisma ialah, sakit kepala, gangguan penglihatan, mudah lupa, dan sulit konsentrasi. Kondisi tubuh yang sayangnya masih kerap kali diabaikan karena dianggap bukan ciri yang khas sebuah penyakit.

“Gejala sebelum pembuluh darah pecah itu, sakit kepala berulang dan di tempat yang sama dengan rasa berdenyut, baal atau kesemutan di satu sisi tubuh yang sifatnya hilang timbul, lalu misalnya sakit kepala di kanan kesemutan di sisi tubuh kiri,” jelas dr. Rubiana Nurhayati, Sp. S, saat dijumpai Okezone, Selasa (24/9/2019) dalam acara “Small Group Media Discussion RSPI ”Mengenal Aneurisma, Si Silent Killer” di Pakubuwono, Jakarta Selatan.

 Otak

Tetapi ditambahkan oleh dr. Rubiana Nurhayati, Sp. S, nyatanya kita harus lebih waspada terhadap kehadiran penyakit aneurisma ini. Pasalnya, tidak selamanya orang yang terkena penyakit ini mengalami gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas loh!

“Tapi harus diperhatikan, kadang-kadang tidak bergejala sama sekali. Aneurisma tanpa hipertensi bisa pecah saja gitu, tanpa penyebab apapun. Makin besar enggak perlu ada faktor pemicu apapun, bisa tahu-tahu pecah kapanpun,” tambah dr. Rubiana Nurhayati.

Nah, berdasarkan bentuk penyakit aneurisma dibagi dalam dua bentuk, aneurisma sakular yang paling sering terjadi, dan aneurisma fusiformis. Sedangkan jika berdasarkan ukuran kantung aneurisma, terbagi dalam empat kategori.

Pertama aneurisma kelompok sangat kecil, dengan diameter kurang dari 3 milimeter, lalu kelompok sedang berukuran diameter 7 hingga 14 millimeter, kelompok besar dengan diameter 14 sampai 24 milimeter, dan terakhir kelompok raksasa berukuran diameter lebih dari 25 milimeter.

Untuk penanganan aneurisma, sejauh ini ada tiga cara yang bisa dipilih. Mulai dari ‘Clipping’ yakni tindakan operasi penjepitan pembuluh darah dengan menggunakan alat clip atau penjepit berukuran 1 milimeter. Lalu ‘Coiling’ yakni pemasangan selang kateter dari pangkal paha sampai ke lokasi tempat terjadinya pelebaran pembuluh darah otak, dan terakhir dengan cara ‘Konservatif’ yaitu penanganan dengan bantuan obat-obatan dan perbaikan gaya hidup agar menjadi lifestyle yang lebih baik.

Biasanya opsi ini dilakukan saat tindakan clipping dan coil sulit dilakukan, misalnya karena pertimbangan usia pasien yang sudah sangat lanjut.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini